PUISI: black brothers,george telek,dan para penyanyi perjuangan papua.
Bagik
Kami yang kini terbaring antara Bumi Papua
tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi.
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan mendegap hati ?
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami.
Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa
Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan
Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan
atau tidak untuk apa-apa,
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Golihat tabuni
menjaga Yusak Pakage
menjaga Viktor yeimo
menjaga buktar tabuni
menjaga benni wenda
Kami sekarang mayat
Berikan kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian
Kenang, kenanglah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Bumi Papua
oleh jeki pekei
UNTUK MEMILIKI BUKU/2, &; MAJALAH,2 PAPUA KONTAK SAJA HP. 081392549876.SIAP ANTAR.
Tampilkan postingan dengan label kumpulan puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kumpulan puisi. Tampilkan semua postingan
Rabu, 30 Juni 2010
Sabtu, 08 Mei 2010
Bumi dan Lukisan Tak Kunjung Usai
Seorang perempuan berdiri di perempatan jalan,
matanya sayu menjelajah arah yang harus
ia tempuh, empat jiwa yang memanggil-
manggil, empat kehidupan yang bersumpah
sehidup semati, empat nafas satu hati,
empat angin satu tujuan, empat halusinasi
dan satu lukisan.
Seorang lelaki, di depannya membentang rimba
Enigma dalam selembar kanvas,
seseorang dengan rambut menjuntai, matanya
sayu tak mampu memerangkap dirinya sendiri
kabur ke empat arah menjadi empat nafas
tapi satu hati, tergantung di sebatang
akasia. Pucat mukanya, pucat jiwanya, dan bersama
tubuhnya, terkubur pula empat wanita
satu jiwa.
Senja itu, di sebentang dongeng.
matanya sayu menjelajah arah yang harus
ia tempuh, empat jiwa yang memanggil-
manggil, empat kehidupan yang bersumpah
sehidup semati, empat nafas satu hati,
empat angin satu tujuan, empat halusinasi
dan satu lukisan.
Seorang lelaki, di depannya membentang rimba
Enigma dalam selembar kanvas,
seseorang dengan rambut menjuntai, matanya
sayu tak mampu memerangkap dirinya sendiri
kabur ke empat arah menjadi empat nafas
tapi satu hati, tergantung di sebatang
akasia. Pucat mukanya, pucat jiwanya, dan bersama
tubuhnya, terkubur pula empat wanita
satu jiwa.
Senja itu, di sebentang dongeng.
Sistem Kepemilikan
Makan tidak makan bersama
asal kita berdua punya uang berjutajuta
bisalah kita belanja bersukaria
bahkan bisa membeli cinta
peribahasa bodoh yang harus aku dengar
bagaikan suara halilintar
berkumandang memekakkan telinga
dari mulut pemimpin negara sampai para
pelawak pemberontak yang tidak merubah apa apa
dan para pelajar yang
merasa dirinya benar benar pintar
kau kira siapa dirimu
bisa membeli hidupku yang rapuh
mengisi hari bekerja dan patuh
bukan menjadi manusia yang tangguh
aku kira siapa diriku mencoba setia dan tunduk padamu
dan kutanya sanggupkah diriku
membawa mimpiku ke dunia yang baru
mengubur mimpiku agar semua bisa makan
ini negara bodoh yang sangat aku bela
layaknya kekasih yang tercinta
tiap jengkal aku mendaki terasa hampa
sebetulnya apa yang kita miliki? tak ada
kebanggaan terhadap diri sendiri? tidak juga
kepemilikan negara ini?
siapa yang kucacimaki?
kamu dididik untuk bermimpi
kamu terbiasa dibohongi
kamu dihibur ikut bernyanyi
hey kamu miskin bodoh dan sombong
asal kita berdua punya uang berjutajuta
bisalah kita belanja bersukaria
bahkan bisa membeli cinta
peribahasa bodoh yang harus aku dengar
bagaikan suara halilintar
berkumandang memekakkan telinga
dari mulut pemimpin negara sampai para
pelawak pemberontak yang tidak merubah apa apa
dan para pelajar yang
merasa dirinya benar benar pintar
kau kira siapa dirimu
bisa membeli hidupku yang rapuh
mengisi hari bekerja dan patuh
bukan menjadi manusia yang tangguh
aku kira siapa diriku mencoba setia dan tunduk padamu
dan kutanya sanggupkah diriku
membawa mimpiku ke dunia yang baru
mengubur mimpiku agar semua bisa makan
ini negara bodoh yang sangat aku bela
layaknya kekasih yang tercinta
tiap jengkal aku mendaki terasa hampa
sebetulnya apa yang kita miliki? tak ada
kebanggaan terhadap diri sendiri? tidak juga
kepemilikan negara ini?
siapa yang kucacimaki?
kamu dididik untuk bermimpi
kamu terbiasa dibohongi
kamu dihibur ikut bernyanyi
hey kamu miskin bodoh dan sombong
Senin, 19 April 2010
JEJAK PERJALANAN
JEJAK PERJALANAN
detik demi detik ku melewati
menit demi menit ku melangkah
jam demi jam ku menahan lapar
sebatang kayu besi membawahku
dari kampung ke kampung
dari desa ke desa
dari kota ke kota
ku memandang kiri kanan jalan
Cuma lampu-lampu yang melambaikan
Mengucapkan ucapan salam
Kapankah ku tiba di istana Negara
Kariya yulius pekei, tanggal 5 April , 2010
detik demi detik ku melewati
menit demi menit ku melangkah
jam demi jam ku menahan lapar
sebatang kayu besi membawahku
dari kampung ke kampung
dari desa ke desa
dari kota ke kota
ku memandang kiri kanan jalan
Cuma lampu-lampu yang melambaikan
Mengucapkan ucapan salam
Kapankah ku tiba di istana Negara
Kariya yulius pekei, tanggal 5 April , 2010
KUPU-KUPU
KUPU-KUPU
Kupu-kupu menghingap
Di makota daun pada senjah hari
Ku memandan kedip-kedip sayap
Menghaturkan doa
Wahai enkau jadi gadis
Ku akan mengengamkanmu
Ku selalu memantau
Pada malam hari kemanaka engkau pergi
Sahabatmu Makota bunga
selalu melambai-lambai menantimu
bisahka engkau menemani pada malam hari
karya yulius pekei tanggal 5 April , 2010
Kupu-kupu menghingap
Di makota daun pada senjah hari
Ku memandan kedip-kedip sayap
Menghaturkan doa
Wahai enkau jadi gadis
Ku akan mengengamkanmu
Ku selalu memantau
Pada malam hari kemanaka engkau pergi
Sahabatmu Makota bunga
selalu melambai-lambai menantimu
bisahka engkau menemani pada malam hari
karya yulius pekei tanggal 5 April , 2010
RINDU MENGHANTUIKU
RINDU MENGHANTUIKU
Detik per detik ku menantimu
Menit per menit ku merindukanmu
Jam per jam ku menghayatimu
Hari per hari ku meneteskan air mata
Mingu per minggu menantimu
Bulan per bulan ku menahan rindu
Tahun per tahun ku selalu bayankan wajahmu
Wahai angrek mawar sejati
Kapankah engkau menunjukan mukamu
Ku hanya selalu ketemu lewat mimpi
Kapankah engkau menyembukan pedih dan perih ini.
Ku ucapkan hanya sepata kata salam,
Selamat jalan selamat menanti
Kariya yulius pekei tanggal 5 April 2010
Catatan: sajak diatas ini saya tulis pada tanggal 5 April 2010, puisi ini tulis pada saat perjalanan dari jokjakarta menuju Jakarta, dalam bis dambri itu saya melihat kiri kanan saya ternya orang, tak kenal semua. Karena kesunyianya sendiri, tiap detik saya menyedipkan mata karena mengantuk, tetapi malah saya membayang- bayangkan wajah, muka, sikap, adik perempuan yang meningal sejak saya duduk di bangku SMP kelas tiga.
Detik per detik ku menantimu
Menit per menit ku merindukanmu
Jam per jam ku menghayatimu
Hari per hari ku meneteskan air mata
Mingu per minggu menantimu
Bulan per bulan ku menahan rindu
Tahun per tahun ku selalu bayankan wajahmu
Wahai angrek mawar sejati
Kapankah engkau menunjukan mukamu
Ku hanya selalu ketemu lewat mimpi
Kapankah engkau menyembukan pedih dan perih ini.
Ku ucapkan hanya sepata kata salam,
Selamat jalan selamat menanti
Kariya yulius pekei tanggal 5 April 2010
Catatan: sajak diatas ini saya tulis pada tanggal 5 April 2010, puisi ini tulis pada saat perjalanan dari jokjakarta menuju Jakarta, dalam bis dambri itu saya melihat kiri kanan saya ternya orang, tak kenal semua. Karena kesunyianya sendiri, tiap detik saya menyedipkan mata karena mengantuk, tetapi malah saya membayang- bayangkan wajah, muka, sikap, adik perempuan yang meningal sejak saya duduk di bangku SMP kelas tiga.
Angrek Hitam
Angrek Hitam
Sekujur batangnya berduri tajam
Menusuk! Menggores!
Sekujur batangnya sosok nyeri
Bagi lunak dan sabar hati
Mawar hitam
Telah tumbuh dan berkembang
Diantara pepohonan di tenggah lading
Kita masih belum paham
( dua tanaman didekatnya terkulai satu
Tanaman lainya rontok lainya)
Sudah terlanjur membiarkan tumbuh
Tegak menopak kelopak hitam
Memuaja diri ditenga luka
Merasa tiada tersentuh angin kencang
( tanaman disekelilinya telah jadi perisai
Merintangi angin meremas kelopaknya)
Mawar hitam
Dalam tubuhnya mengalir tuba
Hidupnya telah meracuni mjiwa
Tapi siapa yang menebasnya
Yariya yulius pekei, 28 maret 20010
Sekujur batangnya berduri tajam
Menusuk! Menggores!
Sekujur batangnya sosok nyeri
Bagi lunak dan sabar hati
Mawar hitam
Telah tumbuh dan berkembang
Diantara pepohonan di tenggah lading
Kita masih belum paham
( dua tanaman didekatnya terkulai satu
Tanaman lainya rontok lainya)
Sudah terlanjur membiarkan tumbuh
Tegak menopak kelopak hitam
Memuaja diri ditenga luka
Merasa tiada tersentuh angin kencang
( tanaman disekelilinya telah jadi perisai
Merintangi angin meremas kelopaknya)
Mawar hitam
Dalam tubuhnya mengalir tuba
Hidupnya telah meracuni mjiwa
Tapi siapa yang menebasnya
Yariya yulius pekei, 28 maret 20010
Langit tak bening lagi
Langit tak bening lagi
Dari awal hinga akhir kelahiran
Telah terukir urutan kedudukan
Yang kemudian dikukuhkan alam
Dan terpateri selala-lamanya
Lalu dalam meniti hari
Sama merangsan esok
Sama merangsan esok
Sama layankan pandang ke angkasa
Sama gantungkan angan diantara bintang
Maka segala gerak untuk mewujutkan hasrat
Hingga segalah noktah batas di langgar
Demi tak siasikan upaya
Entah kapan semua itu berakhir
Kerenanya kebersamaan pun kini jadi sirkuit ambisi
Kariya yulius pekei tanggal 5 maret 2010
Dari awal hinga akhir kelahiran
Telah terukir urutan kedudukan
Yang kemudian dikukuhkan alam
Dan terpateri selala-lamanya
Lalu dalam meniti hari
Sama merangsan esok
Sama merangsan esok
Sama layankan pandang ke angkasa
Sama gantungkan angan diantara bintang
Maka segala gerak untuk mewujutkan hasrat
Hingga segalah noktah batas di langgar
Demi tak siasikan upaya
Entah kapan semua itu berakhir
Kerenanya kebersamaan pun kini jadi sirkuit ambisi
Kariya yulius pekei tanggal 5 maret 2010
Konpensasi
Konpensasi
Pada hari ini,
Dibaringkan segala suka dan duka
Juga kerinduan yang pekat dalam dada
Serta semua tanda Tanya di kepala
Yang tak terjawab sepanjang perjalanan
Di hari-hari kemarin
Biarlah semua itu tingal kenanggan
Yang akan sirna dengan sendirinya
Seiring waktu yang terus berputar
Dalam meniti hari-hari berikutnya
Sehingga gerak selanjutnya
Terpusat pada satu cahaya
Ditempu denga sepenuh daya.
Catatan: puisi di atas ini saya
Kariya yuliua pekei tanggal 12 februari 2010
Pada hari ini,
Dibaringkan segala suka dan duka
Juga kerinduan yang pekat dalam dada
Serta semua tanda Tanya di kepala
Yang tak terjawab sepanjang perjalanan
Di hari-hari kemarin
Biarlah semua itu tingal kenanggan
Yang akan sirna dengan sendirinya
Seiring waktu yang terus berputar
Dalam meniti hari-hari berikutnya
Sehingga gerak selanjutnya
Terpusat pada satu cahaya
Ditempu denga sepenuh daya.
Catatan: puisi di atas ini saya
Kariya yuliua pekei tanggal 12 februari 2010
Kamis, 25 Februari 2010
PUISI PERPISAHAN WISUDA
PUISI PERPISAHAN WISUDA
Tepat pada hari sabtu tanggal 7-11-09 pukul 05,00, acara bersama wisudawan/wisudawati, atas nama Longinus Pekei, Gerald Bidana , Yisai Gobai dan Veronica Goo, acara sukuran diselengarakan bersama di asrama papua kamasan dengan mengankat tema (Bersatu Untuk Papua , Satu Hari Untuk Papua). Dalam acara ini peserta yang hadir selururuh mahasiswa/mahasiswi papua dari merauke sampai sorong dengan memeriakan acara itu bersamaan dengan memperingati kematiannya teys eluwai toko ham internasional. Pada acara sukuran ini mewarnai berbagai has daerah seperti ,perhiasan musik tradisional, tarian adat papua, perhiasan pakayan adat, makan bersama masakan papua sering disebut sebagai barapen atau (baker batu) dan puisi-puisi. Puisi yang salah satunya dikarang oleh yulius pekei dengan mengangkat judul puisi (Tidak Ada Kebahagiaan Tampa Perjuangan, Perpisahan). Puisi berjudul diatas ini dibacakan di depen oleh pengarangnya. Puisi tersebut tertera selanjutnya lihat dan bacakan pusi dibawah ini lalu komentarlah sejauh kemampuanmu.
PUISI
TIDAK ADA KEBAHAGIAAN TAMPA PERJUANGAN
Kau angina barat.
Jangan menentil bangsaku,
Menista bahasaku
Menggarap tanah airku,
Sebab semua yang lahir,
Bertunas,
Hendak berdikari,
Kau binasakan.
Kini kami mulai sadar
Tidak mau lagi menghambur jiwa raga bagimu,
Kami tidak ingin memendamkan segalah pahit,pedih,peri,
Kami ungkapkan semuanya ke hadapanmu agar
Kamu memeriksa diri,
Segala yang tuan melakukan atas diri bangsaku
Kami tak yakin lagi kau harus berbakti
Di tanah airku
Kalau tuan hidup selamanya,
Mengapa kami diperbudak?
Diperas, ditindas dan dianiyaya?
ayo! Rekan-rekan
Serbulah dia serbu!
Kita tak perlu ragu-ragu
Ayo! Maju seribu kali
berkorban bagi tanah air
Kami Karena sekelompok penghasut dan pemberontak
Kami rela pendekar bangsa
Tenaga kami tidak cukup,
Kami tidak mengenal pasrah
Truskanlah semanggat
Patriotisme
Mengapa demikian?
Kami punggung utama Negara
Ini harus dikembangkan oleh seluruh lapisan masyarakat.
PERPISAHAN
Diantara deburan-deburan ombak
Awan-awan hitam, putih yang berlalu
Ribuan angin daratan gemuruh,
Kakku longgi pekei, Gerald bidana,veronica goo, yisai gobai
Demi, engkau berdiri tegak tegap
Untuk melawan arus-arus
Permainan alam manusia bermata sayu
Dan berkelopak mata tebal
Disinilah timbul kesan kami,adik,kakak, teman-mu
Besar jasa-jasamu
Besar kesetiaanmu
Besar pembinaanmu
Besar nasehatmu
Hai kakaku setia kawanan, dengan berat hati
Dengan perasaan sedih, kami mengantar
Kakak, kakaku ke ufuk timur
Karena disana kawanan domba burung-burung
Cenderawasi hitam, coklat,kuning,
Bercengkrama pada ranting-rangting pohon
Pala, sambil menari bersukaria
Menanti kedatangan kakak-kakak sekalian
Selamat jalan selamat berbisah,
Kasih Tuhan besertamu .
Tepat pada hari sabtu tanggal 7-11-09 pukul 05,00, acara bersama wisudawan/wisudawati, atas nama Longinus Pekei, Gerald Bidana , Yisai Gobai dan Veronica Goo, acara sukuran diselengarakan bersama di asrama papua kamasan dengan mengankat tema (Bersatu Untuk Papua , Satu Hari Untuk Papua). Dalam acara ini peserta yang hadir selururuh mahasiswa/mahasiswi papua dari merauke sampai sorong dengan memeriakan acara itu bersamaan dengan memperingati kematiannya teys eluwai toko ham internasional. Pada acara sukuran ini mewarnai berbagai has daerah seperti ,perhiasan musik tradisional, tarian adat papua, perhiasan pakayan adat, makan bersama masakan papua sering disebut sebagai barapen atau (baker batu) dan puisi-puisi. Puisi yang salah satunya dikarang oleh yulius pekei dengan mengangkat judul puisi (Tidak Ada Kebahagiaan Tampa Perjuangan, Perpisahan). Puisi berjudul diatas ini dibacakan di depen oleh pengarangnya. Puisi tersebut tertera selanjutnya lihat dan bacakan pusi dibawah ini lalu komentarlah sejauh kemampuanmu.
PUISI
TIDAK ADA KEBAHAGIAAN TAMPA PERJUANGAN
Kau angina barat.
Jangan menentil bangsaku,
Menista bahasaku
Menggarap tanah airku,
Sebab semua yang lahir,
Bertunas,
Hendak berdikari,
Kau binasakan.
Kini kami mulai sadar
Tidak mau lagi menghambur jiwa raga bagimu,
Kami tidak ingin memendamkan segalah pahit,pedih,peri,
Kami ungkapkan semuanya ke hadapanmu agar
Kamu memeriksa diri,
Segala yang tuan melakukan atas diri bangsaku
Kami tak yakin lagi kau harus berbakti
Di tanah airku
Kalau tuan hidup selamanya,
Mengapa kami diperbudak?
Diperas, ditindas dan dianiyaya?
ayo! Rekan-rekan
Serbulah dia serbu!
Kita tak perlu ragu-ragu
Ayo! Maju seribu kali
berkorban bagi tanah air
Kami Karena sekelompok penghasut dan pemberontak
Kami rela pendekar bangsa
Tenaga kami tidak cukup,
Kami tidak mengenal pasrah
Truskanlah semanggat
Patriotisme
Mengapa demikian?
Kami punggung utama Negara
Ini harus dikembangkan oleh seluruh lapisan masyarakat.
PERPISAHAN
Diantara deburan-deburan ombak
Awan-awan hitam, putih yang berlalu
Ribuan angin daratan gemuruh,
Kakku longgi pekei, Gerald bidana,veronica goo, yisai gobai
Demi, engkau berdiri tegak tegap
Untuk melawan arus-arus
Permainan alam manusia bermata sayu
Dan berkelopak mata tebal
Disinilah timbul kesan kami,adik,kakak, teman-mu
Besar jasa-jasamu
Besar kesetiaanmu
Besar pembinaanmu
Besar nasehatmu
Hai kakaku setia kawanan, dengan berat hati
Dengan perasaan sedih, kami mengantar
Kakak, kakaku ke ufuk timur
Karena disana kawanan domba burung-burung
Cenderawasi hitam, coklat,kuning,
Bercengkrama pada ranting-rangting pohon
Pala, sambil menari bersukaria
Menanti kedatangan kakak-kakak sekalian
Selamat jalan selamat berbisah,
Kasih Tuhan besertamu .
BUKAN SAYA: SEBUAH APOLOGI PALSU
BUKAN SAYA:
SEBUAH APOLOGI PALSU
Bukan aku yang datang ke rumahmu malam itu
Mengobrak-abrik isi kamarmu
Membakar kertas kerjamu
Menendang CPU, layar dan printermu
Menghajar tubuh gagahmu
Dan membantai keluargamu
Bukan aku yang menenmbaki teman-temanmu malam itu
Hanya karena tidak sejalan
Menatap curiga di setiap langkahku
Menghalangi proyek besarku
Bukan aku yang mengusir tetangga-tetangamu
Mereka saja yang tak betah di sini
Hidup harmoni bersama
Mendengar musik kesukaanku
Menari ikuti gerak baletku
Bukan aku yang menghancurkan gedung-gedung itu
Menjadikannya puing-puing
Menelan isinya dalam bumi
Memaksa burung cenderawasi pergi
Bukan aku yang melanggar janji itu
Hanya engkau yang tak mau mengerti
Dan semua jadi beggini
Bukan aku yang melakukan semua itu
Bukan aku yang kau tuduh itu
Aku hanya boneka
Bergerak ke mana ia suka
Bukan aku yang menyelang seribu orang
Hanya akulah pengikut ekormu
Kapankah engkau memberi waktu untuk jadi kepala
Aku menunggu bagaikan ayahku
Yang ada dalam sangkar mayat
Sudah pulang sejak 16 desember 2009
Oleh YUMMY AMOYE KEBADABY
Yang baca kumpulan puisi ini tolong komentar lewat alamat email- yykebadabi@yahoo.com
SEBUAH APOLOGI PALSU
Bukan aku yang datang ke rumahmu malam itu
Mengobrak-abrik isi kamarmu
Membakar kertas kerjamu
Menendang CPU, layar dan printermu
Menghajar tubuh gagahmu
Dan membantai keluargamu
Bukan aku yang menenmbaki teman-temanmu malam itu
Hanya karena tidak sejalan
Menatap curiga di setiap langkahku
Menghalangi proyek besarku
Bukan aku yang mengusir tetangga-tetangamu
Mereka saja yang tak betah di sini
Hidup harmoni bersama
Mendengar musik kesukaanku
Menari ikuti gerak baletku
Bukan aku yang menghancurkan gedung-gedung itu
Menjadikannya puing-puing
Menelan isinya dalam bumi
Memaksa burung cenderawasi pergi
Bukan aku yang melanggar janji itu
Hanya engkau yang tak mau mengerti
Dan semua jadi beggini
Bukan aku yang melakukan semua itu
Bukan aku yang kau tuduh itu
Aku hanya boneka
Bergerak ke mana ia suka
Bukan aku yang menyelang seribu orang
Hanya akulah pengikut ekormu
Kapankah engkau memberi waktu untuk jadi kepala
Aku menunggu bagaikan ayahku
Yang ada dalam sangkar mayat
Sudah pulang sejak 16 desember 2009
Oleh YUMMY AMOYE KEBADABY
Yang baca kumpulan puisi ini tolong komentar lewat alamat email- yykebadabi@yahoo.com
PUISI Yang terhormat: Panglima satuan gabungan Densus 88 dan Brimob, sdi_ Sangkar Muka Bumi’
PUISI
Yang terhormat:
Panglima satuan gabungan Densus 88 dan Brimob,
Di_ Sangkar Muka Bumi’
Atas nama kemanusiaan
Surat ini ditulis untuk panglima
Atas nama solidaritas
Surat ini saya persembahkan buat panglima
Atas nama nurani
Surat ini tak punya pamrih
Panglima…
Marilah sejenak kita merenung
Apakah manusia dicipta untuk dianiaya
Apakah manusia untuk dibelenggu haknya
Bukankah manusia mendambakan kedamaian dan keamanan
Menginginkan rasa aman dan ketenangan
Mengimpikan harmoni dan ketentraman?
Panglima…
Saya ajak anda sebentar untuk berpikir
Bijakkah kita mengambil hak orang lain
Relakah kita jika milik kita dirampas
Sudikah kita diusir dari rumah kita sendiri
Apakah anda tahu siapa orang serakah…?!
Tahukah anda dengan istilah penjajah….?!
Panglima…
Lihatlah di sekitar anda
Mayat-mayat yang berjalan
Tangis bayi yang tak lagi nyaring
Darah-darah yang mengering
Nenek-nenek seketika menjadi tua
menghancurkan harapan bangsa
Dan hospital tak kuasa lagi menampung
Panglima…
Bagaimanakah sih kehidupan ideal?
Itukah ajakan nurani anda sebagai insan?
Panglima…
Cobalah berpikir jika anda adalah mereka
Jika yang dirampas adalah negri anda
Yang dibunuh adalah saudara-saudara anda
Yang dihancurkan adalah rumah anda
Yang melempar batu adalah anda
Yang tiarap di antara puing adalah anda
Yang menatap moncong senapan itu anda
Mereka adalah anda
Panglima…
Suara ini mungkin terlalu lemah
Untuk menghancurkan benteng ambisi anda
Mungkin surat ini terlalu lembut
Untuk kerasnya hati anda
Mungkin juga surat ini terlalu halus
Menghadapi duri kasar nurani anda
Tapi, surat ini adalah suara…
Yang bisa dimengerti manusia.!
oleh Yummy amoye kebadabi
CATATAN: Saya menulis puisi diatas ini, melatar belakangi kejadian yang sekarang terjadi dipapua, dari kepolisian selalu melanggar HAM. tetapi kuasanya adalah kepala maka ekornya susah bergerak, sehingga semua kejadian ini digelapkan di tanah amungsa.
Yang terhormat:
Panglima satuan gabungan Densus 88 dan Brimob,
Di_ Sangkar Muka Bumi’
Atas nama kemanusiaan
Surat ini ditulis untuk panglima
Atas nama solidaritas
Surat ini saya persembahkan buat panglima
Atas nama nurani
Surat ini tak punya pamrih
Panglima…
Marilah sejenak kita merenung
Apakah manusia dicipta untuk dianiaya
Apakah manusia untuk dibelenggu haknya
Bukankah manusia mendambakan kedamaian dan keamanan
Menginginkan rasa aman dan ketenangan
Mengimpikan harmoni dan ketentraman?
Panglima…
Saya ajak anda sebentar untuk berpikir
Bijakkah kita mengambil hak orang lain
Relakah kita jika milik kita dirampas
Sudikah kita diusir dari rumah kita sendiri
Apakah anda tahu siapa orang serakah…?!
Tahukah anda dengan istilah penjajah….?!
Panglima…
Lihatlah di sekitar anda
Mayat-mayat yang berjalan
Tangis bayi yang tak lagi nyaring
Darah-darah yang mengering
Nenek-nenek seketika menjadi tua
menghancurkan harapan bangsa
Dan hospital tak kuasa lagi menampung
Panglima…
Bagaimanakah sih kehidupan ideal?
Itukah ajakan nurani anda sebagai insan?
Panglima…
Cobalah berpikir jika anda adalah mereka
Jika yang dirampas adalah negri anda
Yang dibunuh adalah saudara-saudara anda
Yang dihancurkan adalah rumah anda
Yang melempar batu adalah anda
Yang tiarap di antara puing adalah anda
Yang menatap moncong senapan itu anda
Mereka adalah anda
Panglima…
Suara ini mungkin terlalu lemah
Untuk menghancurkan benteng ambisi anda
Mungkin surat ini terlalu lembut
Untuk kerasnya hati anda
Mungkin juga surat ini terlalu halus
Menghadapi duri kasar nurani anda
Tapi, surat ini adalah suara…
Yang bisa dimengerti manusia.!
oleh Yummy amoye kebadabi
CATATAN: Saya menulis puisi diatas ini, melatar belakangi kejadian yang sekarang terjadi dipapua, dari kepolisian selalu melanggar HAM. tetapi kuasanya adalah kepala maka ekornya susah bergerak, sehingga semua kejadian ini digelapkan di tanah amungsa.
BURON (BUAT KELLYK KUALLYK)
BURON
(BUAT KELLY KUALLYK)
Pertama kali, kulihat wajahnya di tv, tersenyum manis, berjalan di samping sang bapak, dalam sebuah acara Pesta adat, gagah ku lihat. Kesan pertama begitu menggoda….
Kedua kali, ku lihat photonya di koran. Ia masih tersenyum manis, menjawab pertanyaan teman wartawan, dalam sebuah jumpa pers, membahas mobil barunya, yang kata orang mendapat banyak kemudahan.
Ketiga kalinya, ku lihat dia sedih. Air matanya mengintip. Ia berduka muka. Ibundanya meninggal, meninggalkan keluarga, meninggalkan dunia, meninggalkan negara, meninggalkan luka, meninggalkan semuanya! Entah mengapa aku merasa kasihan juga…
Keempat kalinya, ku lihat ia kesal. Tingkahnya Tidak bersahabat. Ia jadi sering marah-marah.
Penyebabnya? Ayahnya jatuh. Tepatnya, dijatuhkan. Ia malah jadi sering dibicarakan. Katanya…ia pernah membunuh orang, ia pernah melangar HAM. Ah ada-ada saja….
Kelima kalinya, aku memergokinya di antara para massa, bersama mereka melempar kaca, membakar roda-roda, merobohkan tiang, bahkan membakar mobil pula. Entah setan apa yang merasukinya. Memang sejak bapaknya sakit, ia ikut-ikutan sakit pula.
Keenam kalinya, ku tahu dari teman, katanya ia ikutan demo juga. Dia suka turun ke gorong-gorong, bersama kawan barunya, yang katanya kenal di hutang berantara. Ia tidak suka orang lain ikut tahu urusan pribadinya. Padahal semua orang sudah terlanjur tahu.
Ketujuh kalinya, Aku sudah di bendungan/gorong-gorong. Ia sedang dicari polisi, tulis internet. Ia menyimpan barang tersembunyi. Aku tersenyum sendiri. Ia kini jadi buron? Mana mungkin? Pasti ini hanya lakon…
Oleh Amoye Yummy Kebadaby .
Catatan: puisi ini saya buat berdasarkan cerita dari teman tentang perjalanan perjuangan kelik, yang mana sekian puluhan tahun hidup diantara hutang berantara. dari perjalanan awal dari duga masuk ke TPM-OPM Hingga sampai beliau digrebek oleh polisi sampai menghabiskan nyawa tepat pada tanggal 16 desember 2009 di gorong-gorong timika.
(BUAT KELLY KUALLYK)
Pertama kali, kulihat wajahnya di tv, tersenyum manis, berjalan di samping sang bapak, dalam sebuah acara Pesta adat, gagah ku lihat. Kesan pertama begitu menggoda….
Kedua kali, ku lihat photonya di koran. Ia masih tersenyum manis, menjawab pertanyaan teman wartawan, dalam sebuah jumpa pers, membahas mobil barunya, yang kata orang mendapat banyak kemudahan.
Ketiga kalinya, ku lihat dia sedih. Air matanya mengintip. Ia berduka muka. Ibundanya meninggal, meninggalkan keluarga, meninggalkan dunia, meninggalkan negara, meninggalkan luka, meninggalkan semuanya! Entah mengapa aku merasa kasihan juga…
Keempat kalinya, ku lihat ia kesal. Tingkahnya Tidak bersahabat. Ia jadi sering marah-marah.
Penyebabnya? Ayahnya jatuh. Tepatnya, dijatuhkan. Ia malah jadi sering dibicarakan. Katanya…ia pernah membunuh orang, ia pernah melangar HAM. Ah ada-ada saja….
Kelima kalinya, aku memergokinya di antara para massa, bersama mereka melempar kaca, membakar roda-roda, merobohkan tiang, bahkan membakar mobil pula. Entah setan apa yang merasukinya. Memang sejak bapaknya sakit, ia ikut-ikutan sakit pula.
Keenam kalinya, ku tahu dari teman, katanya ia ikutan demo juga. Dia suka turun ke gorong-gorong, bersama kawan barunya, yang katanya kenal di hutang berantara. Ia tidak suka orang lain ikut tahu urusan pribadinya. Padahal semua orang sudah terlanjur tahu.
Ketujuh kalinya, Aku sudah di bendungan/gorong-gorong. Ia sedang dicari polisi, tulis internet. Ia menyimpan barang tersembunyi. Aku tersenyum sendiri. Ia kini jadi buron? Mana mungkin? Pasti ini hanya lakon…
Oleh Amoye Yummy Kebadaby .
Catatan: puisi ini saya buat berdasarkan cerita dari teman tentang perjalanan perjuangan kelik, yang mana sekian puluhan tahun hidup diantara hutang berantara. dari perjalanan awal dari duga masuk ke TPM-OPM Hingga sampai beliau digrebek oleh polisi sampai menghabiskan nyawa tepat pada tanggal 16 desember 2009 di gorong-gorong timika.
Langganan:
Postingan (Atom)