A. PENDAHULUAN
Pengantar
Laporan analisi kebuthuan , di buat karena melihat semakin berkembang pesatnya dunia usaha dan juga penduduk makin meningkat, dengan pertumbuhan yang sangat pesat ini masih belum menyentu kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik baik dalam dunia kerja maupun dunia usaha.
Analisis kebutuhan ini bagaiman supaya merangcan prosedur yang digunakan untuk mengumpulkan informasi mengenai kebutuhan peserta didik. Salah satu asumsi dasar pengembangan kurikulum adalah bahwa program pendidikan harus didasarkan pada analisis kebutuhan pembelajar. Analisis kebutuhan sebagai fase yang berbeda dan perlu dalam perencanaan program-program pendidikan muncul pada tahun 1960 sebagai bagian dari pendekatan sistem untuk pengembangan kurikulum dan merupakan bagian dari filosofi umum akuntabilitas pendidikan. Analisis kebutuhan diperkenalkan ke dalam pengajaran bahasa melalui gerakan ESP.
Maka, yang kerja atau usaha bekerja serta merta apa adanya ,oleh sebab itu bagimana kita merangcan kurikulum yang bisa menyentu sesui bidang yang diperoleh misalnya : kurikulum bahasa Indonesia untuk jurnalistik, kurikulum bahasa Indonesia untuk sekretaris, kurikulum bahasa Indonesia untuk pengacara, psikologi dan sebagainya.
B. DATA BUKU
Judul: Curriculum Develoment In Language Teaching
Pengaran: Jack Bic Crichards
Penerbit: 2001
Tahun terbit: Newyork Cambredge
Tebal :
C. KESIMPULAN ISI BUKU
1. ANALISIS KEBUTUHAN
a. Analisis kebutuhan
Analisis kebutuhan ialah prosedur yang digunakan untuk mengumpulkan informasi mengenai kebutuhan peserta didik. Salah satu asumsi dasar pengembangan kurikulum adalah bahwa program pendidikan harus didasarkan pada analisis kebutuhan pembelajar. Analisis kebutuhan sebagai fase yang berbeda dan perlu dalam perencanaan program-program pendidikan muncul pada tahun 1960 sebagai bagian dari pendekatan sistem untuk pengembangan kurikulum dan merupakan bagian dari filosofi umum akuntabilitas pendidikan. Analisis kebutuhan diperkenalkan ke dalam pengajaran bahasa melalui gerakan ESP.
b. Tujuan analisis kebutuhan
Analisis kebutuhan dalam pengajaran bahasa dapat digunakan untuk beberapa tujuan yang berbeda, misalnya:
1) Untuk mengetahui kemampuan bahasa perlu untuk melakukan peran tertentu, seperti manajer penjualan, pemandu wisata, atau mahasiswa universitas.
2) Untuk membantu menentukan apakah program yang sudah ada memadai kebutuhan potensial siswa.
3) Untuk menentukan siswa dari kelompok yang paling membutuhkan pelatihan dalam keterampilan bahasa tertentu.
4) Untuk mengidentifikasi perubahan arah bahwa orang-orang dalam kelompok referensi rasa penting.
5) Untuk mengidentifikasi gap (kelompok) antara siswa yang mampu melakukan dan apa yang mereka butuhkan agar mampu melakukan.
6) Untuk mengumpulkan informasi tentang masalah tertentu yang pelajar alami.
c. Kebutuhan
Dalam banyak kasus, kebutuhan pembelajar bahasa mungkin relatif mudah untuk ditentukan, terutama jika peserta didik harus belajar bahasa untuk tujuan yang sangat spesifik dan "kebutuhan" juga mencakup hak siswa. Istilah kebutuhan tidak selalu tertuju pada hal-hal yang kelihatan, dan istilah ini kadang-kadang digunakan untuk merujuk kepada kemauan, permintaan, harapan, motivasi, keperluan, larangan, dan kewajiban (Brindley 1984, 28).
Kebutuhan sering digambarkan dalam hal keperluan linguistik, yaitu menggambarkan perbedaan antara apa yang dapat pembelajar lakukan dalam bahasa saat ini dan apa yang sebaiknya dapat ia lakukan. Hal ini menunjukkan bahwa kebutuhan memiliki realitas objektif dan hanya menunggu untuk diidentifikasi dan dianalisis.
d. Pengguna analisis kebutuhan
Dengan analisis kebutuhan skala kecil seperti yang dilakukan oleh guru tunggal di kelasnya, pesertanya mungkin terdiri dari guru, guru-guru lain, dan koordinator program. Pada kasus analisis kebutuhan skala besar, akan ada beberapa peserta untuk hasil analisis kebutuhan. Menentukan peserta mungkin merupakan langkah pertama yang penting dalam perencanaan sebuah analisis kebutuhan untuk memastikan bahwa informasi yang mereka butuhkan diperoleh dan analisis kebutuhan akan memiliki dampak yang dirancang untuk dimiliki. Dalam setiap situasi di mana kebutuhan analisis dilakukan, ada stakeholder yang berbeda, yaitu, orang-orang yang mempunyai kepentingan tertentu atau terlibat dalam isu-isu atau program yang sedang diperiksa, dan penting untuk mencoba mengetahui agenda mereka yang berbeda.
e. Target populasi
Target populasi dalam analisis kebutuhan mengacu kepada orang-orang yang memiliki informasi yang akan dikumpulkan. Biasanya, dalam program-program bahasa akan ada para pembelajar bahasa atau para pembelajar yang potensial, tetapi yang lain juga sering terlibat tergantung pada apakah mereka dapat memberikan informasi yang berguna dalam memenuhi tujuan analisis kebutuhan.
Dalam menentukan populasi target, sebuah isu yang penting adalah pengambilan contoh. Dalam beberapa kasus, populasi cukup kecil untuk setiap peserta didik akan dimasukkan dalam contoh. Dalam kasus lain, pendekatan ini tidak layak dan keputusan harus dibuat tentang ukuran contoh yang akan disertakan dalam analisis kebutuhan. Pengambilan contoh melibatkan sebagian dari potensi penduduk, bukan dari total populasi dan berusaha untuk menciptakan sebuah contoh yang mewakili total penduduk.
f. Merencanakan analisis kebutuhan
Merencanakan analisis kebutuhan melibatkan keputusan siapa yang akan mengelola analisis kebutuhan dan mengumpulkan dan menganalisis hasilnya. Dalam beberapa program bahasa, informal analisis kebutuhan adalah bagian dari tanggung jawab guru. Informal penilaian kebutuhan berurusan dengan negosiasi informal yang terjadi antara guru kelas dan siswa dalam bentuk diskusi dengan siswa baik individu, kelompok mahasiswa, atau seluruh kelas untuk memilih fokus untuk kelas dan menciptakan kohesi kelompok dengan membentuk kebutuhan belajar.
g. Prosedur melakukan analisis kebutuhan
Berbagai prosedur dapat digunakan dalam melakukan analisis kebutuhan dan jenis informasi yang diperoleh seringkali tergantung pada prosedur yang dipilih. Apabila salah satu sumber informasi mungkin tidak lengkap atau parsial, pendekatan segitiga (yaitu, mengumpulkan informasi dari dua atau lebih sumber) yang dianjurkan. Prosedur untuk mengumpulkan informasi selama analisis kebutuhan dapat dipilih dari antara berikut:
h. Kuisioner
⑵ Penghargaan diri
⑶ Wawancara
⑷ Rapat
⑸ Observasi
⑹ Mengumpulkan sampel pembelajar bahasa
⑺ Analisis tugas
⑻ Studi kasus
⑼ Analisis informasi yang tersedia
h. Merancang analisis kebutuhan
Merancang analisis kebutuhan melibatkan pilihan di antara berbagai pilihan dibahas di atas dan memilih mereka yang cenderung memberikan pandangan yang komprehensif kebutuhan pembelajar dan mewakili kepentingan para pemangku kepentingan berbeda terlibat. Keputusan harus dibuat pada prosedur praktis yang terlibat dalam pengumpulan, pengorganisasian, analisis, dan pelaporan informasi yang dikumpulkan.
i. Penggunaan informasi yang telah diperoleh
Hasil dari analisis kebutuhan secara umum akan berisi informasi yang diambil dari beberapa sumber yang berbeda dan dituliskan (disimpulkan) dalam sebuah daftar peringkat. Analisis kebutuhan menghasilkan informasi yang dapat digunakan dalam beberapa cara yang berbeda.
2. Instrument Analisis Kebutuhan
Pedoman kurikulum dan pengajaran untuk tutor dari inggris sebagai bahasa kedua mengajar pengungsi Vietnam di londong
ini adalah contoh dari neets analysisi "di jalankan" itu, dilakukan sebagai bagian dari proses develophin teachin dan kursus.
konteks
Sebagai akibat dari arival jumlah besar pengungsi Vietnam di london, kangsinton lembaga TTE dalam hubungannya dengan otoritas pendidikan bahasa batin londong dan unit literaci merencanakan progaram ESL untuk para pengungsi. enam guru dan seorang guru di carge ditunjuk untuk mengelola program tersebut, dengan waktu yang dianggarkan untuk rencana slyllabus, tevelopmaterials, dan cordinate program.
a. METODE
Silabus kerangka Berdasarkan pengalaman siswa dengan serupa kebutuhan, wilayah sepuluh topik dipilih sebagai dasar untuk program ini. Informasi Pribadi Kerja Belanja ia Layanan Pendidikan Kesehatan dan kesejahteraan Sosial House dan rumah , Ini adalah titik awal untuk theylogram untuk beleyise-Whelight of.Rigoing informasi tentang nee siswa 's diidentifikasi dunng yang teactglin program. SituatioRk, adalah ect mail dari areasrigl the.topic, bahasa Che kebutuhan ethiituation Bijih "icted ini menghasilkan kerangka silabus pfroves isional diselenggarakan oleh.
Top profil Siswa Dalam rangka mengembangkan program, mereka menyimpan catatan informasi yang dikumpulkan selama mengajar, sehingga gedung dari mahasiswa dan profil kelas. Profil kelas didokumentasikan pengalaman pembelajaran sebelumnya, kekuatan dan kelemahan setiap siswa, bidang umum bunga, individu dan kebutuhan kelompok, dan tercermin daerah yang akan berguna untuk memfokuskan di kelas.
Budaya perbandingan Informasi juga dikumpulkan melalui observasi, pembahasan, dan wawancara pada perbedaan budaya antara orang-orang Vietnam dan Inggris berkaitan dengan hal-hal seperti kapal hubungan keluarga, usia tua, bekerja, dan rekreasi untuk membantu mengidentifikasi perbedaan-perbedaan antara norma-norma sosial di dua kebudayaan . Informasi ini kemudian dimasukkan ke dalam isi kursus.
b). PRODUK
Proyek ini menghasilkan persiapan kit tutor 156-halaman 'yang mengandung unsur-unsur berikut ini:
a. deskripsi dari proses perencanaan
b. kerangka silabus
c. diskusi tentang teknik mengajar dan kegiatan
d. keaksaraan
e. pedoman
f. lembar kerja
g. alat bantu dan bahan g) diskusi masalah daerah dalam bahasa Inggris bagi penutur Vietnam
c). Lampiran 1 Merancang kuesioner
Pertanyaan-pertanyaan berikut harus dipertimbangkan dalam perancangan kuesioner.
1. Awal pertanyaan
a) Apakah akan berguna untuk melakukan beberapa wawancara sebelum merancang-meragukan tionnaire, untuk mendapatkan rasa yang sesuai topik dan isu-isu?
b) Berapa besar akan menjadi sampel? Apakah perwakilan dari seluruh populasi-
c. informasi yang diperlukan tentang SI?
d. Bagaimana kuesioner dicoba?
e. Bagaimana ini akan diberikan (misalnya, melalui surat, dikelola sendiri, atau kelompok-diberikan)?
d). Jenis informasi meminta
a. Apakah pertanyaan itu benar-benar perlu? Bagaimana informasi yang menyediakan digunakan?
b. Apakah pertanyaan lain yang diperlukan tentang masalah ini?
c. Responden dapat menjawab pertanyaan ini? Apakah mereka memiliki informasi yang memadai (misalnya, untuk menjawab pertanyaan seperti "Berapa banyak yang bahasa Inggris siswa Anda gunakan di luar kelas")?
d. Jika pertanyaan dibuat lebih spesifik dan lebih erat terkait dengan pengalaman pribadi responden?
e. Apakah pertanyaan bias dalam satu arah? (Misalnya, "Apakah Anda setuju bahwa pendekatan komunikatif adalah cara terbaik untuk mengajar bahasa?")
f. Apakah responden bersedia memberikan informasi yang diminta? (Misalnya, "Apakah guru Anda tahu bagaimana untuk mengajar Bahasa Inggris?")
g) Apakah yang tepat untuk menanyakan pertanyaan ini? (Misalnya, "Berapa umurmu?")
e). Bagaimana pertanyaan-pertanyaan yang worded
a. Pertanyaan dapat dipahami? Apakah kata-kata yang jelas?
b. Dapat pertanyaan dipersingkat? (Aim selama tidak lebih dari 20 kata.)
c. Apakah itu mengandung kosakata kemungkinan untuk diketahui oleh pelajar?
d. Apakah pertanyaan mengandung asumsi tak tertulis? (Misalnya, "Di perguruan tinggi program bahasa Inggris Anda, apakah kau...?")
e. Apakah ada pertanyaan prestise, yaitu, yang siswa yang kemungkinan akan mencoba menjawab memberikan kesan yang baik dari diri mereka sendiri? (Misalnya, "Apakah Anda menggunakan hal-hal yang telah diajarkan keluar dari kelas?")
f. Apakah kata-kata bias atau dimuat secara emosional dengan cara apapun?
g. Apakah lebih pribadi (atau kurang dipersonalisasi) versi pertanyaan lebih baik?
h. Apakah jawaban atas pertanyaan mungkin dipengaruhi oleh isi dari pertanyaan sebelumnya?
f). Jenis item dalam kuesioner
a. Buka pertanyaan: orang yang dapat dijawab secara bebas dan di mana tidak ada
b. pilihan semacam diperlukan dalam jawaban
c. Ditutup pertanyaan: salah satu yang dijawab dengan memilih alternatif disediakan
d. Daftar Periksa: seperangkat istilah yang menggambarkan nilai atribut yang berbeda atau
Skala rating: nilai diberikan pada skala (contoh, antara "sangat setuju" dan "sangat setuju")
e. Peringkat: peringkat item (misalnya, dari 1 hingga 9) menurut beberapa kriteria f. Inventarisasi: daftar tanda bahwa responden atau periksa dalam beberapa cara
3. Lampiran 2 Kebutuhan analisis kuesioner untuk pelajar Kantonis
Kuesioner yang digunakan dalam analisis kebutuhan peserta didik dari Kanton di Hong Kong (dari Li dan Richards 1995).
1. Bagian A
Dalam situasi apa yang Kanton (atau Kanton akan) berguna bagi anda? Silakan periksa kolom yang sesuai.
Sangat sesuai sesuai Tidak sesuai
Al. Membeli barang-barang di toko dan supermarket.
A2. Membeli barang-barang di pasar. Aku
A3. Mendapatkan informasi tentang layanan dan
barang Aku ingin membeli.
A4. Memesan makanan di restoran / kantin / kafetaria.
A5. Mengambil taksi.
A6. Menggunakan transportasi publik lainnya.
A7. Meminta petunjuk.
A8. Berbicara dengan rekan di tempat kerja.
A9. Berbicara kepada personil kantor di tempat kerja.
A10. Berbicara dengan tetangga.
A11. Sangat Tidak Semua. Berbicara dengan anak-anak.
Al2. Berbicara dengan teman-teman.
A13. Setelah percakapan biasa dengan orang-orang.
A14. Berbicara dengan siswa.
A15. Berbicara dengan (berbahasa Kanton) penolong dalam negeri
A16. Berbicara dengan pekerja di tempat saya tinggal.
Berbicara dengan listrik, tukang pipa, dll
A17. Menerima panggilan telepon.
A18. Membuat panggilan telepon.
A19. Bergabung hobi atau kelompok kepentingan.
A20. Bermain olahraga dan ikut serta dalam klub sosial.
A21. Menonton TV atau film.
A22. Mendengarkan radio.
A23. Mendengarkan musik Kanton.
A24. Mengunjungi teman 'rumah.
A25. Mengunjungi berbagai bagian wilayah.
A26. Mengunjungi provinsi Guangdong.
A27. Membuat pengaturan perjalanan.
A29. Menggunakan Kanton dalam situasi yang berhubungan dengan saya bekerja
Tolong jelaskan:
---------------------------------------------------------------------------------------------------
2. Bagian B
Jika Anda sudah berbicara beberapa Kanton, silahkan menunjukkan tingkat kemampuan Anda saat ini dalam bahasa Kantonis:
Bl. Dasar (bawah): tahu beberapa kata dan ekspresi tetap, tidak dapat mengatur pertukaran percakapan; merespon pertukaran pertanyaan dan jawaban pada beberapa topik; kosa kata yang sangat terbatas, tata bahasa, dan pengetahuan tentang idiom; pengucapan sangat dipengaruhi oleh bahasa ibu.
B2. Dasar (atas): tahu sejumlah kata-kata umum dan ekspresi; mampu mengelola terbatas, percakapan singkat pada beberapa topik diprediksi; kelangsungan hidup tingkat pengetahuan kosa kata, tata bahasa, dan idiom; pengucapan sangat dipengaruhi oleh bahasa ibu.
B3. Intermediate (lebih rendah): cukup lancar terbatas pada berbagai macam topik, tapi kesulitan di luar jangkauan terbatas dari topik; banyak masalah dengan kata-kata, idiom, tata bahasa, dan pengucapan.
B4. Intermediate (atas): dapat mengelola nyaman dalam situasi akrab dan dengan topik akrab, meskipun masih ada kesulitan dengan kosa kata, idiom, tata bahasa, dan pengucapan.
B5. Lanjutan: mampu berkomunikasi dengan lancar dan alami pada topik yang paling; sedikit kesulitan dengan kosa kata, idiom, tata bahasa, dan pengucapan.
B6. Jika Anda telah mempelajari Kanton, silahkan menunjukkan dalam keadaan apa.
a. Saya mengambil kursus.
b. Saya belajar dengan seorang tutor pribadi.
c. Aku mengangkat Kanton informal.
Lain : ------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
B7. Jika Anda mengikuti program pendidikan formal, silakan menunjukkan panjang dan frekuensi dari kursus (misalnya, 6 minggu, 3 jam per minggu).
-------------------------------------------------------------------------------------------------------
C8. Bagaimana berguna adalah kursus? (Harap lingkaran pilihan Anda.)
Sangat berguna Agak berguna Tidak berguna
Tolong jelaskan: ----------------------------------------------------------------------------------
B9. Jika Anda telah menggunakan salah satu atau lebih buku teks, silakan menunjukkan nama teks masing-masing dan bagaimana manfaat atau kalau tidak:
Sangat Tidak
Nama berguna teks berguna
Sangat benar benar Tidak benar
a. -------------------------------------------------------------------
b. --------------------------------------------------------------------
c. --------------------------------------------------------------------
d. -------------------------------------------------------------------
B10. Untuk apa yang akan Anda atribut tingkat kemampuan Anda saat ini dalam bahasa Kanton?, Agak benar
Sangat benar Benar Tidak benara.
a. Saya mengikuti kursus berguna. ,
b. b. Saya belajar dengan seorang tutor pribadi.
b. Aku melakukan segala upaya untuk menggunakan
Kanton.
c. Saya menikmati belajar Kanton.
d. Saya perlu Kanton untuk pekerjaan saya.
e. Saya seorang pembelajar bahasa yang baik.
f. Saya mendapatkan banyak bantuan dari
teman-teman yang berbahasa Kanton
g. Saya menghabiskan banyak waktu di Kanton.
h. Lainnya:------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
C 1 1. Apa kegiatan atau pengalaman yang paling membantu dalam studi Anda Kanton? Silakan rumit. -------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
3. Bagian D
Jika Anda telah mempelajari Cantonese sebelumnya, tetapi sejak berhenti belajar Kanton, silakan lengkapi Bagian D di bawah ini dengan mencentang kotak yang sesuai.
Saya telah mempelajari Kanton sebelumnya, tapi aku berhenti karena alasan sebagai berikut (D):
Sangat benar Agak benar, Tidak benar
DI. Aku tidak punya waktu untuk melanjutkan.
D2. Saya merasa bahwa saya tidak membuat kemajuan apapun.
D3. Aku tidak diberi kesempatan untuk menggunakan Kanton di luar kelas.
D4. Pelajaran tidak berguna karena:
a. Kami tidak mengajarkan hal-hal yang aku bisa gunakan.
b. Saya menemukan bahasa terlalu sulit untuk menguasai
c. Saya menemukan pengucapan terlalu sulit untuk menguasai.
d. Saya menemukan tata bahasa terlalu sulit untuk menguasai.
D5. Guru tidak tahu bagaimana mengajar Kanton.
D.6. Aku tidak suka metode pengajaran yang digunakan.
D,7. Materi adalah:]
a. terlalu 'sulit.
b. tidak relevan dengan kebutuhan saya.
c. tidak akan menarik.
d. tidak menantang.
bagian e
Apakah Anda pernah menggunakan kegiatan-kegiatan berikut dalam mempelajari bahasa Kanton? Jika Anda menunjukkan ya, bagaimana mereka berguna?, Sedang ,
Sangat berguna berguna
TidakBerguna
(E1) Saya menemukan e. kosa kata terlalu
sulit untuk menguasai.
E2. Mempraktekkan latihan pada nada, suara, dan pola gramatikal.
E3. Gratis percakapan dengan penutur asli.
E4. Gratis percakapan dengan pembelajar lain Kanton.
E5. Menghafal daftar kosakata bilingual.
E6. Belajar buku teks Kanton di rumah.
E7. Mempelajari tata bahasa Kanton.
E8. Mempelajari sistem nada Kanton.
E9. Mempelajari perbedaan antara bahasa Inggris dan Kanton.
E10. Melakukan pekerjaan pasangan-latihan.
El 1. Melakukan kerja kelompok latihan.
E12. Melakukan latihan terjemahan.
E13. Menulis menggunakan Kanton diromanisasi sistem.
E14. Menonton TV di Kanton di rumah.
E15. Menonton atau mendengarkan orang berbicara Kanton di sekitar saya.
E16. Menggunakan kaset di rumah.
E17. Berbicara dengan teman-teman di Kanton.
E. l. Mempraktekkan dialog dari buku.
EI8. Mencoba untuk menggunakan Kanton setiap kali saya
punya kesempatan.
E19. Menempatkan diri dalam situasi di mana saya akan
E20. terpaksa untuk berbicara dalam bahasa Kanton.
E21. Membuat diriku dimengerti bahkan jika saya membuat
banyak kesalahan.
E22. Berbicara Kanton yang baik tanpa membuat kesalahan dalam
tata
bahasa atau pengucapan.
E23. Belajar dengan guru swasta.
4. KESIMPULAN
Analisis kebutuhan ialah prosedur yang digunakan untuk mengumpulkan informasi mengenai kebutuhan peserta didik. Salah satu asumsi dasar pengembangan kurikulum adalah bahwa program pendidikan harus didasarkan pada analisis kebutuhan pembelajar. Analisis kebutuhan sebagai fase yang berbeda dan perlu dalam perencanaan program-program pendidikan muncul pada tahun 1960 sebagai bagian dari pendekatan sistem untuk pengembangan kurikulum dan merupakan bagian dari filosofi umum akuntabilitas pendidikan. Analisis kebutuhan diperkenalkan ke dalam pengajaran bahasa melalui gerakan ESP. Analisis kebutuhan dalam pengajaran bahasa dapat digunakan untuk beberapa tujuan yang berbeda, misalnya: Untuk mengetahui kemampuan bahasa perlu untuk melakukan peran tertentu, seperti manajer penjualan, pemandu wisata, atau mahasiswa universitas, Untuk membantu menentukan apakah
UNTUK MEMILIKI BUKU/2, &; MAJALAH,2 PAPUA KONTAK SAJA HP. 081392549876.SIAP ANTAR.
Sabtu, 08 Mei 2010
Bumi dan Lukisan Tak Kunjung Usai
Seorang perempuan berdiri di perempatan jalan,
matanya sayu menjelajah arah yang harus
ia tempuh, empat jiwa yang memanggil-
manggil, empat kehidupan yang bersumpah
sehidup semati, empat nafas satu hati,
empat angin satu tujuan, empat halusinasi
dan satu lukisan.
Seorang lelaki, di depannya membentang rimba
Enigma dalam selembar kanvas,
seseorang dengan rambut menjuntai, matanya
sayu tak mampu memerangkap dirinya sendiri
kabur ke empat arah menjadi empat nafas
tapi satu hati, tergantung di sebatang
akasia. Pucat mukanya, pucat jiwanya, dan bersama
tubuhnya, terkubur pula empat wanita
satu jiwa.
Senja itu, di sebentang dongeng.
matanya sayu menjelajah arah yang harus
ia tempuh, empat jiwa yang memanggil-
manggil, empat kehidupan yang bersumpah
sehidup semati, empat nafas satu hati,
empat angin satu tujuan, empat halusinasi
dan satu lukisan.
Seorang lelaki, di depannya membentang rimba
Enigma dalam selembar kanvas,
seseorang dengan rambut menjuntai, matanya
sayu tak mampu memerangkap dirinya sendiri
kabur ke empat arah menjadi empat nafas
tapi satu hati, tergantung di sebatang
akasia. Pucat mukanya, pucat jiwanya, dan bersama
tubuhnya, terkubur pula empat wanita
satu jiwa.
Senja itu, di sebentang dongeng.
Sistem Kepemilikan
Makan tidak makan bersama
asal kita berdua punya uang berjutajuta
bisalah kita belanja bersukaria
bahkan bisa membeli cinta
peribahasa bodoh yang harus aku dengar
bagaikan suara halilintar
berkumandang memekakkan telinga
dari mulut pemimpin negara sampai para
pelawak pemberontak yang tidak merubah apa apa
dan para pelajar yang
merasa dirinya benar benar pintar
kau kira siapa dirimu
bisa membeli hidupku yang rapuh
mengisi hari bekerja dan patuh
bukan menjadi manusia yang tangguh
aku kira siapa diriku mencoba setia dan tunduk padamu
dan kutanya sanggupkah diriku
membawa mimpiku ke dunia yang baru
mengubur mimpiku agar semua bisa makan
ini negara bodoh yang sangat aku bela
layaknya kekasih yang tercinta
tiap jengkal aku mendaki terasa hampa
sebetulnya apa yang kita miliki? tak ada
kebanggaan terhadap diri sendiri? tidak juga
kepemilikan negara ini?
siapa yang kucacimaki?
kamu dididik untuk bermimpi
kamu terbiasa dibohongi
kamu dihibur ikut bernyanyi
hey kamu miskin bodoh dan sombong
asal kita berdua punya uang berjutajuta
bisalah kita belanja bersukaria
bahkan bisa membeli cinta
peribahasa bodoh yang harus aku dengar
bagaikan suara halilintar
berkumandang memekakkan telinga
dari mulut pemimpin negara sampai para
pelawak pemberontak yang tidak merubah apa apa
dan para pelajar yang
merasa dirinya benar benar pintar
kau kira siapa dirimu
bisa membeli hidupku yang rapuh
mengisi hari bekerja dan patuh
bukan menjadi manusia yang tangguh
aku kira siapa diriku mencoba setia dan tunduk padamu
dan kutanya sanggupkah diriku
membawa mimpiku ke dunia yang baru
mengubur mimpiku agar semua bisa makan
ini negara bodoh yang sangat aku bela
layaknya kekasih yang tercinta
tiap jengkal aku mendaki terasa hampa
sebetulnya apa yang kita miliki? tak ada
kebanggaan terhadap diri sendiri? tidak juga
kepemilikan negara ini?
siapa yang kucacimaki?
kamu dididik untuk bermimpi
kamu terbiasa dibohongi
kamu dihibur ikut bernyanyi
hey kamu miskin bodoh dan sombong
Senin, 26 April 2010
Dialog Jakarta – Papua Sementara Disosialisasikan
Dialog Jakarta – Papua Sementara Disosialisasikan
Konsultasi Publik tentang pentingnya dialog Jakarta – Papua sementara disosialisasikan. Baik di Jakarta, dunia internasional maupun di seluruh pelosok Papua. Jogjakarta dilaksanakan sosialisasi kepada mahasiswa pada 18 April 2010 di Asrama papua kamasan dua pukul 17.oo-20.00 sangat tertip dan saling menanggapi satu sama lain yakni pengerak dialog Jakarta papua bersama mahasiswa papua se-DIY. Peserta yang ikut acara ini berkisar 60-an mahasiswa.
“Kami sedang melakukan konsultasi publik. Melibatkan pemerintah LSM dan tokoh masyarakat,” kata Koordinator Tim Papua Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Muridan Widjojo kepada mahasiswa usai diskusi bersama mahasiswa yang berdomisili di JOGJA. Daalam acara diskusi ini penyelengara membagikan buku berjudul: Dialog Jakarta- Papua pengarannya oleh Neles Tebai, dan 'Papua Road Map oleh LIPI.
Sejumlah daerah yang sudah didatangi untuk konsultasi publik diantaranya sudah dijalangkan seluruh papua, dan khusus untuk se-jawa dan bali sedang dalam sosialisasi.
Di Jakarta pihaknya bahkan telah bertemu dengan Komisi II DPR RI dan sejumlah lembaga. “Dari hasil pertemuan kami, ada hasil yang sangat baik, antara lain mereka sangat mendukung rencana dialog Jakarta-Papua,” kata Muridan.
Dikatakannya, tantangan yang dihadapi Jaringan Damai Papua dalam sosialisasi ini adalah penerimaan masyarakat yang tidak tepat. Mereka (warga) bahkan berunjuk rasa menentang rencana dialog.
“Namun ketika mereka mendapat penjelasan, sebagian diantaranya mendukung agenda yang sementara diusung,” ujar Bapak Wenda.
Muridan berharap, masyarakat Papua bisa memfasilitasi pelaksanaan dialog ini. “Kalau bisa masyarakat Papua bantu kami untuk dorong agenda ini bersama-sama,” harapnya.
Muridan Widjojo dalam kesehariannya bekerja di LIPI sebagai peneliti. Tahun 2009 lalu, Muridan menerbitkan buku yang berjudul 'Papua Road Map'.
Buku tersebut sedikitnya mengulas empat persoalan dasar di Papua. Diantaranya masih adanya marjinalisasi dan efek diskriminasi terhadap orang asli Papua, masalah pengembangan ekonomi, konflik politik, dan migrasi massal ke Papua sejak 1970.
OLEH YULIUS PEKEI (Mahasiswa Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia dan Daerah (PBSID/FKIP/USD)
Email : yykebadabi@yahoo.com
HP : 081392549876
Konsultasi Publik tentang pentingnya dialog Jakarta – Papua sementara disosialisasikan. Baik di Jakarta, dunia internasional maupun di seluruh pelosok Papua. Jogjakarta dilaksanakan sosialisasi kepada mahasiswa pada 18 April 2010 di Asrama papua kamasan dua pukul 17.oo-20.00 sangat tertip dan saling menanggapi satu sama lain yakni pengerak dialog Jakarta papua bersama mahasiswa papua se-DIY. Peserta yang ikut acara ini berkisar 60-an mahasiswa.
“Kami sedang melakukan konsultasi publik. Melibatkan pemerintah LSM dan tokoh masyarakat,” kata Koordinator Tim Papua Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Muridan Widjojo kepada mahasiswa usai diskusi bersama mahasiswa yang berdomisili di JOGJA. Daalam acara diskusi ini penyelengara membagikan buku berjudul: Dialog Jakarta- Papua pengarannya oleh Neles Tebai, dan 'Papua Road Map oleh LIPI.
Sejumlah daerah yang sudah didatangi untuk konsultasi publik diantaranya sudah dijalangkan seluruh papua, dan khusus untuk se-jawa dan bali sedang dalam sosialisasi.
Di Jakarta pihaknya bahkan telah bertemu dengan Komisi II DPR RI dan sejumlah lembaga. “Dari hasil pertemuan kami, ada hasil yang sangat baik, antara lain mereka sangat mendukung rencana dialog Jakarta-Papua,” kata Muridan.
Dikatakannya, tantangan yang dihadapi Jaringan Damai Papua dalam sosialisasi ini adalah penerimaan masyarakat yang tidak tepat. Mereka (warga) bahkan berunjuk rasa menentang rencana dialog.
“Namun ketika mereka mendapat penjelasan, sebagian diantaranya mendukung agenda yang sementara diusung,” ujar Bapak Wenda.
Muridan berharap, masyarakat Papua bisa memfasilitasi pelaksanaan dialog ini. “Kalau bisa masyarakat Papua bantu kami untuk dorong agenda ini bersama-sama,” harapnya.
Muridan Widjojo dalam kesehariannya bekerja di LIPI sebagai peneliti. Tahun 2009 lalu, Muridan menerbitkan buku yang berjudul 'Papua Road Map'.
Buku tersebut sedikitnya mengulas empat persoalan dasar di Papua. Diantaranya masih adanya marjinalisasi dan efek diskriminasi terhadap orang asli Papua, masalah pengembangan ekonomi, konflik politik, dan migrasi massal ke Papua sejak 1970.
OLEH YULIUS PEKEI (Mahasiswa Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia dan Daerah (PBSID/FKIP/USD)
Email : yykebadabi@yahoo.com
HP : 081392549876
PERGESERAN BAHASA INDONESIA DI ERA GLOBAL
Pergeseran Bahasa Indonesia di Era Global dan Imlpikasinya terhadap Pembelajaran
Dewasa ini kita hidup dalam era globalisasi, yang dipicu oleh pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan di bidang transportasi dan revolusi di bidang komunikasi. Dengan perkembangan yang sangat cepat di bidang transportasi dan komunikasi, arus globalisasi terasa bertambah kuat, sehingga dunia terasa makin datar (Thomas Friedman, 2005). Akibat derasnya arus globalisasi batas negara menjadi kabur dan akhirnya hilang. Tekanan arus globalisasi yang melanda bangsa-bangsa yang sedang berkembang menimbulkan perubahan yang semakin cepat dan luas dalam berbagai wilayah kehidupan. Globalisasi akan meningkatkan pemahaman antarbudaya, memecah batas antara masyarakat dari negara yang berbeda seiring dengan berkembangnya kemitraan dalam berdagang antarnegara. Globalisasi memiliki banyak penafsiran dari berbagai sudut pandang. Sebagian besar orang menafsirkan sebagai proses pengecilan dunia atau menjadikan dunia sebagaimana layaknya sebuah desa kecil, setiap orang bisa berkomunikasi dengan sangat mudah, berhubungan dengan waktu yang singkat, dan dengan biaya yang relatif rendah. Globalisasi adalah akibat dari revolusi teknologi, komunikasi, dan informasi yang dapat berimbas pada tatanan masyarakat, bangsa, dan negara di berbagai belahan dunia. Setiap bangsa di dunia tidak dapat melepaskan diri dari arus global akibat revolusi tersebut. Dengan kondisi seperti itu, persaingan antarwilayah pun semakin tinggi. Siapa yang menguasai komunikasi dialah yang akan menguasai dunia. Bahasa merupakan alat komunikasi di dunia. Oleh karena itu, eksistensinya di tengah arus global harus dicermati.
Arus global berimbas pula pada penggunaan dan keberadaan bahasa Indonesia di masyarakat. Penggunaan bahasa di dunia maya, internet, facebook misalnya, memberi banyak perubahan bagi sturktur bahasa Indonesia yang oleh beberapa pihak disinyalir merusak bahasa itu sendiri. Berlandaskan alasan globalisasi dan prestise, masyarakat mulai kehilangan rasa bangga menggunakan bahasa nasional. Tidak hanya pada rakyat kecil, ‘krisis bahasa’ juga ditemukan pada para pejabat negara. Kurang intelek katanya kalau dalam setiap ucapan tidak dibumbui selingan bahasa asing yang sebenarnya tidak perlu. Hal tersebut memunculkan istilah baru, yaitu ‘Indoglish’ kependekan dari ‘Indonesian-English’ untuk fenomena bahasa yang kian menghantam bahasa Indonesia. Sulit dipungkiri memang, bahasa asing kini telah menjamur penggunaannya. Mulai dari judul film, judul buku, judul lagu, sampai pemberian nama merk produk dalam negeri. Kita pun merasa lebih bangga jika lancar dalam berbicara bahasa asing. Namun, apapun alasannya, entah itu menjaga prestise, mengikuti perkembangan zaman, ataupun untuk meraup keuntungan, tanpa kita sadari secara perlahan kita telah ikut andil dalam mengikis kepribadian dan jati diri bangsa kita sendiri.
Sekarang ini penggunaan penggunaan bentuk ‘Inggris’ sudah banyak menggejala. Dalam bidang internet dan komputer kita banyak menggunakan kata mendownload, mengupload, mengupdate, dienter, direlease, didiscount, dan lain sebagainya. Tidak hanya dalam bidang komputer saja, di bidang lain pun sering kita jumpai. Selain bahasa Asing, kedudukan bahasa Indonesia juga semakin terdesak dengan pemakain bahasa-bahasa gaul di kalangan remaja. Bahasa gaul ini sering kita temukan dalam pesan singkat atau sms, chatting, dan sejenisnya. Misalnya dalam kalimat’gue gitu loh..pa sich yg ga bs’ dalam kalimat tersebut penggunaan kata ganti aku tidak dipakai lagi.
1. PERGESERAN BAHASA INDONESIA
Fenomena di atas dapat mengakibatkan pergeseran bahasa Indonesia. Fenomena pemertahanan dan pergeseran bahasa sebenarnya telah ada sejak bahasa-bahasa itu mulai mengadakan kontak dengan bahasa lainnya (Grosjean 1982). Kontak antardua suku atau suku bangsa yang masing-masing membawa bahasanya sendiri-sendiri lambat laun mengakibtakan terjadinya persaingan kebahasaan. Pada umumnya, di dalam persaingan kebahasaan terjadi fenomena-fenomena kebahasaan yang diawali dengan kedwibahsaan, diglosia, alih kode/campur kode, interferensi, dan akhirnya permertahanan dan pergeseran bahasa. Jika satu bahasa lebih dominan, lebih berprestise, atau lebih modern atau bahkan mungkin lebih “superior” daripada bahasa lain, bahasa tersebut dipastikan dapat bertahan, sedangkan lainnya dalam beberapa generasi akan ditinggalkan oleh penuturnya. Tidak jarang bahasa yang ditelantarkan oleh penuturnya itu lambat laun mengakibatkan kematian bahasa (Dorian 1982).
Dalam kepustakaan sosiolinguistik, pemertahanan dan pergeseran bahasa merupakan fenomena yang menarik. Terminologi pemertahanan dan pergeseran bahasa pertama kali diperkenalkan oleh Fishman pada tahun 1964 yang selanjutnya dikembangkan oleh Susan Gal (1979) yang meneliti masalah pilihan dan pergeseran bahasa di Oberwart, Austria timur, dan Nancy Dorian (1981) yang mengkaji pergeseran bahasa Gaelik oleh bahasa Inggris di Sutherland Timur, Britania bagian utara. Pemertahanan bahasa dan pergeseran bahasa erat kaitannya dengan ranah yang berkaitan dengan pilihan bahasa dan kewibahasaan.
Kajian pemertahanan dan pergeseran bahasa perlu dikaitkan dengan konsep pemilihan bahasa. Pemahaman tentang pilihan bahasa dalam ranah yang dihubungkan dengan konsep diglosia di atas sangat penting artinya karena dengan begitu pemertahanan dan kebocoran diglosia yang menyebabkan pergeseran bahasa dapat dilihat. Pemertahanan dan pergeseran bahasa serta kepunahan suatu bahasa bertitik-tolak dari kontak dua bahasa dalam suatu masyarakat. Gejala kepunahan bahasa akan tampak dalam proses yang cukup panjang. Mula-mula tiap-tiap bahasa masih dapat mempertahankan pemakaiannya pada ranah masing-masing. Kemudian pada suatu masa transisi masyarakat tersebut menjadi dwibahasawan sebagai suatu tahapan sebelum kepunahan bahasa aslinya (BI) dan dalam jangka waktu beberapa generasi mereka bertrasformasi menjadi masyarakat ekabahasawan kembali. Dengan demikian, pergeseran bahasa mencakup pertama-pertama kedwibahasaan (seringkali bersama diglosia) sebagai suatu tahapan menuju keekabahasaan (BI yang baru).
Demikian pula halnya dengan pemertahanan/pergeseran bahasa, ada aspek-aspek sosial psikologis pendukung suatu bahasa yang dapat diandalkan guna menangkis serangan pemakaian bahasa dari luar atau paling tidak dapat memperkuat basis perlawanan terhadap musuh.
Ada banyak faktor yang menyebabkan pergeseran dan kepunahan suatu bahasa. Berdasarkan hasil-hasil penelitian yang telah dilakukan di berbagai tempat di dunia, faktor-faktor tersebut seperti loyalitas bahasa, konsentrasi wilayah pemukiman penutur, pemakaian bahasa pada ranah tradisional sehari-hari, kesinambungan peralihan bahasa-ibu antargenerasi, pola-pola kedwibahasaan, mobilitas sosial, sikap bahasa dan lain-lain. Menurut Romaine (1989) faktor-faktor itu juga dapat berupa kekuatan kelompok mayoritas terhadap kelompok minoritas, kelas sosial, latar belakang agama dan pendidikan, hubungan dengan tanah leluhur atau asal, tingkat kemiripan antara bahasa mayoritas dengan bahasa minoritas, sikap kelompok mayoritas terhadap kelompok minoritas, perkawinan campur, kebijakan politik pemerintah terhadap bahasa dan pendidikan kelompok minoritas, serta pola pemakaian bahasa.
Sesungguhnya, terdapat banyak faktor yang dapat menyebabkan terjadinya pemertahanan dan pergeseran bahasa di masyarakat. Namun, faktor-faktor itu bervariasi antarsatu wilayah dengan wilayah lainnya. Faktor-faktor penyebab terjadinya kasus pergeseran bahasa di Oberwart-Austria berbeda dari faktor-faktor penyebab atas kasus yang sama di Sutherland-Scotlandia ataupun kasus pergeseran dan pemertahanan bahasa Lampung di Lampung. Grosjean (1982:107) mengelompokkan faktor-faktor itu ke dalam lima faktor: sosial, sikap, pemakaian, bahasa, kebijakan pemerintah, dan faktor-faktor lain. Adanya pola-pola sosial dan budaya yang beragam dalam suatu masyarakat ikut menentukan identitas sosial dan keanggotaan kelompok sosialnya, faktor-faktor sosial itu meliputi status sosial, kedudukan sosial ekonomi, umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan, pekerjaan atau jabatan, serta keanggotaan seseorang dalam suatu jaringan sosial.
2. SIKAP BAHASA
Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional harus disikapi bersama termasuk dalam pengajarannya. Bahasa Indonesia yang berfungsi sebagai alat komunikasi mempunyai peran sebagai penyampai informasi. Kebenaran berbahasa akan berpengaruh terhadap kebenaran informasi yang disampaikan. Berbagai fenomena yang berdampak buruk pada kebenaran berbahasa yang disesuaikan dengan kaidahnya, dalam hal ini berbahasa Indonesia dengan baik dan benar.
Globalisasi memang tidak dapat dihindari. Akulturasi bahasa nasional dengan bahasa dunia pun menjadi lebih terasa perannya. Menguasai bahasa dunia dinilai sangat penting agar dapat bertahan di era modern ini. Namun sangat disayangkan jika masyarakat menelan mentah-mentah setiap istilah-istilah asing yang masuk dalam bahasa Indonesia. Ada baiknya jika dipikirkan dulu penggunaannya yang tepat dalam setiap konteks kalimat. Sehingga penyusupan istilah-istilah tersebut tidak terlalu merusak tatanan bahasa nasional.
3. BAHASA INDONESIA YANG BAIK DAN BENAR
Berbahasa Indonesia dengan baik dan benar mempunyai beberapa konsekuensi logis terkait dengan pemakaiannya sesuai dengan situasi dan kondisi. Pada kondisi tertentu, yaitu pada situasi formal penggunaan bahasa Indonesia yang benar menjadi prioritas utama. Penggunaan bahasa seperti ini sering menggunakan bahasa baku. Kendala yang harus dihindari dalam pemakaian bahasa baku antara lain disebabkan oleh adanya gejala bahasa seperti interferensi, integrasi, campur kode, alih kode dan bahasa gaul yang tanpa disadari sering digunakan dalam komunikasi resmi. Hal ini mengakibatkan bahasa yang digunakan menjadi tidak baik.
Berbahasa yang baik yang menempatkan pada kondisi tidak resmi atau pada pembicaraan santai tidak mengikat kaidah bahasa di dalamnya. Ragam berbahasa seperti ini memungkinkan munculnya gejala bahasa baik interferensi, integrasi, campur kode, alih kode maupun bahasa gaul. Kodrat manusia sebagai makhluk sosial tidak lepas dari adanya interaksi dan komunikasi antarsesamanya. Bahasa sebagai sarana komunikasi mempunyai fungsi utama bahasa adalah bahwa komunikasi ialah penyampaian pesan atau makna oleh seseorang kepada orang lain. Keterikatan dan keterkaitan bahasa dengan manusia menyebabkan bahasa tidak tetap dan selalu berubah seiring perubahan kegaiatan manusia dalam kehidupannya di masyarakat.
Perubahan bahasa dapat terjadi bukan hanya berupa pengembangan dan perluasan, melainkan berupa kemunduran sejalan dengan perubahan yang dialami masyarakat. Berbagai alasan sosial dan politis menyebabkan banyak orang meninggalkan bahasanya, atau tidak lagi menggunakan bahasa lain. Dalam perkembangan masyarakat modern saat ini, masyarakat Indonesia cenderung lebih senang dan merasa lebih intelek untuk menggunakan bahasa asing. Hal tersebut memberikan dampak terhadap pertumbuhan bahasa Indonesia sebagai jati diri bangsa. Bahasa Inggris yang telah menjadi raja sebagai bahasa internasional terkadang memberi dampak buruk pada perkembangan bahasa Indonesia. Kepopuleran bahasa Inggris menjadikan bahasa Indonesia tergeser pada tingkat pemakaiannya.
Berbagai penyebab pergeseran pemakaian bahasa Indonesia, tidak hanya disebabkan oleh bahasa asing tetapi juga disebabkan oleh adanya interferensi bahasa daerah dan pengaruh bahasa gaul. Dewasa ini bahasa asing lebih sering digunakan daripada bahasa Indonesia hampir di semua sektor kehidupan. Sebagai contoh, masyarakat Indonesia lebih sering menempel ungkapan “No Smoking” daripada “Dilarang Merokok”, “Stop” untuk “berhenti”, “Exit” untuk “keluar”, “Open House” untuk penerimaan tamu di rumah pada saat lebaran, dan masih banyak contoh lain yang mengidentifikasikan bahwa masyarakat Indonesia lebih menganggap bahasa asing lebih memiliki nilai. Sehubungan dengan semakin maraknya penggunaan bahasa gaul yang digunakan oleh sebagian masyarakat modern, perlu adanya tindakan dari semua pihak yang peduli terhadap eksistensi bahasa Indonesia yang merupakan bahasa nasional, bahasa persatuan, dan bahasa pengantar dalam dunia pendidikan.
Dunia pendidikan yang syarat pembelajaran dengan media bahasa menjadikan bahasa sebagai alat komunikasi yang primer. Sejalan dengan hal tersebut, bahasa baku merupakan simbol dalam dunia pendidikan dan cendekiawan. Penguasaan Bahasa Indonesia yang maksimal dapat dicapai jika fundasinya diletakkan dengan kokoh di rumah dan di sekolah mulai TK (Taman Kanak-kanak) sampai PT (Perguruan Tinggi). Akan tetapi, fundasi ini pada umumnya tidak tercapai. Di berbagai daerah, situasi kedwibahasaan merupakan kendala. Para guru kurang menguasai prinsip-prinsip perkembangan bahasa anak sehingga kurang mampu memberikan pelajaran bahasa Indonesia yang serasi dan efektif.
Rusyana, 1984:152 menyatakan bahwa dalam membina masyarakat akademik, penggunaan bahasa yang tidak baik dan tidak benar akan menimbulkan masalah. Penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar dianggap mempunyai peranan dalam menuju arah pembangunan masyarakat akademik idaman.
Kurangnya pemahaman terhadap variasi pemakaian bahasa berimbas pada kesalahan penerapan berbahasa. Secara umum dan nyata perlu adanya kesesuaian antara bahasa yang dipakai dengan tempat berbahasa. Tolok ukur variasi pemakaian bahasa adalah bahasa Indonesia yang baik dan benar dengan parameter situasi. Bahasa Indonesia yang baik dan benar adalah bahasa Indonesia yang digunakan sesuai dengan norma yang berlaku dan sesuai dengan kaidah-kaidah bahasa Indonesia (Sugono, 1994: 8).
a. Bahasa Indonesia yang baik
Bahasa Indonesia yang baik adalah bahasa yang digunakan sesuai dengan norma kemasyarakatan yang berlaku. Misalnya, dalam situasi santai dan akrab, seperti di warung kopi, pasar, di tempat arisan, dan di lapangan sepak bola hendaklah digunakan bahasa Indonesia yang tidak terlalu terikat pada patokan. Dalam situasi formal seperti kuliah, seminar, dan pidato kenegaraan hendaklah digunakan bahasa Indonesia yang resmi dan formal yang selalu memperhatikan norma bahasa.
b. Bahasa Indonesia yang benar
Bahasa Indonesia yang benar adalah bahasa Indonesia yang digunakan sesuai dengan aturan atau kaidah bahasa Indonesia yang berlaku. Kaidah bahasa itu meliputi kaidah ejaan, kaidah pembentukan kata, kaidah penyusunan kalimat, kaidah penyusunan paragraf, dan kaidah penataan penalaran. Jika kaidah ejaan digunakan dengan cermat, kaidah pembentukan kata ditaati secara konsisten, pemakaian bahasa dikatakan benar. Sebaliknya jika kaidah-kaidah bahasa kurang ditaati, pemakaian bahasa tersebut dianggap tidak benar atau tidak baku.
Hymes (1974) dalam Chaer (1994:63) mengatakan bahwa suatu komunikasi dengan menggunakan bahasa harus memperhatikan delapan unsur yang diakronimkan menjadi SPEAKING, yakni :
a) Setting and Scene, yaitu unsur yang berkenaan dengan tempat dan waktu terjadinya percakapan. Contohnya, percakapan yang terjadi di kantin sekolah pada waktu istirahat tentu berbeda dengan yang terjadi di kelas ketika pelajaran berlangsung.
b) Participants, yaitu orang- orang yang terlibat dalam percakapan. Contohnya, antara karyawan dengan pimpinan. Percakapan antara karyawan dan pimpinan ini tentu berbeda kalau partisipannya bukan karyawan dan pimpinan, melainkan antara karyawan dengan karyawan.
c) Ends, yaitu maksud dan hasil percakapan. Misalnya, seorang guru bertujuan menerangkan pelajaran bahasa Indonesia secara menarik, tetapi hasilnya sebaliknya, murid-murid bosan karena mereka tidak berminat dengan pelajaran bahasa.
d) Act Sequences, yaitu hal yang menunjuk pada bentuk dan isi percakapan.
e) Key, yaitu menunjuk pada cara atau semangat dalam melaksanakan percakapan.
f) Instrumentalities, yaitu yang menunjuk pada jalur percakapan apakah secara lisan atau bukan.
g) Norm, yaitu yang menunjuk pada norma perilaku peserta percakapan.
h) Genres, yaitu yang menunjuk pada kategori atau ragam bahasa yang digunakan.
Sebenarnya apabila kita mendalami bahasa menurut fungsinya yaitu sebagai bahasa nasional dan bahasa negara, maka bahasa Indonesia merupakan bahasa pertama dan utama di negara Republik Indonesia.
Bahasa daerah yang berada dalam wilayah republik bertugas sebagai penunjang bahasa nasional, sumber bahan pengembangan bahasa nasional, dan bahasa pengantar pembantu pada tingkat permulaan di sekolah dasar di daerah tertentu untuk memperlancar pengajaran bahasa Indonesia dan mata pelajaran lain. Jadi, bahasa-bahasa daerah ini secara sosial politik merupakan bahasa kedua.
Selain bahasa daerah, bahasa-bahasa lain seperti bahasa Cina, bahasa Inggris, bahasa Arab, bahasa Belanda, bahasa Jerman, dan bahasa Perancis berkedudukan sebagai bahasa asing. Di dalam kedudukannya sebagai bahasa asing, bahasa-bahasa terebut bertugas sebagai sarana perhubungan antarbangsa, sarana pembantu pengembangan bahasa Indonesia, dan alat untuk memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi modern bagi kepentingan pembangunan nasional. Jadi, bahasa-bahasa asing ini merupakan bahasa ketiga di dalam wilayah negara Republik Indonesia.
4. IMPLEMENTASI TERHADAP PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA
1.Inovasi Pembelajaran Berbasis ICT (Information, Communication and Technology)
Di era global dengan berbagai kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, seharusnya bisa kita manfaatkan dalam pemertahanan bahasa Indonesia. Salah satu hal yang dapat kita lakukan adalah dengan pembelajaran bahasa Indonesia berbasis ICT (Information, Communication and Technology). Pemanfaatan ICT untuk pendidikan sudah menjadi keharusan yang tidak dapat ditunda-tunda lagi. Berbagai aplikasi ICT sudah tersedia dalam masyarakat dan sudah siap menanti untuk dimanfaatkan secara optimal untuk keperluan pendidikan. Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi untuk pendidikan dapat dilaksanakan dalam berbagai bentuk sesuai dengan fungsinya dalam pendidikan. Menurut Indrajut (2004), fungsi teknologi informasi dan komunikasi dalam pendidikan dapat dibagi menjadi tujuh fungsi, yakni: (1) sebagai gudang ilmu, (2) sebagai alat bantu pembelajaran, (3) sebagai fasilitas pendidikan, (4) sebagai standar kompetensi, (5) sebagai penunjang administrasi, (6) sebagai alat bantu manajemen sekolah, dan (7) sebagai infrastruktur pendidikan.
Merujuk pada ketujuh fungsi tersebut dapat dipahami bahwa ICT dapat memberikan kontribusi yang signifikan terhadap peningkatan kualitas kehidupan masyarakat Indonesia, khususnya dalam dunia pendidikan. Maka dari itu, perlu adanya pemanfaatan ICT dalam dunia pendidikan, aplikasi nyata dalam dunia pendidikan misalnya dengan memanfaatkan ICT sebagai alat bantu pembelajaran bahasa Indonesia. Pemanfaatan ICT dalam pembelajaran bahasa misalnya dengan memanfaatkan blog sebagai wadah kreatifitas siswa dalam meningkatkan kemampuan menulisnya. Selain itu, penggunaan media pembelajaran yang berbasis ICT akan memudahkan siswa dalam menerima dan memahami pelajaran yang disampaikan.
2.Pembelajaran Bahasa pada Ranah Multikultural
Merupakan kenyataan yang tak bisa ditolak bahwa negara-bangsa Indonesia terdiri dari berbagai kelompok etnis, budaya, agama dan lain-lain sehingga negara-bangsa Indonesia secara sederhana dapat disebut sebagai masyarakat “multikultural”. Tetapi pada pihak lain, realitas “multikultural” tersebut berhadapan dengan kebutuhan mendesak untuk merekonstruksi kembali “kebudayaan nasional Indonesia” yang dapat menjadi “integrating force” yang mengikat seluruh keragaman etnis dan budaya tersebut. Perkembangan pembangunan nasional dalam era industrialisasi di Indonesia telah memunculkan side effect yang tidak dapat terhindarkan dalam masyarakat. Konglomerasi dan kapitalisasi dalam kenyataannya telah menumbuhkan bibit-bibit masalah yang ada dalam masyarakat seperti ketimpangan antara yang kaya dan yang miskin, masalah pemilik modal dan pekerja, kemiskinan, perebutan sumber daya alam dan sebagainya. Ditambah lagi kondisi masyarakat Indonesia yang plural baik dari suku, agama, ras dan geografis memberikan kontribusi terhadap masalah-masalah sosial seperti ketimpangan sosial, konflik antar golongan, antar suku dan sebagainya. Oleh karena itu perlu dikembangkan pendidikan yang berbasis multikultur.
Asy’arie (2003) mendefinisikan pendidikan multikultural sebagai proses penanaman cara hidup menghormati, tulus, dan toleran terhadap keanekaragaman budaya yang hidup di tengah-tengah masyarakat plural. Dengan pendidikan multikultural, diharapkan adanya kekenyalan dan kelenturan mental bangsa menghadapi benturan konflik sosial, sehingga persatuan bangsa tidak mudah patah dan retak.
Pendidikan multikultural adalah suatu pendekatan progresif untuk melakukan transformasi pendidikan yang secara menyeluruh membongkar kekurangan, kegagalan dan praktik-praktik diskriminatif dalam proses pendidikan. Blum dalam Sparingga (2003) mengatakan bahwa ada empat nilai yang berbeda namun saling berhubungan dalam pendidikan untuk masyarakat multikultural, yaitu antirasisme, multikulturalisme, komunitas antar-ras, dan penghargaan terhadap manusia sebagai individu.
Dalam era global pembelajaran bahasa Indonesia dalam konteks multikultur sangat perlu diterapkan. Pembelajaran bahasa Indonesia pada masyarakat Indonesia yang multikultur sudah seharusnya dilaksanakan dengan pembelajaran yang berbasis multikultur. Selain itu, pembelajaran bahasa dengan memanfaatkan kearifan lokal akan lebih bermakna dan dapat melestarikan budaya Indonesia.
DAFTAR RUJUKAN
Asy’arie, Musa . ”Pendidikan Multikultural dan Konflik Bangsa” dalam harian Kompas 4 September 2003.
Dorian, N. 1982. Language Death: The Life Cycle of a Scottish Gaelic Dialect. Philadelphia: University of Pennsylvania Press.
________. “Language Loss and Maintenance in Language Contact Situations”. Dalam Lambert dan B. Freed (ed). The Loos of Language Skills. Rowley, Massacusatt: Newbury House.
Chaer, Abdul. 1994. Linguistik Umum. Jakarta. Rineka Cipta.
Fishman, Joshua A. 1990 Language and Ethnicity in Minority Sociolinguistic Perspectives. Cleveden: Multilingual Matters Ltd.
Friedman Thomas, L. 2005. The World is Flat.
Gal, Susan. 1979 Language Shift: Social Determinants of Linguistic Change in Bilingual Austria. New York: Academic Press.
Groesjean, Fracois. 1982. Life with Two Languages. Cambridge: Harvard University Press.
Rokhman, Fathur. 2003. Pemilihan Bahasa dalam Masyarakat Dwibahasa: Kajian Sosiolinguistik di Banyumas. Disertasi. Jogjakarta: Universitas Gadjah Mada.
_______________. 2006. Membangun Komunikasi Lintas Budaya yang Bermakna dalam Masyarakat Multikultural: Studi Sosiolinguistik. Pidato Ilmiah Pengukuhan Guru Besar Universitas Negeri Semarang.
Romaine, Suzanne. 1989 Biliangualism. Oxford: Basil Blackwell.
Rusyana, Yus. 1984. Bahasa dan Sastra dalam Gamitan Pendidikan: Himpunan Bahasan. Penerbit: Diponegoro.
Sugono, Dendy. 1994. Berbahasa Indonesia dengan Benar. Jakarta: Puspa Swara.
Dewasa ini kita hidup dalam era globalisasi, yang dipicu oleh pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan di bidang transportasi dan revolusi di bidang komunikasi. Dengan perkembangan yang sangat cepat di bidang transportasi dan komunikasi, arus globalisasi terasa bertambah kuat, sehingga dunia terasa makin datar (Thomas Friedman, 2005). Akibat derasnya arus globalisasi batas negara menjadi kabur dan akhirnya hilang. Tekanan arus globalisasi yang melanda bangsa-bangsa yang sedang berkembang menimbulkan perubahan yang semakin cepat dan luas dalam berbagai wilayah kehidupan. Globalisasi akan meningkatkan pemahaman antarbudaya, memecah batas antara masyarakat dari negara yang berbeda seiring dengan berkembangnya kemitraan dalam berdagang antarnegara. Globalisasi memiliki banyak penafsiran dari berbagai sudut pandang. Sebagian besar orang menafsirkan sebagai proses pengecilan dunia atau menjadikan dunia sebagaimana layaknya sebuah desa kecil, setiap orang bisa berkomunikasi dengan sangat mudah, berhubungan dengan waktu yang singkat, dan dengan biaya yang relatif rendah. Globalisasi adalah akibat dari revolusi teknologi, komunikasi, dan informasi yang dapat berimbas pada tatanan masyarakat, bangsa, dan negara di berbagai belahan dunia. Setiap bangsa di dunia tidak dapat melepaskan diri dari arus global akibat revolusi tersebut. Dengan kondisi seperti itu, persaingan antarwilayah pun semakin tinggi. Siapa yang menguasai komunikasi dialah yang akan menguasai dunia. Bahasa merupakan alat komunikasi di dunia. Oleh karena itu, eksistensinya di tengah arus global harus dicermati.
Arus global berimbas pula pada penggunaan dan keberadaan bahasa Indonesia di masyarakat. Penggunaan bahasa di dunia maya, internet, facebook misalnya, memberi banyak perubahan bagi sturktur bahasa Indonesia yang oleh beberapa pihak disinyalir merusak bahasa itu sendiri. Berlandaskan alasan globalisasi dan prestise, masyarakat mulai kehilangan rasa bangga menggunakan bahasa nasional. Tidak hanya pada rakyat kecil, ‘krisis bahasa’ juga ditemukan pada para pejabat negara. Kurang intelek katanya kalau dalam setiap ucapan tidak dibumbui selingan bahasa asing yang sebenarnya tidak perlu. Hal tersebut memunculkan istilah baru, yaitu ‘Indoglish’ kependekan dari ‘Indonesian-English’ untuk fenomena bahasa yang kian menghantam bahasa Indonesia. Sulit dipungkiri memang, bahasa asing kini telah menjamur penggunaannya. Mulai dari judul film, judul buku, judul lagu, sampai pemberian nama merk produk dalam negeri. Kita pun merasa lebih bangga jika lancar dalam berbicara bahasa asing. Namun, apapun alasannya, entah itu menjaga prestise, mengikuti perkembangan zaman, ataupun untuk meraup keuntungan, tanpa kita sadari secara perlahan kita telah ikut andil dalam mengikis kepribadian dan jati diri bangsa kita sendiri.
Sekarang ini penggunaan penggunaan bentuk ‘Inggris’ sudah banyak menggejala. Dalam bidang internet dan komputer kita banyak menggunakan kata mendownload, mengupload, mengupdate, dienter, direlease, didiscount, dan lain sebagainya. Tidak hanya dalam bidang komputer saja, di bidang lain pun sering kita jumpai. Selain bahasa Asing, kedudukan bahasa Indonesia juga semakin terdesak dengan pemakain bahasa-bahasa gaul di kalangan remaja. Bahasa gaul ini sering kita temukan dalam pesan singkat atau sms, chatting, dan sejenisnya. Misalnya dalam kalimat’gue gitu loh..pa sich yg ga bs’ dalam kalimat tersebut penggunaan kata ganti aku tidak dipakai lagi.
1. PERGESERAN BAHASA INDONESIA
Fenomena di atas dapat mengakibatkan pergeseran bahasa Indonesia. Fenomena pemertahanan dan pergeseran bahasa sebenarnya telah ada sejak bahasa-bahasa itu mulai mengadakan kontak dengan bahasa lainnya (Grosjean 1982). Kontak antardua suku atau suku bangsa yang masing-masing membawa bahasanya sendiri-sendiri lambat laun mengakibtakan terjadinya persaingan kebahasaan. Pada umumnya, di dalam persaingan kebahasaan terjadi fenomena-fenomena kebahasaan yang diawali dengan kedwibahsaan, diglosia, alih kode/campur kode, interferensi, dan akhirnya permertahanan dan pergeseran bahasa. Jika satu bahasa lebih dominan, lebih berprestise, atau lebih modern atau bahkan mungkin lebih “superior” daripada bahasa lain, bahasa tersebut dipastikan dapat bertahan, sedangkan lainnya dalam beberapa generasi akan ditinggalkan oleh penuturnya. Tidak jarang bahasa yang ditelantarkan oleh penuturnya itu lambat laun mengakibatkan kematian bahasa (Dorian 1982).
Dalam kepustakaan sosiolinguistik, pemertahanan dan pergeseran bahasa merupakan fenomena yang menarik. Terminologi pemertahanan dan pergeseran bahasa pertama kali diperkenalkan oleh Fishman pada tahun 1964 yang selanjutnya dikembangkan oleh Susan Gal (1979) yang meneliti masalah pilihan dan pergeseran bahasa di Oberwart, Austria timur, dan Nancy Dorian (1981) yang mengkaji pergeseran bahasa Gaelik oleh bahasa Inggris di Sutherland Timur, Britania bagian utara. Pemertahanan bahasa dan pergeseran bahasa erat kaitannya dengan ranah yang berkaitan dengan pilihan bahasa dan kewibahasaan.
Kajian pemertahanan dan pergeseran bahasa perlu dikaitkan dengan konsep pemilihan bahasa. Pemahaman tentang pilihan bahasa dalam ranah yang dihubungkan dengan konsep diglosia di atas sangat penting artinya karena dengan begitu pemertahanan dan kebocoran diglosia yang menyebabkan pergeseran bahasa dapat dilihat. Pemertahanan dan pergeseran bahasa serta kepunahan suatu bahasa bertitik-tolak dari kontak dua bahasa dalam suatu masyarakat. Gejala kepunahan bahasa akan tampak dalam proses yang cukup panjang. Mula-mula tiap-tiap bahasa masih dapat mempertahankan pemakaiannya pada ranah masing-masing. Kemudian pada suatu masa transisi masyarakat tersebut menjadi dwibahasawan sebagai suatu tahapan sebelum kepunahan bahasa aslinya (BI) dan dalam jangka waktu beberapa generasi mereka bertrasformasi menjadi masyarakat ekabahasawan kembali. Dengan demikian, pergeseran bahasa mencakup pertama-pertama kedwibahasaan (seringkali bersama diglosia) sebagai suatu tahapan menuju keekabahasaan (BI yang baru).
Demikian pula halnya dengan pemertahanan/pergeseran bahasa, ada aspek-aspek sosial psikologis pendukung suatu bahasa yang dapat diandalkan guna menangkis serangan pemakaian bahasa dari luar atau paling tidak dapat memperkuat basis perlawanan terhadap musuh.
Ada banyak faktor yang menyebabkan pergeseran dan kepunahan suatu bahasa. Berdasarkan hasil-hasil penelitian yang telah dilakukan di berbagai tempat di dunia, faktor-faktor tersebut seperti loyalitas bahasa, konsentrasi wilayah pemukiman penutur, pemakaian bahasa pada ranah tradisional sehari-hari, kesinambungan peralihan bahasa-ibu antargenerasi, pola-pola kedwibahasaan, mobilitas sosial, sikap bahasa dan lain-lain. Menurut Romaine (1989) faktor-faktor itu juga dapat berupa kekuatan kelompok mayoritas terhadap kelompok minoritas, kelas sosial, latar belakang agama dan pendidikan, hubungan dengan tanah leluhur atau asal, tingkat kemiripan antara bahasa mayoritas dengan bahasa minoritas, sikap kelompok mayoritas terhadap kelompok minoritas, perkawinan campur, kebijakan politik pemerintah terhadap bahasa dan pendidikan kelompok minoritas, serta pola pemakaian bahasa.
Sesungguhnya, terdapat banyak faktor yang dapat menyebabkan terjadinya pemertahanan dan pergeseran bahasa di masyarakat. Namun, faktor-faktor itu bervariasi antarsatu wilayah dengan wilayah lainnya. Faktor-faktor penyebab terjadinya kasus pergeseran bahasa di Oberwart-Austria berbeda dari faktor-faktor penyebab atas kasus yang sama di Sutherland-Scotlandia ataupun kasus pergeseran dan pemertahanan bahasa Lampung di Lampung. Grosjean (1982:107) mengelompokkan faktor-faktor itu ke dalam lima faktor: sosial, sikap, pemakaian, bahasa, kebijakan pemerintah, dan faktor-faktor lain. Adanya pola-pola sosial dan budaya yang beragam dalam suatu masyarakat ikut menentukan identitas sosial dan keanggotaan kelompok sosialnya, faktor-faktor sosial itu meliputi status sosial, kedudukan sosial ekonomi, umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan, pekerjaan atau jabatan, serta keanggotaan seseorang dalam suatu jaringan sosial.
2. SIKAP BAHASA
Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional harus disikapi bersama termasuk dalam pengajarannya. Bahasa Indonesia yang berfungsi sebagai alat komunikasi mempunyai peran sebagai penyampai informasi. Kebenaran berbahasa akan berpengaruh terhadap kebenaran informasi yang disampaikan. Berbagai fenomena yang berdampak buruk pada kebenaran berbahasa yang disesuaikan dengan kaidahnya, dalam hal ini berbahasa Indonesia dengan baik dan benar.
Globalisasi memang tidak dapat dihindari. Akulturasi bahasa nasional dengan bahasa dunia pun menjadi lebih terasa perannya. Menguasai bahasa dunia dinilai sangat penting agar dapat bertahan di era modern ini. Namun sangat disayangkan jika masyarakat menelan mentah-mentah setiap istilah-istilah asing yang masuk dalam bahasa Indonesia. Ada baiknya jika dipikirkan dulu penggunaannya yang tepat dalam setiap konteks kalimat. Sehingga penyusupan istilah-istilah tersebut tidak terlalu merusak tatanan bahasa nasional.
3. BAHASA INDONESIA YANG BAIK DAN BENAR
Berbahasa Indonesia dengan baik dan benar mempunyai beberapa konsekuensi logis terkait dengan pemakaiannya sesuai dengan situasi dan kondisi. Pada kondisi tertentu, yaitu pada situasi formal penggunaan bahasa Indonesia yang benar menjadi prioritas utama. Penggunaan bahasa seperti ini sering menggunakan bahasa baku. Kendala yang harus dihindari dalam pemakaian bahasa baku antara lain disebabkan oleh adanya gejala bahasa seperti interferensi, integrasi, campur kode, alih kode dan bahasa gaul yang tanpa disadari sering digunakan dalam komunikasi resmi. Hal ini mengakibatkan bahasa yang digunakan menjadi tidak baik.
Berbahasa yang baik yang menempatkan pada kondisi tidak resmi atau pada pembicaraan santai tidak mengikat kaidah bahasa di dalamnya. Ragam berbahasa seperti ini memungkinkan munculnya gejala bahasa baik interferensi, integrasi, campur kode, alih kode maupun bahasa gaul. Kodrat manusia sebagai makhluk sosial tidak lepas dari adanya interaksi dan komunikasi antarsesamanya. Bahasa sebagai sarana komunikasi mempunyai fungsi utama bahasa adalah bahwa komunikasi ialah penyampaian pesan atau makna oleh seseorang kepada orang lain. Keterikatan dan keterkaitan bahasa dengan manusia menyebabkan bahasa tidak tetap dan selalu berubah seiring perubahan kegaiatan manusia dalam kehidupannya di masyarakat.
Perubahan bahasa dapat terjadi bukan hanya berupa pengembangan dan perluasan, melainkan berupa kemunduran sejalan dengan perubahan yang dialami masyarakat. Berbagai alasan sosial dan politis menyebabkan banyak orang meninggalkan bahasanya, atau tidak lagi menggunakan bahasa lain. Dalam perkembangan masyarakat modern saat ini, masyarakat Indonesia cenderung lebih senang dan merasa lebih intelek untuk menggunakan bahasa asing. Hal tersebut memberikan dampak terhadap pertumbuhan bahasa Indonesia sebagai jati diri bangsa. Bahasa Inggris yang telah menjadi raja sebagai bahasa internasional terkadang memberi dampak buruk pada perkembangan bahasa Indonesia. Kepopuleran bahasa Inggris menjadikan bahasa Indonesia tergeser pada tingkat pemakaiannya.
Berbagai penyebab pergeseran pemakaian bahasa Indonesia, tidak hanya disebabkan oleh bahasa asing tetapi juga disebabkan oleh adanya interferensi bahasa daerah dan pengaruh bahasa gaul. Dewasa ini bahasa asing lebih sering digunakan daripada bahasa Indonesia hampir di semua sektor kehidupan. Sebagai contoh, masyarakat Indonesia lebih sering menempel ungkapan “No Smoking” daripada “Dilarang Merokok”, “Stop” untuk “berhenti”, “Exit” untuk “keluar”, “Open House” untuk penerimaan tamu di rumah pada saat lebaran, dan masih banyak contoh lain yang mengidentifikasikan bahwa masyarakat Indonesia lebih menganggap bahasa asing lebih memiliki nilai. Sehubungan dengan semakin maraknya penggunaan bahasa gaul yang digunakan oleh sebagian masyarakat modern, perlu adanya tindakan dari semua pihak yang peduli terhadap eksistensi bahasa Indonesia yang merupakan bahasa nasional, bahasa persatuan, dan bahasa pengantar dalam dunia pendidikan.
Dunia pendidikan yang syarat pembelajaran dengan media bahasa menjadikan bahasa sebagai alat komunikasi yang primer. Sejalan dengan hal tersebut, bahasa baku merupakan simbol dalam dunia pendidikan dan cendekiawan. Penguasaan Bahasa Indonesia yang maksimal dapat dicapai jika fundasinya diletakkan dengan kokoh di rumah dan di sekolah mulai TK (Taman Kanak-kanak) sampai PT (Perguruan Tinggi). Akan tetapi, fundasi ini pada umumnya tidak tercapai. Di berbagai daerah, situasi kedwibahasaan merupakan kendala. Para guru kurang menguasai prinsip-prinsip perkembangan bahasa anak sehingga kurang mampu memberikan pelajaran bahasa Indonesia yang serasi dan efektif.
Rusyana, 1984:152 menyatakan bahwa dalam membina masyarakat akademik, penggunaan bahasa yang tidak baik dan tidak benar akan menimbulkan masalah. Penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar dianggap mempunyai peranan dalam menuju arah pembangunan masyarakat akademik idaman.
Kurangnya pemahaman terhadap variasi pemakaian bahasa berimbas pada kesalahan penerapan berbahasa. Secara umum dan nyata perlu adanya kesesuaian antara bahasa yang dipakai dengan tempat berbahasa. Tolok ukur variasi pemakaian bahasa adalah bahasa Indonesia yang baik dan benar dengan parameter situasi. Bahasa Indonesia yang baik dan benar adalah bahasa Indonesia yang digunakan sesuai dengan norma yang berlaku dan sesuai dengan kaidah-kaidah bahasa Indonesia (Sugono, 1994: 8).
a. Bahasa Indonesia yang baik
Bahasa Indonesia yang baik adalah bahasa yang digunakan sesuai dengan norma kemasyarakatan yang berlaku. Misalnya, dalam situasi santai dan akrab, seperti di warung kopi, pasar, di tempat arisan, dan di lapangan sepak bola hendaklah digunakan bahasa Indonesia yang tidak terlalu terikat pada patokan. Dalam situasi formal seperti kuliah, seminar, dan pidato kenegaraan hendaklah digunakan bahasa Indonesia yang resmi dan formal yang selalu memperhatikan norma bahasa.
b. Bahasa Indonesia yang benar
Bahasa Indonesia yang benar adalah bahasa Indonesia yang digunakan sesuai dengan aturan atau kaidah bahasa Indonesia yang berlaku. Kaidah bahasa itu meliputi kaidah ejaan, kaidah pembentukan kata, kaidah penyusunan kalimat, kaidah penyusunan paragraf, dan kaidah penataan penalaran. Jika kaidah ejaan digunakan dengan cermat, kaidah pembentukan kata ditaati secara konsisten, pemakaian bahasa dikatakan benar. Sebaliknya jika kaidah-kaidah bahasa kurang ditaati, pemakaian bahasa tersebut dianggap tidak benar atau tidak baku.
Hymes (1974) dalam Chaer (1994:63) mengatakan bahwa suatu komunikasi dengan menggunakan bahasa harus memperhatikan delapan unsur yang diakronimkan menjadi SPEAKING, yakni :
a) Setting and Scene, yaitu unsur yang berkenaan dengan tempat dan waktu terjadinya percakapan. Contohnya, percakapan yang terjadi di kantin sekolah pada waktu istirahat tentu berbeda dengan yang terjadi di kelas ketika pelajaran berlangsung.
b) Participants, yaitu orang- orang yang terlibat dalam percakapan. Contohnya, antara karyawan dengan pimpinan. Percakapan antara karyawan dan pimpinan ini tentu berbeda kalau partisipannya bukan karyawan dan pimpinan, melainkan antara karyawan dengan karyawan.
c) Ends, yaitu maksud dan hasil percakapan. Misalnya, seorang guru bertujuan menerangkan pelajaran bahasa Indonesia secara menarik, tetapi hasilnya sebaliknya, murid-murid bosan karena mereka tidak berminat dengan pelajaran bahasa.
d) Act Sequences, yaitu hal yang menunjuk pada bentuk dan isi percakapan.
e) Key, yaitu menunjuk pada cara atau semangat dalam melaksanakan percakapan.
f) Instrumentalities, yaitu yang menunjuk pada jalur percakapan apakah secara lisan atau bukan.
g) Norm, yaitu yang menunjuk pada norma perilaku peserta percakapan.
h) Genres, yaitu yang menunjuk pada kategori atau ragam bahasa yang digunakan.
Sebenarnya apabila kita mendalami bahasa menurut fungsinya yaitu sebagai bahasa nasional dan bahasa negara, maka bahasa Indonesia merupakan bahasa pertama dan utama di negara Republik Indonesia.
Bahasa daerah yang berada dalam wilayah republik bertugas sebagai penunjang bahasa nasional, sumber bahan pengembangan bahasa nasional, dan bahasa pengantar pembantu pada tingkat permulaan di sekolah dasar di daerah tertentu untuk memperlancar pengajaran bahasa Indonesia dan mata pelajaran lain. Jadi, bahasa-bahasa daerah ini secara sosial politik merupakan bahasa kedua.
Selain bahasa daerah, bahasa-bahasa lain seperti bahasa Cina, bahasa Inggris, bahasa Arab, bahasa Belanda, bahasa Jerman, dan bahasa Perancis berkedudukan sebagai bahasa asing. Di dalam kedudukannya sebagai bahasa asing, bahasa-bahasa terebut bertugas sebagai sarana perhubungan antarbangsa, sarana pembantu pengembangan bahasa Indonesia, dan alat untuk memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi modern bagi kepentingan pembangunan nasional. Jadi, bahasa-bahasa asing ini merupakan bahasa ketiga di dalam wilayah negara Republik Indonesia.
4. IMPLEMENTASI TERHADAP PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA
1.Inovasi Pembelajaran Berbasis ICT (Information, Communication and Technology)
Di era global dengan berbagai kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, seharusnya bisa kita manfaatkan dalam pemertahanan bahasa Indonesia. Salah satu hal yang dapat kita lakukan adalah dengan pembelajaran bahasa Indonesia berbasis ICT (Information, Communication and Technology). Pemanfaatan ICT untuk pendidikan sudah menjadi keharusan yang tidak dapat ditunda-tunda lagi. Berbagai aplikasi ICT sudah tersedia dalam masyarakat dan sudah siap menanti untuk dimanfaatkan secara optimal untuk keperluan pendidikan. Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi untuk pendidikan dapat dilaksanakan dalam berbagai bentuk sesuai dengan fungsinya dalam pendidikan. Menurut Indrajut (2004), fungsi teknologi informasi dan komunikasi dalam pendidikan dapat dibagi menjadi tujuh fungsi, yakni: (1) sebagai gudang ilmu, (2) sebagai alat bantu pembelajaran, (3) sebagai fasilitas pendidikan, (4) sebagai standar kompetensi, (5) sebagai penunjang administrasi, (6) sebagai alat bantu manajemen sekolah, dan (7) sebagai infrastruktur pendidikan.
Merujuk pada ketujuh fungsi tersebut dapat dipahami bahwa ICT dapat memberikan kontribusi yang signifikan terhadap peningkatan kualitas kehidupan masyarakat Indonesia, khususnya dalam dunia pendidikan. Maka dari itu, perlu adanya pemanfaatan ICT dalam dunia pendidikan, aplikasi nyata dalam dunia pendidikan misalnya dengan memanfaatkan ICT sebagai alat bantu pembelajaran bahasa Indonesia. Pemanfaatan ICT dalam pembelajaran bahasa misalnya dengan memanfaatkan blog sebagai wadah kreatifitas siswa dalam meningkatkan kemampuan menulisnya. Selain itu, penggunaan media pembelajaran yang berbasis ICT akan memudahkan siswa dalam menerima dan memahami pelajaran yang disampaikan.
2.Pembelajaran Bahasa pada Ranah Multikultural
Merupakan kenyataan yang tak bisa ditolak bahwa negara-bangsa Indonesia terdiri dari berbagai kelompok etnis, budaya, agama dan lain-lain sehingga negara-bangsa Indonesia secara sederhana dapat disebut sebagai masyarakat “multikultural”. Tetapi pada pihak lain, realitas “multikultural” tersebut berhadapan dengan kebutuhan mendesak untuk merekonstruksi kembali “kebudayaan nasional Indonesia” yang dapat menjadi “integrating force” yang mengikat seluruh keragaman etnis dan budaya tersebut. Perkembangan pembangunan nasional dalam era industrialisasi di Indonesia telah memunculkan side effect yang tidak dapat terhindarkan dalam masyarakat. Konglomerasi dan kapitalisasi dalam kenyataannya telah menumbuhkan bibit-bibit masalah yang ada dalam masyarakat seperti ketimpangan antara yang kaya dan yang miskin, masalah pemilik modal dan pekerja, kemiskinan, perebutan sumber daya alam dan sebagainya. Ditambah lagi kondisi masyarakat Indonesia yang plural baik dari suku, agama, ras dan geografis memberikan kontribusi terhadap masalah-masalah sosial seperti ketimpangan sosial, konflik antar golongan, antar suku dan sebagainya. Oleh karena itu perlu dikembangkan pendidikan yang berbasis multikultur.
Asy’arie (2003) mendefinisikan pendidikan multikultural sebagai proses penanaman cara hidup menghormati, tulus, dan toleran terhadap keanekaragaman budaya yang hidup di tengah-tengah masyarakat plural. Dengan pendidikan multikultural, diharapkan adanya kekenyalan dan kelenturan mental bangsa menghadapi benturan konflik sosial, sehingga persatuan bangsa tidak mudah patah dan retak.
Pendidikan multikultural adalah suatu pendekatan progresif untuk melakukan transformasi pendidikan yang secara menyeluruh membongkar kekurangan, kegagalan dan praktik-praktik diskriminatif dalam proses pendidikan. Blum dalam Sparingga (2003) mengatakan bahwa ada empat nilai yang berbeda namun saling berhubungan dalam pendidikan untuk masyarakat multikultural, yaitu antirasisme, multikulturalisme, komunitas antar-ras, dan penghargaan terhadap manusia sebagai individu.
Dalam era global pembelajaran bahasa Indonesia dalam konteks multikultur sangat perlu diterapkan. Pembelajaran bahasa Indonesia pada masyarakat Indonesia yang multikultur sudah seharusnya dilaksanakan dengan pembelajaran yang berbasis multikultur. Selain itu, pembelajaran bahasa dengan memanfaatkan kearifan lokal akan lebih bermakna dan dapat melestarikan budaya Indonesia.
DAFTAR RUJUKAN
Asy’arie, Musa . ”Pendidikan Multikultural dan Konflik Bangsa” dalam harian Kompas 4 September 2003.
Dorian, N. 1982. Language Death: The Life Cycle of a Scottish Gaelic Dialect. Philadelphia: University of Pennsylvania Press.
________. “Language Loss and Maintenance in Language Contact Situations”. Dalam Lambert dan B. Freed (ed). The Loos of Language Skills. Rowley, Massacusatt: Newbury House.
Chaer, Abdul. 1994. Linguistik Umum. Jakarta. Rineka Cipta.
Fishman, Joshua A. 1990 Language and Ethnicity in Minority Sociolinguistic Perspectives. Cleveden: Multilingual Matters Ltd.
Friedman Thomas, L. 2005. The World is Flat.
Gal, Susan. 1979 Language Shift: Social Determinants of Linguistic Change in Bilingual Austria. New York: Academic Press.
Groesjean, Fracois. 1982. Life with Two Languages. Cambridge: Harvard University Press.
Rokhman, Fathur. 2003. Pemilihan Bahasa dalam Masyarakat Dwibahasa: Kajian Sosiolinguistik di Banyumas. Disertasi. Jogjakarta: Universitas Gadjah Mada.
_______________. 2006. Membangun Komunikasi Lintas Budaya yang Bermakna dalam Masyarakat Multikultural: Studi Sosiolinguistik. Pidato Ilmiah Pengukuhan Guru Besar Universitas Negeri Semarang.
Romaine, Suzanne. 1989 Biliangualism. Oxford: Basil Blackwell.
Rusyana, Yus. 1984. Bahasa dan Sastra dalam Gamitan Pendidikan: Himpunan Bahasan. Penerbit: Diponegoro.
Sugono, Dendy. 1994. Berbahasa Indonesia dengan Benar. Jakarta: Puspa Swara.
Senin, 19 April 2010
TERPENDAM, KESIDIAN MENIMBA PENGETAHUAN FORMAL.
TERPENDAM, KESIDIAN MENIMBA PENGETAHUAN FORMAL.
Ujian nasinal pun berlansung lancr seperti yang dicita-citakan oleh DEPDIKNA, tetapi sebagian besar pemburu pendidikan tingkat selanjutnya masih pertanyakan karena beberapa indicator yang yang melatar belakangi yakni: pengasilang ekonomi orang tua untuk mencukupi kebutuhan sehari. Biaya pendidikan selalu saja mengalami kenaikan.
Setiap tahun ajaran buru, selalu saja ada kenaikan biaiya pendidikan, biaya yang pasti mengalami kenaikan di perguruan tinggi (PT), uang satuan kredit studi (SKS) sebesar sepulu persen (10%) dan dana pengembangan pembangunan (DPP ) Uang kuliah tetap (UKT) sebagai dana bersama. Yang ruting naik adalah SKS. Sedangkan untuk DPP, kenaikannya kapan dan seberapa besar, tidak diatur secara tertulis . karena meliahatnya peningkatan biaiya operasional pendidikan semakin mahal maka dari itu, seluruh (PT) rutin naik setiap tahunya. Namun, ternyata uang SKS tidak sangup menanggung biaya tersenut. biaya pendidikan yang makin mahal menjadi dilema bagi Indonesia yang sedang mengalami transformasi menuju negara maju.
Dalam proses transformasi membutuhkan generasi muda yang memiliki pendidikan baik,. Jika biaya pendidikan mahal maka hanya orang-orang mampu secara finansial yang bisa menikmati pendidikan. Banyak masyarakat Indonesia yang cerdas tapi tidak bisa menikmati pendidikan tinggi karena tidak memiliki kemampuan finansial. Jika hal ini terus berlangsung, pada sekitar 30 tahun mendatang, masyarakat kelas menengah di Indonesia, hanya berasal dari masyarakat kelas menengah saat ini. Sedangkan potensi dari keluarga sederhana tidak bisa tumbuh. Kalau biaiya pendidikan tinggi, relatif tidak bisa diakses masyarakat dari keluarga sederhana.
Semakin mahalnya biayaia pendidikan tidak mungkin luput dari kritik mahasiswa, bertolak dari itu pers-pers mahasiswa sudah mulai mengkritik kenaikan biaiya pendidikan salah satunya, pers USD mengankat dengan tema “ Mempertanyakan Fasilitas, Kualitas, dan Kemanusiaan USD Saat Kuliah Makin Mahal”.
Pada minggu-minggu terakhir ini ramai dibicarakan mengenai makin mahalnya biaya pendidikan di Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Meski nanti lulus SPMB, calon mahasiswa baru harus menghadapi persoalan berikutnya: kewajiban membayar biaya pendidikan yang sangat mahal. Menurut Antara News (04/07/07), di Universitas Indonesia, uang pangkalnya saja besarnya mencapai Rp 25 juta untuk fakultas-fakultas eksakta.
Di PTN lain yang saat ini berstatus BHMN seperti IPB, ITB, Unpad, UGM, Unair, dan sebagainya juga menetapkan tarif uang pangkal yang tidak berbeda jauh dengan UI. Selain uang pangkal mereka juga diharuskan membayar berbagai komponen dana yang beragam di tiap jurusan dan fakultas. Semakin tinggi peminatnya, suatu jurusan atau fakultas akan menetapkan tarif yang tinggi pula. Beberapa jurusan atau fakultas di BHMN tersebut ada yang harus membayar total Rp 45 hingga Rp 120 juta.
Akibat: kalau makin mahalnya biaya pendidikan di Perguruan Tinggi (PT), kejadian seperti pada tahun sebelumnya kemungkinan berulang, yaitu adanya beberapa peserta yang dinyatakan lulus SPMB, namun kemudian mengundurkan diri karena tidak mampu menanggung biaya pendidikannya.
Ujian Nasional sudah mulai digelar tanggal 22 Maret hingga samapai 25 2010. tentu, tidak ada orang tua yang tidak ingin putra-putrinya bisa meneruskan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi. Karena itu, mereka yang lulus kemudian ramai-ramai mencari sekolah yang lebih tinggi, atau mencari perguruan tinggi (bagi yang lulus sekolah lanjutan tingkat atas/SLTA).
Namun, bagi keluarga miskin atau keluarga kurang mampu, tahun ajaran baru rasanya menjadi tahun-tahun yang berat karena biaya pendidikan makin hari makin mahal. Orang-orang yang melakukan bisnis di bidang pendidikan (ketua yayasan atau pimpinan lembaga pendidikan), terutama bagi sekolah-sekolah swasta, tampaknya tak mau tahu, sungguh-sungguh tidak mau tahu, terhadap masyarakat yang berpenghasilan pas-pasan. Pokoknya uang pangkal, uang gedung, uang buku, uang praktikum, dan entah uang apa lagi, harus dibayar sebelum anak masuk sekolah (atau sebelum tahun ajaran dimulai).
Mau bersekolah di sekolah negeri, nilai ujian siswa sering (banyak) tidak memenuhi persyaratan. Nilainya harus benar-benar di atas 7. Karena itu, sekolah di negeri juga tidak mudah, apalagi (konon) masuk di sekolah negeri pun (yang nilainya kurang dari persyaratan) harus mengeluarkan uang tidak sedikit.
Sekolah swasta atau lembaga-lembaga pendidikan swasta yang mutunya rendah pun ikut-ikutan menarik biaya yang tinggi. Padahal, setelah tamat sekolah, mencari pekerjaan pun sulit. Jangankan hanya tamat SLTA, sarjana pun banyak yang menganggur. kalau anak tidak sekolah, lantas mau bagaimana? Sampai kapan, keadaan seperti ini?"
Satu-satunya cara
Kalau memang Negara Indonesia punya cita-cita dan dasar bineka tungal ika, bagiama berfikir membangkitkan sumberdaya manusia. Yang perluh melihat:
Pertama: Alumni perguruan tinggi yang telah berhasil agar memberikan bantuan kepada almamaternya dalam bentuk beasiswa melalui organisasi ikatan alumni.“Alumni perguruan tinggi saat ini tidak menyadari jika mereka sudah diuntungkan dengan menikmati pendidikan tinggi yang biayanya masih murah. Melalui pendidikan tinggi, terjadi percepatan bagi seseorang dari keluarga sederhana masuk ke lapisan masyarakat kelas menengah.Jika mereka tidak memberikan bantuan dalam bentuk beasiswa, maka generasi adik-adiknya atau anak-anaknya dari keluarga sederhana tidak bisa lagi menikmati pendidikan tinggi, karena biayanya sudah mahal.
Kedua, perguruan tinggi harus bisa mengelola pendanaan dengan cara yang lebih modern, yakni dengan melihat sektor swasta untuk berkontribusi membantu biaya pendidikan tinggi. “Bentuknya berupa beasiswa atau penggalangan dana abadi,” masyarakat saat ini tidak bisa berharap seluruh biaya pendidikan sampai ke perguruan tinggi ditanggung oleh pemerintah.
Pada saat seluruh masyarakat Indonesia masih miskin, beban tersebut masih ditanggung pemerintah. Tapi setelah sebagian masyarakat status sosial ekonominya sudah lebih baik, mereka harus memberikan kontribusi agar pendidikan tinggi juga tetap bisa diakses oleh masyarakat dari keluarga sederhana. “Pemerintah saat ini sudah membantu biaya pendidikan dasar dan menengah, karena itu swasta harus berkontribusi membantu biaya pendidikan tinggi.
Karut-marut ini tidak dapat didiamkan atau bahkan dibenarkan oleh kita yang masih percaya pada UUD 1945 sebagai landasan berbangsa dan bernegara. Tak ada cara lain kecuali melakukan perombakan mendasar pada kebijakan, pelaksanaan, dan pengelolaan lembaga pendidikan. Perombakan mendasar harus dimulai dari manajemen pemerhati pendidikan pimpinan negara kita tercinta. Tidak ada cara lain membuat peraturan sendiri dari pengelola kampus itu sendiri. Harus memperbaiki seluruh kebijakan pengawasan dan pengendalian dari lembaga pendidikan pusat.
Oleh
Oleh ( Yulius Pekei, Mahasiswa PBSID, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta ).
No.HP. 081392549876 Atau E-mail: yykebadabi@yahoo.com.
Ujian nasinal pun berlansung lancr seperti yang dicita-citakan oleh DEPDIKNA, tetapi sebagian besar pemburu pendidikan tingkat selanjutnya masih pertanyakan karena beberapa indicator yang yang melatar belakangi yakni: pengasilang ekonomi orang tua untuk mencukupi kebutuhan sehari. Biaya pendidikan selalu saja mengalami kenaikan.
Setiap tahun ajaran buru, selalu saja ada kenaikan biaiya pendidikan, biaya yang pasti mengalami kenaikan di perguruan tinggi (PT), uang satuan kredit studi (SKS) sebesar sepulu persen (10%) dan dana pengembangan pembangunan (DPP ) Uang kuliah tetap (UKT) sebagai dana bersama. Yang ruting naik adalah SKS. Sedangkan untuk DPP, kenaikannya kapan dan seberapa besar, tidak diatur secara tertulis . karena meliahatnya peningkatan biaiya operasional pendidikan semakin mahal maka dari itu, seluruh (PT) rutin naik setiap tahunya. Namun, ternyata uang SKS tidak sangup menanggung biaya tersenut. biaya pendidikan yang makin mahal menjadi dilema bagi Indonesia yang sedang mengalami transformasi menuju negara maju.
Dalam proses transformasi membutuhkan generasi muda yang memiliki pendidikan baik,. Jika biaya pendidikan mahal maka hanya orang-orang mampu secara finansial yang bisa menikmati pendidikan. Banyak masyarakat Indonesia yang cerdas tapi tidak bisa menikmati pendidikan tinggi karena tidak memiliki kemampuan finansial. Jika hal ini terus berlangsung, pada sekitar 30 tahun mendatang, masyarakat kelas menengah di Indonesia, hanya berasal dari masyarakat kelas menengah saat ini. Sedangkan potensi dari keluarga sederhana tidak bisa tumbuh. Kalau biaiya pendidikan tinggi, relatif tidak bisa diakses masyarakat dari keluarga sederhana.
Semakin mahalnya biayaia pendidikan tidak mungkin luput dari kritik mahasiswa, bertolak dari itu pers-pers mahasiswa sudah mulai mengkritik kenaikan biaiya pendidikan salah satunya, pers USD mengankat dengan tema “ Mempertanyakan Fasilitas, Kualitas, dan Kemanusiaan USD Saat Kuliah Makin Mahal”.
Pada minggu-minggu terakhir ini ramai dibicarakan mengenai makin mahalnya biaya pendidikan di Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Meski nanti lulus SPMB, calon mahasiswa baru harus menghadapi persoalan berikutnya: kewajiban membayar biaya pendidikan yang sangat mahal. Menurut Antara News (04/07/07), di Universitas Indonesia, uang pangkalnya saja besarnya mencapai Rp 25 juta untuk fakultas-fakultas eksakta.
Di PTN lain yang saat ini berstatus BHMN seperti IPB, ITB, Unpad, UGM, Unair, dan sebagainya juga menetapkan tarif uang pangkal yang tidak berbeda jauh dengan UI. Selain uang pangkal mereka juga diharuskan membayar berbagai komponen dana yang beragam di tiap jurusan dan fakultas. Semakin tinggi peminatnya, suatu jurusan atau fakultas akan menetapkan tarif yang tinggi pula. Beberapa jurusan atau fakultas di BHMN tersebut ada yang harus membayar total Rp 45 hingga Rp 120 juta.
Akibat: kalau makin mahalnya biaya pendidikan di Perguruan Tinggi (PT), kejadian seperti pada tahun sebelumnya kemungkinan berulang, yaitu adanya beberapa peserta yang dinyatakan lulus SPMB, namun kemudian mengundurkan diri karena tidak mampu menanggung biaya pendidikannya.
Ujian Nasional sudah mulai digelar tanggal 22 Maret hingga samapai 25 2010. tentu, tidak ada orang tua yang tidak ingin putra-putrinya bisa meneruskan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi. Karena itu, mereka yang lulus kemudian ramai-ramai mencari sekolah yang lebih tinggi, atau mencari perguruan tinggi (bagi yang lulus sekolah lanjutan tingkat atas/SLTA).
Namun, bagi keluarga miskin atau keluarga kurang mampu, tahun ajaran baru rasanya menjadi tahun-tahun yang berat karena biaya pendidikan makin hari makin mahal. Orang-orang yang melakukan bisnis di bidang pendidikan (ketua yayasan atau pimpinan lembaga pendidikan), terutama bagi sekolah-sekolah swasta, tampaknya tak mau tahu, sungguh-sungguh tidak mau tahu, terhadap masyarakat yang berpenghasilan pas-pasan. Pokoknya uang pangkal, uang gedung, uang buku, uang praktikum, dan entah uang apa lagi, harus dibayar sebelum anak masuk sekolah (atau sebelum tahun ajaran dimulai).
Mau bersekolah di sekolah negeri, nilai ujian siswa sering (banyak) tidak memenuhi persyaratan. Nilainya harus benar-benar di atas 7. Karena itu, sekolah di negeri juga tidak mudah, apalagi (konon) masuk di sekolah negeri pun (yang nilainya kurang dari persyaratan) harus mengeluarkan uang tidak sedikit.
Sekolah swasta atau lembaga-lembaga pendidikan swasta yang mutunya rendah pun ikut-ikutan menarik biaya yang tinggi. Padahal, setelah tamat sekolah, mencari pekerjaan pun sulit. Jangankan hanya tamat SLTA, sarjana pun banyak yang menganggur. kalau anak tidak sekolah, lantas mau bagaimana? Sampai kapan, keadaan seperti ini?"
Satu-satunya cara
Kalau memang Negara Indonesia punya cita-cita dan dasar bineka tungal ika, bagiama berfikir membangkitkan sumberdaya manusia. Yang perluh melihat:
Pertama: Alumni perguruan tinggi yang telah berhasil agar memberikan bantuan kepada almamaternya dalam bentuk beasiswa melalui organisasi ikatan alumni.“Alumni perguruan tinggi saat ini tidak menyadari jika mereka sudah diuntungkan dengan menikmati pendidikan tinggi yang biayanya masih murah. Melalui pendidikan tinggi, terjadi percepatan bagi seseorang dari keluarga sederhana masuk ke lapisan masyarakat kelas menengah.Jika mereka tidak memberikan bantuan dalam bentuk beasiswa, maka generasi adik-adiknya atau anak-anaknya dari keluarga sederhana tidak bisa lagi menikmati pendidikan tinggi, karena biayanya sudah mahal.
Kedua, perguruan tinggi harus bisa mengelola pendanaan dengan cara yang lebih modern, yakni dengan melihat sektor swasta untuk berkontribusi membantu biaya pendidikan tinggi. “Bentuknya berupa beasiswa atau penggalangan dana abadi,” masyarakat saat ini tidak bisa berharap seluruh biaya pendidikan sampai ke perguruan tinggi ditanggung oleh pemerintah.
Pada saat seluruh masyarakat Indonesia masih miskin, beban tersebut masih ditanggung pemerintah. Tapi setelah sebagian masyarakat status sosial ekonominya sudah lebih baik, mereka harus memberikan kontribusi agar pendidikan tinggi juga tetap bisa diakses oleh masyarakat dari keluarga sederhana. “Pemerintah saat ini sudah membantu biaya pendidikan dasar dan menengah, karena itu swasta harus berkontribusi membantu biaya pendidikan tinggi.
Karut-marut ini tidak dapat didiamkan atau bahkan dibenarkan oleh kita yang masih percaya pada UUD 1945 sebagai landasan berbangsa dan bernegara. Tak ada cara lain kecuali melakukan perombakan mendasar pada kebijakan, pelaksanaan, dan pengelolaan lembaga pendidikan. Perombakan mendasar harus dimulai dari manajemen pemerhati pendidikan pimpinan negara kita tercinta. Tidak ada cara lain membuat peraturan sendiri dari pengelola kampus itu sendiri. Harus memperbaiki seluruh kebijakan pengawasan dan pengendalian dari lembaga pendidikan pusat.
Oleh
Oleh ( Yulius Pekei, Mahasiswa PBSID, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta ).
No.HP. 081392549876 Atau E-mail: yykebadabi@yahoo.com.
JEJAK PERJALANAN
JEJAK PERJALANAN
detik demi detik ku melewati
menit demi menit ku melangkah
jam demi jam ku menahan lapar
sebatang kayu besi membawahku
dari kampung ke kampung
dari desa ke desa
dari kota ke kota
ku memandang kiri kanan jalan
Cuma lampu-lampu yang melambaikan
Mengucapkan ucapan salam
Kapankah ku tiba di istana Negara
Kariya yulius pekei, tanggal 5 April , 2010
detik demi detik ku melewati
menit demi menit ku melangkah
jam demi jam ku menahan lapar
sebatang kayu besi membawahku
dari kampung ke kampung
dari desa ke desa
dari kota ke kota
ku memandang kiri kanan jalan
Cuma lampu-lampu yang melambaikan
Mengucapkan ucapan salam
Kapankah ku tiba di istana Negara
Kariya yulius pekei, tanggal 5 April , 2010
KUPU-KUPU
KUPU-KUPU
Kupu-kupu menghingap
Di makota daun pada senjah hari
Ku memandan kedip-kedip sayap
Menghaturkan doa
Wahai enkau jadi gadis
Ku akan mengengamkanmu
Ku selalu memantau
Pada malam hari kemanaka engkau pergi
Sahabatmu Makota bunga
selalu melambai-lambai menantimu
bisahka engkau menemani pada malam hari
karya yulius pekei tanggal 5 April , 2010
Kupu-kupu menghingap
Di makota daun pada senjah hari
Ku memandan kedip-kedip sayap
Menghaturkan doa
Wahai enkau jadi gadis
Ku akan mengengamkanmu
Ku selalu memantau
Pada malam hari kemanaka engkau pergi
Sahabatmu Makota bunga
selalu melambai-lambai menantimu
bisahka engkau menemani pada malam hari
karya yulius pekei tanggal 5 April , 2010
RINDU MENGHANTUIKU
RINDU MENGHANTUIKU
Detik per detik ku menantimu
Menit per menit ku merindukanmu
Jam per jam ku menghayatimu
Hari per hari ku meneteskan air mata
Mingu per minggu menantimu
Bulan per bulan ku menahan rindu
Tahun per tahun ku selalu bayankan wajahmu
Wahai angrek mawar sejati
Kapankah engkau menunjukan mukamu
Ku hanya selalu ketemu lewat mimpi
Kapankah engkau menyembukan pedih dan perih ini.
Ku ucapkan hanya sepata kata salam,
Selamat jalan selamat menanti
Kariya yulius pekei tanggal 5 April 2010
Catatan: sajak diatas ini saya tulis pada tanggal 5 April 2010, puisi ini tulis pada saat perjalanan dari jokjakarta menuju Jakarta, dalam bis dambri itu saya melihat kiri kanan saya ternya orang, tak kenal semua. Karena kesunyianya sendiri, tiap detik saya menyedipkan mata karena mengantuk, tetapi malah saya membayang- bayangkan wajah, muka, sikap, adik perempuan yang meningal sejak saya duduk di bangku SMP kelas tiga.
Detik per detik ku menantimu
Menit per menit ku merindukanmu
Jam per jam ku menghayatimu
Hari per hari ku meneteskan air mata
Mingu per minggu menantimu
Bulan per bulan ku menahan rindu
Tahun per tahun ku selalu bayankan wajahmu
Wahai angrek mawar sejati
Kapankah engkau menunjukan mukamu
Ku hanya selalu ketemu lewat mimpi
Kapankah engkau menyembukan pedih dan perih ini.
Ku ucapkan hanya sepata kata salam,
Selamat jalan selamat menanti
Kariya yulius pekei tanggal 5 April 2010
Catatan: sajak diatas ini saya tulis pada tanggal 5 April 2010, puisi ini tulis pada saat perjalanan dari jokjakarta menuju Jakarta, dalam bis dambri itu saya melihat kiri kanan saya ternya orang, tak kenal semua. Karena kesunyianya sendiri, tiap detik saya menyedipkan mata karena mengantuk, tetapi malah saya membayang- bayangkan wajah, muka, sikap, adik perempuan yang meningal sejak saya duduk di bangku SMP kelas tiga.
Angrek Hitam
Angrek Hitam
Sekujur batangnya berduri tajam
Menusuk! Menggores!
Sekujur batangnya sosok nyeri
Bagi lunak dan sabar hati
Mawar hitam
Telah tumbuh dan berkembang
Diantara pepohonan di tenggah lading
Kita masih belum paham
( dua tanaman didekatnya terkulai satu
Tanaman lainya rontok lainya)
Sudah terlanjur membiarkan tumbuh
Tegak menopak kelopak hitam
Memuaja diri ditenga luka
Merasa tiada tersentuh angin kencang
( tanaman disekelilinya telah jadi perisai
Merintangi angin meremas kelopaknya)
Mawar hitam
Dalam tubuhnya mengalir tuba
Hidupnya telah meracuni mjiwa
Tapi siapa yang menebasnya
Yariya yulius pekei, 28 maret 20010
Sekujur batangnya berduri tajam
Menusuk! Menggores!
Sekujur batangnya sosok nyeri
Bagi lunak dan sabar hati
Mawar hitam
Telah tumbuh dan berkembang
Diantara pepohonan di tenggah lading
Kita masih belum paham
( dua tanaman didekatnya terkulai satu
Tanaman lainya rontok lainya)
Sudah terlanjur membiarkan tumbuh
Tegak menopak kelopak hitam
Memuaja diri ditenga luka
Merasa tiada tersentuh angin kencang
( tanaman disekelilinya telah jadi perisai
Merintangi angin meremas kelopaknya)
Mawar hitam
Dalam tubuhnya mengalir tuba
Hidupnya telah meracuni mjiwa
Tapi siapa yang menebasnya
Yariya yulius pekei, 28 maret 20010
Langit tak bening lagi
Langit tak bening lagi
Dari awal hinga akhir kelahiran
Telah terukir urutan kedudukan
Yang kemudian dikukuhkan alam
Dan terpateri selala-lamanya
Lalu dalam meniti hari
Sama merangsan esok
Sama merangsan esok
Sama layankan pandang ke angkasa
Sama gantungkan angan diantara bintang
Maka segala gerak untuk mewujutkan hasrat
Hingga segalah noktah batas di langgar
Demi tak siasikan upaya
Entah kapan semua itu berakhir
Kerenanya kebersamaan pun kini jadi sirkuit ambisi
Kariya yulius pekei tanggal 5 maret 2010
Dari awal hinga akhir kelahiran
Telah terukir urutan kedudukan
Yang kemudian dikukuhkan alam
Dan terpateri selala-lamanya
Lalu dalam meniti hari
Sama merangsan esok
Sama merangsan esok
Sama layankan pandang ke angkasa
Sama gantungkan angan diantara bintang
Maka segala gerak untuk mewujutkan hasrat
Hingga segalah noktah batas di langgar
Demi tak siasikan upaya
Entah kapan semua itu berakhir
Kerenanya kebersamaan pun kini jadi sirkuit ambisi
Kariya yulius pekei tanggal 5 maret 2010
Konpensasi
Konpensasi
Pada hari ini,
Dibaringkan segala suka dan duka
Juga kerinduan yang pekat dalam dada
Serta semua tanda Tanya di kepala
Yang tak terjawab sepanjang perjalanan
Di hari-hari kemarin
Biarlah semua itu tingal kenanggan
Yang akan sirna dengan sendirinya
Seiring waktu yang terus berputar
Dalam meniti hari-hari berikutnya
Sehingga gerak selanjutnya
Terpusat pada satu cahaya
Ditempu denga sepenuh daya.
Catatan: puisi di atas ini saya
Kariya yuliua pekei tanggal 12 februari 2010
Pada hari ini,
Dibaringkan segala suka dan duka
Juga kerinduan yang pekat dalam dada
Serta semua tanda Tanya di kepala
Yang tak terjawab sepanjang perjalanan
Di hari-hari kemarin
Biarlah semua itu tingal kenanggan
Yang akan sirna dengan sendirinya
Seiring waktu yang terus berputar
Dalam meniti hari-hari berikutnya
Sehingga gerak selanjutnya
Terpusat pada satu cahaya
Ditempu denga sepenuh daya.
Catatan: puisi di atas ini saya
Kariya yuliua pekei tanggal 12 februari 2010
MATRIKULASI MENYELIMUTI UNIVERSITAS SANATA DHARMA (USD)
MATRIKULASI MENYELIMUTI UNIVERSITAS SANATA DHARMA (USD)
Sanata Dharma membuka mata untuk mengankat daerah-daerah yang ketingalan sumberdaya manusia seperti Papua,NTT melalui Matrikulasi. Program Matrikulasi berlaku selama satu tahun, selama matrikulasi anak–anak peserta Matrikulasi di kususkan mempelajari empat mata pelajaran yakni, bahasa Indonesia, bahasa Inggris, Matematiaka, serta Spritualitas atau Pengembangan diri. Setelah selesai Matrikulasi penyelengara memberi kesempatan untuk memilih jurusan masin-masin sesuai dengan jurusan yang diminatinya. Program ini, sudah berlangsung sejak tahun 2007. Selama berlansung kerja sama selama tiga tahun, mahasiswa papua melalui program tersebut,sudah tersebar ke seluruh jurusan yang ada di Universitas Sanata Dharama (USD).
Pemerintah sangup bekerja sama, Sanata Dharma bersedia menerima dan menampung, karena ini merupakan bagian yang sangat penting untuk mengankat sumber daya manusia (SDM) Tutur penyelengara program Matrikulasi Dekan FKIP,USD, Bapak Drs.T. Sarkim, M. Ed. Ph .D. Sumberdaya manausia di propinsi papua diangap belum mampu bersain dengan tenaga-tenaga trampil di luar papua. Sebagian pihak menilai tidak siapan sumberdaya manusia di propinsi papua pada umumya dan khususnya timika dan pegunungan bintang, mengadapi pasar kerja disebabkan oleh persoalan pendidikan dasar dan menengah kualitasnya jauh di bawah standar.
Akibatnya, tahun sebelumnya hampir semua mahasiswa dan pelajar asal Timika melalui lembaga Pengembangan Amugme dan Kamoro (LPMK) dan Kabupaten Pegunungan Bintang yang melalui biaiya beasiswa belum mencapai pada target yang dicicta-citakan. Dengan melatar belakangi kenyataan ini, Maka kedua lembaga tersebut memutuskan pendekatan dengan Universitas Sanata Dharma, untuk bekerja sama melalui matrikulasi. Pradigma baru ini, ingin mencoba agar mengejar ketingalan bersaing dengan mahasiswa dan pelajar lainya dari luar papua.
OLEH YULIUS PEKEI (Mahasiswa pendidikan bahasa sastra indonesia dan daerah (PBSID/FKIP/USD)
Email : yykebadabi@yahoo.com
HP : 081392549876
Sanata Dharma membuka mata untuk mengankat daerah-daerah yang ketingalan sumberdaya manusia seperti Papua,NTT melalui Matrikulasi. Program Matrikulasi berlaku selama satu tahun, selama matrikulasi anak–anak peserta Matrikulasi di kususkan mempelajari empat mata pelajaran yakni, bahasa Indonesia, bahasa Inggris, Matematiaka, serta Spritualitas atau Pengembangan diri. Setelah selesai Matrikulasi penyelengara memberi kesempatan untuk memilih jurusan masin-masin sesuai dengan jurusan yang diminatinya. Program ini, sudah berlangsung sejak tahun 2007. Selama berlansung kerja sama selama tiga tahun, mahasiswa papua melalui program tersebut,sudah tersebar ke seluruh jurusan yang ada di Universitas Sanata Dharama (USD).
Pemerintah sangup bekerja sama, Sanata Dharma bersedia menerima dan menampung, karena ini merupakan bagian yang sangat penting untuk mengankat sumber daya manusia (SDM) Tutur penyelengara program Matrikulasi Dekan FKIP,USD, Bapak Drs.T. Sarkim, M. Ed. Ph .D. Sumberdaya manausia di propinsi papua diangap belum mampu bersain dengan tenaga-tenaga trampil di luar papua. Sebagian pihak menilai tidak siapan sumberdaya manusia di propinsi papua pada umumya dan khususnya timika dan pegunungan bintang, mengadapi pasar kerja disebabkan oleh persoalan pendidikan dasar dan menengah kualitasnya jauh di bawah standar.
Akibatnya, tahun sebelumnya hampir semua mahasiswa dan pelajar asal Timika melalui lembaga Pengembangan Amugme dan Kamoro (LPMK) dan Kabupaten Pegunungan Bintang yang melalui biaiya beasiswa belum mencapai pada target yang dicicta-citakan. Dengan melatar belakangi kenyataan ini, Maka kedua lembaga tersebut memutuskan pendekatan dengan Universitas Sanata Dharma, untuk bekerja sama melalui matrikulasi. Pradigma baru ini, ingin mencoba agar mengejar ketingalan bersaing dengan mahasiswa dan pelajar lainya dari luar papua.
OLEH YULIUS PEKEI (Mahasiswa pendidikan bahasa sastra indonesia dan daerah (PBSID/FKIP/USD)
Email : yykebadabi@yahoo.com
HP : 081392549876
PENGEMUDI KENDARAAN BERMOTOR DIWAJIBKAN MENYALAKAN LAMPU DI SIANG HARI
PENGEMUDI KENDARAAN BERMOTOR DIWAJIBKAN MENYALAKAN LAMPU DI SIANG HARI
Penganti Undang-Undang No.14 tahun 1992 tentang lalu lintas, pengemudi kendaraan bermor diwajibkan menyalakan lampu terutama pada siang hari.
Peraturan tersebut menuai pendapat berbeda dari masyarakat, namun ditetapkannya Undang-undang baru. No. 22 Tahun 2009 tentang angkutan jalan, tanggal 22 Juni 2009, maka segala ketentuan dalam Undang-Undang tersebut berlaku secara Nasional.
Dalam salah satu Pasal yakni, pasal 107 Undang-Undang tersebut, diatur tentang kewajiban pengemudi kendaraan bermotor menyalakan lampu pada siang hari, yang dikenal dengan program Safety Riding atau cara aman berkendaraan. Bagi mereka yang tidak menyalakan lampu, akan dikenakan pidana maksimal 15 hari kurungan atau denda 100 ribu rupiah. Hari ke hari semakin membingukan yang mana pendapat ahli / media tentang masalah menyalakan lampu hazard saat hujan lebat di Tabloid OTOMOTIF edisi 01/XIX.
Bukannya tamba jelas, yang ada malah memboroskan aki pada motor, Melanggar undang-undang, karena sudah menyalakan lampu utama sepanjang siang hari maka tidak bisa difungsikan pada malam hari. Selain itu, aturan tersebut hanya menguntungkan pihak-pihak tertentu saja, sedangkan pengendara akan membayar cost yang lebih tinggi untuk kendaraannya.
Antisipasi
Jadi solusi yang tepat adalah memberikan pembekalan dan pemahaman kepada masyarakat melalui sosialisasi dari polres setempat, Supaya masyarakat bisa memahami pengunaan lampu, baik lampu hazard,sein maupun lampu utama.
Oleh: Yulius Pekei (Mahasiswa, PBSID.FKIP, Universitas Sanata Dharama) Yogyakarta.
Penganti Undang-Undang No.14 tahun 1992 tentang lalu lintas, pengemudi kendaraan bermor diwajibkan menyalakan lampu terutama pada siang hari.
Peraturan tersebut menuai pendapat berbeda dari masyarakat, namun ditetapkannya Undang-undang baru. No. 22 Tahun 2009 tentang angkutan jalan, tanggal 22 Juni 2009, maka segala ketentuan dalam Undang-Undang tersebut berlaku secara Nasional.
Dalam salah satu Pasal yakni, pasal 107 Undang-Undang tersebut, diatur tentang kewajiban pengemudi kendaraan bermotor menyalakan lampu pada siang hari, yang dikenal dengan program Safety Riding atau cara aman berkendaraan. Bagi mereka yang tidak menyalakan lampu, akan dikenakan pidana maksimal 15 hari kurungan atau denda 100 ribu rupiah. Hari ke hari semakin membingukan yang mana pendapat ahli / media tentang masalah menyalakan lampu hazard saat hujan lebat di Tabloid OTOMOTIF edisi 01/XIX.
Bukannya tamba jelas, yang ada malah memboroskan aki pada motor, Melanggar undang-undang, karena sudah menyalakan lampu utama sepanjang siang hari maka tidak bisa difungsikan pada malam hari. Selain itu, aturan tersebut hanya menguntungkan pihak-pihak tertentu saja, sedangkan pengendara akan membayar cost yang lebih tinggi untuk kendaraannya.
Antisipasi
Jadi solusi yang tepat adalah memberikan pembekalan dan pemahaman kepada masyarakat melalui sosialisasi dari polres setempat, Supaya masyarakat bisa memahami pengunaan lampu, baik lampu hazard,sein maupun lampu utama.
Oleh: Yulius Pekei (Mahasiswa, PBSID.FKIP, Universitas Sanata Dharama) Yogyakarta.
dari OTSUS ke TRANSMIGRASI di PAPUA
dari OTSUS ke TRANSMIGRASI di PAPUA
Selama sepuluh tahun otonomi Khusus (Otsus) berjalan, Pemerintah Propinsi belum mencapai sasaran kesejatraan bagi masyarakat sendiri. pendataan penduduk masih belum menata baik. Penduduk yang ada belum mencapai harapan yang kita inginkan, namun pemerintah propinsi papua membuka wadah baru bagi penambaan penduduk di propinsi papua melalui program Transmigrasi.
Program transmingrasi di Papua saat ini akan dilaksanakan kembali, diatur melalui Peraturan Daerah Provinsi (Perdasi) berdasarkan amanat UU No 21 tahun 2001 tentang Otonomi Khusus (Otsus) Bagi Provinsi Papua. Sebenarnya, program Transmigarasi sudah dihentikan pada masa reformasi, usulan pemerintah daerah sesuai UU Otsus. Perdasi program transmigrasi diatur dalam UU Otsus pasal 61 ayat 3, yang berbunyi 'Program transmigrasi harus dilakukan maksimal berdasarkan persetujuan Gubernur selaku kepala daerah yang menjalankan amanat UU Otsus Papua'.
Program transmigrasi yang dilakukan atas keinginan pemerintah propinsi pada tahun 2010 ini, itu diputuskan sejak tahun 2000 yang lalu karena dinilai terlalu sentralistik sehingga pada era Otsus Papua, semua program dikembalikan sesuai dengan kebutuhan Pihak tertentu. Dengan selama OSUS Pemerintah Propinsi, hasil kenyataan masih sebagai barometer dalam melaksanakan berbagai program pembangunan Daerah,
Pemerintah Propinsi papua, yang rencananya akan disebarkan ke 15 kabupaten yang baru benar-benar membutukan dukungan semua pihak, Apakah wadah baru ini, bisa menjawab kesejatraan masyarakat?, namun apakah masyarakat setempat siap menerima dan menyesuaikan keterampilan yang dimiliki oleh penduduk transmigrasi?
Salah satunya, Kabupaten Yahukimo membuka wacana untuk menerima transmigrasi masuk ke daerahnya untuk bersama-sama masyarakat setempat membangun daerah terpencil di Papua itu, namun dengan kenyataan masyarakat setempat belum memfasilitasi dari pemerintah untuk mengembangkan ketrampilanya seperti pertanian, perikanan, peternakan sehingga masyarakat penontong setia.
kemanakan semua dana Otsus yang sudah berlangsun selama sepuluh tahun? Kapan mengembangkan skill untuk masyarakat Papuan itu sendiri untuk melayani dan dilayani masyarakat setempat? .
kebijakan yang diambil bergulir ini, semuanya elit politik, kepentingan sendiri dan jangan jadikan masyarakat setempat sebagai objek. Masih ada masalah menamba masalah, coba merefleksi kembali sejauh manakah yang sudah dicapai, kemudian bagian mana yang kurang?, Kalau keseluruang tenagah, didatangkan dari luar Papua, nantinya masyarakat setempat jadi penontong yang andal ditanahnya sendiri.
Salah satu jalang keluar yang saya usulkan adalah pemerintah propinsi monitoring ke seluruh kabupaten yang ada, lalu membekali sesuai dengan kebutuhan masyarakat diinginkan. Setelah pogaram itu sudah berlangsung dengan baik dan sebagian masyarakat sudah miliki ketrampilan masin-masin kemudian pemerintah memakai kaca mata jernih untuk melihat bagian-bagian yang masyarakat papua tidak mampu, kemudian mendatangkan tenaga yang memiliki Skill di bagian itu melalui program program transmigarasi yang di tetapkan Propinsi Papua.
Oleh
Oleh Yulius Pekei,No.HP. 081392549876 Atau E-mail: yykebadabi@yahoo.com.
Selama sepuluh tahun otonomi Khusus (Otsus) berjalan, Pemerintah Propinsi belum mencapai sasaran kesejatraan bagi masyarakat sendiri. pendataan penduduk masih belum menata baik. Penduduk yang ada belum mencapai harapan yang kita inginkan, namun pemerintah propinsi papua membuka wadah baru bagi penambaan penduduk di propinsi papua melalui program Transmigrasi.
Program transmingrasi di Papua saat ini akan dilaksanakan kembali, diatur melalui Peraturan Daerah Provinsi (Perdasi) berdasarkan amanat UU No 21 tahun 2001 tentang Otonomi Khusus (Otsus) Bagi Provinsi Papua. Sebenarnya, program Transmigarasi sudah dihentikan pada masa reformasi, usulan pemerintah daerah sesuai UU Otsus. Perdasi program transmigrasi diatur dalam UU Otsus pasal 61 ayat 3, yang berbunyi 'Program transmigrasi harus dilakukan maksimal berdasarkan persetujuan Gubernur selaku kepala daerah yang menjalankan amanat UU Otsus Papua'.
Program transmigrasi yang dilakukan atas keinginan pemerintah propinsi pada tahun 2010 ini, itu diputuskan sejak tahun 2000 yang lalu karena dinilai terlalu sentralistik sehingga pada era Otsus Papua, semua program dikembalikan sesuai dengan kebutuhan Pihak tertentu. Dengan selama OSUS Pemerintah Propinsi, hasil kenyataan masih sebagai barometer dalam melaksanakan berbagai program pembangunan Daerah,
Pemerintah Propinsi papua, yang rencananya akan disebarkan ke 15 kabupaten yang baru benar-benar membutukan dukungan semua pihak, Apakah wadah baru ini, bisa menjawab kesejatraan masyarakat?, namun apakah masyarakat setempat siap menerima dan menyesuaikan keterampilan yang dimiliki oleh penduduk transmigrasi?
Salah satunya, Kabupaten Yahukimo membuka wacana untuk menerima transmigrasi masuk ke daerahnya untuk bersama-sama masyarakat setempat membangun daerah terpencil di Papua itu, namun dengan kenyataan masyarakat setempat belum memfasilitasi dari pemerintah untuk mengembangkan ketrampilanya seperti pertanian, perikanan, peternakan sehingga masyarakat penontong setia.
kemanakan semua dana Otsus yang sudah berlangsun selama sepuluh tahun? Kapan mengembangkan skill untuk masyarakat Papuan itu sendiri untuk melayani dan dilayani masyarakat setempat? .
kebijakan yang diambil bergulir ini, semuanya elit politik, kepentingan sendiri dan jangan jadikan masyarakat setempat sebagai objek. Masih ada masalah menamba masalah, coba merefleksi kembali sejauh manakah yang sudah dicapai, kemudian bagian mana yang kurang?, Kalau keseluruang tenagah, didatangkan dari luar Papua, nantinya masyarakat setempat jadi penontong yang andal ditanahnya sendiri.
Salah satu jalang keluar yang saya usulkan adalah pemerintah propinsi monitoring ke seluruh kabupaten yang ada, lalu membekali sesuai dengan kebutuhan masyarakat diinginkan. Setelah pogaram itu sudah berlangsung dengan baik dan sebagian masyarakat sudah miliki ketrampilan masin-masin kemudian pemerintah memakai kaca mata jernih untuk melihat bagian-bagian yang masyarakat papua tidak mampu, kemudian mendatangkan tenaga yang memiliki Skill di bagian itu melalui program program transmigarasi yang di tetapkan Propinsi Papua.
Oleh
Oleh Yulius Pekei,No.HP. 081392549876 Atau E-mail: yykebadabi@yahoo.com.
Jumat, 09 April 2010
KESEPIAN PENDERITAAN
Judul Buku : WHY DO PEOPLE SUFFER?
“Mengapa Manusia Menderita?”
Pengarang : JAMES JONES
Penerbit : KANISIUS ANGGOTA IKAPI
Tahun Terbit : 2010.
Tebal Buku : 111
KESEPIAN PENDERITAAN
Lembaran abad ke-21 baru saja dimulai, namun dengan segera, halaman-halaman penuhi dengan tragedi. Sehari setelah natal 2004, hampir setenga juta disapu oleh Glombang Tsunami asia. Di seluruh dunia, orang-orang berduka karena kehilangan orang-orang yang mereka cintai. Tayangan video benar- benar menghadirkan rasa ngeri kerumah-rumah, sama pasti dengan gelombang yang menyapu bangunan-bangunan, hotel, pondok, desa-desa. Kehancuran itu tidak dipilih-pilih terhadap korbangnya, baik miskin maupun kaya. Simbol-simbol kedigdayaan ekonomi dan militer amerika dihancurkan oleh para pejuan bunu diri yang menunjukan bahwa pada saat ini peradaban dapat dijadikan sasaran terror yang tak terbayangkan.
Di sini, manusia yang bertujuan menciptakan penderitaan manusia, menimbulkan luka-luka yang mematikan terhadap diri sendiri dan terhadap musu yang lain. Banyak orang memiliki akses yang baik pada perawatan kesehatan dan konsekuensinya, untuk hidupnya lebih panjang. Namun keadaan seperti ini telah membentuk suatu sikap di dalam lingkaran yang memiliki hak istimewa. Tetapi rasa sakit dan penderitaan setiap manusia selalu menghantui. Bahkan kematian sendiri dari pandangan sebagai suatu siklus alamiah, dibicarakan dalam nada yang sunyi. Kematian merupakan suatu musuh rahasia yang telah mengambil seseorang secara tiba-tiba. Sekalipun begitu, pengalaman kematian sama seringnya dengan pengalaman manusia dilahirkan.
Penderitaan berada dalam struktur kehidupan kita. Tidak ada kehidupan tampa rasa sakit mental, fisik, emosional, entah spiritual, begitulah cara kita berada. Kesulitan yang menggangu kita entah siap dan bertahan mengadapi masalah-masalah yang akan datang kedalam hidup kita tampa bisa dihindari lagi. Meskipun lebih realitis dan lebih seat masih meningalkan pertanyaan bagi kita tentang mengapa ada penderitaan, di tempat pertama, dan bagimana bisa allah yang penuh cinta itu membiarkan dunia penderitaan yang tetap ada.
Ada suatu kesepian dalam penderitaan, itu terasa seperti seolah-olah kitalah yang satu-satunya menderita. Kita rasa orang lain baik-baik saja,dunia mereka tampak utuh hannya dunia kita sendirilah yang hancur, hidup terus berjalan bagi orang lain, hidup kita berhenti.
Buku yang berjudul Why People Suffer? Isinya sangat beragam disertai foto-foto dan kutipan-kutipan ayat dalam injil. Fotonya seperti reruntuhan menara kembar WTC,New,York, seorang wanita aceh reruntuhan rumahnya di tenggah kota banda aceh, kekeringan di Rafri, timur laut Kenya, pengunsian di pingiran sundan, dampak sebuah gempa bumi di Armenia pada tahun 1989,dll.
Membaca buku ini seolah-olah menghayati situasi nyata, ikut menyedikan dan juga merefleksi diri. Kenyataannya , dunia ini penuh derita. Cengraman penderitaan sangat kuat seolah-olah meyingkirkan keberadaan Allah. Sejatinya situasi semacam itu kita ditantang untuk selalu berani beriman kepada Allah yang baik dan penuh kasi. Mengapa Allah yang penuh kasih itu membiarkan penderitaan terjadi? Apakah Allah menciptakan kejahatan? Apakah memang tujuan Allah menciptakan dunia agar dipenuhi penderitaan? Mengapa Allah tidak bertindak sesuatu untuk menyingkirkan penderitaan?
Pertanyaan pertanyaan seperti ini terus memburu dan menghantuhi, susah menemukan jawabanya. Dalam buku Why People Suffer? Ini, James Jones membantu kita untuk satu per satu mengurai fakta penderitaan dan menemukan makna terdalam dibalik derita. Melalui buku ini, penulis mengajak dan membawa kita untuk bertemu, mengenal dan memahami Allah yang menderita. Pembaca mengajak, yang ingin menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, kunjungi buku ini!
catatan: resensi ini pernah muat di media pers mahasiswa USD
Oleh ( Yulius Pekei, Mahasiswa PBSID, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta ).
No.HP. 081392549876 Atau E-mail: yykebadabi@yahoo.com.
“Mengapa Manusia Menderita?”
Pengarang : JAMES JONES
Penerbit : KANISIUS ANGGOTA IKAPI
Tahun Terbit : 2010.
Tebal Buku : 111
KESEPIAN PENDERITAAN
Lembaran abad ke-21 baru saja dimulai, namun dengan segera, halaman-halaman penuhi dengan tragedi. Sehari setelah natal 2004, hampir setenga juta disapu oleh Glombang Tsunami asia. Di seluruh dunia, orang-orang berduka karena kehilangan orang-orang yang mereka cintai. Tayangan video benar- benar menghadirkan rasa ngeri kerumah-rumah, sama pasti dengan gelombang yang menyapu bangunan-bangunan, hotel, pondok, desa-desa. Kehancuran itu tidak dipilih-pilih terhadap korbangnya, baik miskin maupun kaya. Simbol-simbol kedigdayaan ekonomi dan militer amerika dihancurkan oleh para pejuan bunu diri yang menunjukan bahwa pada saat ini peradaban dapat dijadikan sasaran terror yang tak terbayangkan.
Di sini, manusia yang bertujuan menciptakan penderitaan manusia, menimbulkan luka-luka yang mematikan terhadap diri sendiri dan terhadap musu yang lain. Banyak orang memiliki akses yang baik pada perawatan kesehatan dan konsekuensinya, untuk hidupnya lebih panjang. Namun keadaan seperti ini telah membentuk suatu sikap di dalam lingkaran yang memiliki hak istimewa. Tetapi rasa sakit dan penderitaan setiap manusia selalu menghantui. Bahkan kematian sendiri dari pandangan sebagai suatu siklus alamiah, dibicarakan dalam nada yang sunyi. Kematian merupakan suatu musuh rahasia yang telah mengambil seseorang secara tiba-tiba. Sekalipun begitu, pengalaman kematian sama seringnya dengan pengalaman manusia dilahirkan.
Penderitaan berada dalam struktur kehidupan kita. Tidak ada kehidupan tampa rasa sakit mental, fisik, emosional, entah spiritual, begitulah cara kita berada. Kesulitan yang menggangu kita entah siap dan bertahan mengadapi masalah-masalah yang akan datang kedalam hidup kita tampa bisa dihindari lagi. Meskipun lebih realitis dan lebih seat masih meningalkan pertanyaan bagi kita tentang mengapa ada penderitaan, di tempat pertama, dan bagimana bisa allah yang penuh cinta itu membiarkan dunia penderitaan yang tetap ada.
Ada suatu kesepian dalam penderitaan, itu terasa seperti seolah-olah kitalah yang satu-satunya menderita. Kita rasa orang lain baik-baik saja,dunia mereka tampak utuh hannya dunia kita sendirilah yang hancur, hidup terus berjalan bagi orang lain, hidup kita berhenti.
Buku yang berjudul Why People Suffer? Isinya sangat beragam disertai foto-foto dan kutipan-kutipan ayat dalam injil. Fotonya seperti reruntuhan menara kembar WTC,New,York, seorang wanita aceh reruntuhan rumahnya di tenggah kota banda aceh, kekeringan di Rafri, timur laut Kenya, pengunsian di pingiran sundan, dampak sebuah gempa bumi di Armenia pada tahun 1989,dll.
Membaca buku ini seolah-olah menghayati situasi nyata, ikut menyedikan dan juga merefleksi diri. Kenyataannya , dunia ini penuh derita. Cengraman penderitaan sangat kuat seolah-olah meyingkirkan keberadaan Allah. Sejatinya situasi semacam itu kita ditantang untuk selalu berani beriman kepada Allah yang baik dan penuh kasi. Mengapa Allah yang penuh kasih itu membiarkan penderitaan terjadi? Apakah Allah menciptakan kejahatan? Apakah memang tujuan Allah menciptakan dunia agar dipenuhi penderitaan? Mengapa Allah tidak bertindak sesuatu untuk menyingkirkan penderitaan?
Pertanyaan pertanyaan seperti ini terus memburu dan menghantuhi, susah menemukan jawabanya. Dalam buku Why People Suffer? Ini, James Jones membantu kita untuk satu per satu mengurai fakta penderitaan dan menemukan makna terdalam dibalik derita. Melalui buku ini, penulis mengajak dan membawa kita untuk bertemu, mengenal dan memahami Allah yang menderita. Pembaca mengajak, yang ingin menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, kunjungi buku ini!
catatan: resensi ini pernah muat di media pers mahasiswa USD
Oleh ( Yulius Pekei, Mahasiswa PBSID, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta ).
No.HP. 081392549876 Atau E-mail: yykebadabi@yahoo.com.
PROSES PENDEWASAAN ANAK-ANAK DAN KAUM MUDA
Judul Buku : Lebih Indah Lebih Berbuah “Kreatifitas untuk Misa Anak-Anak dan Kaum Muda”
Pengarang : C.H. Suryanugraha, OSC
Penerbit : Knisius Angota Ikapi
Tahun Terbit : 2010.
Tebal Buku : 130
PROSES PENDEWASAAN ANAK-ANAK DAN KAUM MUDA
Anak-anak dan kaum muda merupakan perang penting dalam generasi penerus di masyarakat untuk membangun bangsa dan negara. Tetapi kreatifitas untuk misa anak-anak dan kaum muda pada masa kini telah dianggap remeh oleh kalangan masyarat terutama kaum muda. Meskipun dengan berbagai cara para pemimpin negara, pemimpin gereja, dan orang tua pemerhati Agama selalu berjuang untuk melindungi dan membantu proses pendewasaan diri mereka.
Dalam hal pendidikan liturgi memang sudah tidak bisa diharapkan untuk konsumsi anak-anak dan kaum muda pada saat ini, karena sudah sangat terlihat jelas bahwa sebagian besar remaja tidak hidup beriman. Masa remaja sekarang lebih menyukai menonton tayangan-tayangan TV yang semakin hebo, sibuk dengan pacaran, internet dan hiburan hiburan lain yang sebenarnya merusak moral generasi muda kedepan.
Dengan perkembangan kecanggihan-kecanggihan teknologi itu bisah akan berperang dalam kehidupan. Akan tetapi, tidak seharusnya melupakan hidup beriman. Hadirnya Buku Lebih Indah Lebih Berbuah …ini penulis dimaksutkan supaya dapat menjadi bantuan untuk siapa yang terlibat dalam pendidikan lituri bagi anak-anak dan orang muda, khususnya yang berkaitan dengan penyelengaraan perayaan ekaristi. Dalam buku ini juga penulis menyusun berdasarkan pengalaman belajar dan berliturgi bersama kaum muda.
Buku Yang Berjudul Lebih Indah Lebih Berbua .... Menguraikan dua bagian yakni bagian pertama membahas misa anak-anak dan bagian kedua membahas misa kaum muda. Pada kedua bagian ini lebih dikususkan lagi, bagian pertama menguraikan bagimana perang hubungan anak-anak dengan misanya?, mengapa misa dikhususkan untuk anak-anak?,unsur-unsur seni yang dipetik melalui misa, dan peluan-peluan untuk kreativitas.
Pada bagian kedua penulis membahas bagimana nilai-nilai ekaristi dalam hidup kaum muda?, mamfat-mamfat dan kaidah-kaidah yang bisa di miliki kaum muda, dan peluang kreatifitas kaum muda dengan ekaristi. Karena penulis merasa dua bagian belum lengkap jika ditambakan bagian ketiga, tentang perluhnya kelompok animasi sebagai kelompok khusus yang memikirkan kreativitas demi keindahan perayaan liturgi.
Ingin tahu bagimana mempersiapkan misa untuk anak-anak, kaum muda dan menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas ini, buku ini mungkin adalah jawaban yang anda cari. Membaca buku ini terasa membaca sikap anak-anak dan kaum muda terhadap keberadaan berbagai hal hidup sehari-hari. Palin tidak sudah mengetahui untuk mengembangkan hal-hal itu, karena itu merupakan persoalan tersendiri yang harus membekali pada saat usia dini, maka kunjungilah buku ini.
Oleh
Oleh ( Yulius Pekei, Mahasiswa PBSID, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta ).
No.HP. 081392549876 Atau E-mail: yykebadabi@yahoo.com.
Pengarang : C.H. Suryanugraha, OSC
Penerbit : Knisius Angota Ikapi
Tahun Terbit : 2010.
Tebal Buku : 130
PROSES PENDEWASAAN ANAK-ANAK DAN KAUM MUDA
Anak-anak dan kaum muda merupakan perang penting dalam generasi penerus di masyarakat untuk membangun bangsa dan negara. Tetapi kreatifitas untuk misa anak-anak dan kaum muda pada masa kini telah dianggap remeh oleh kalangan masyarat terutama kaum muda. Meskipun dengan berbagai cara para pemimpin negara, pemimpin gereja, dan orang tua pemerhati Agama selalu berjuang untuk melindungi dan membantu proses pendewasaan diri mereka.
Dalam hal pendidikan liturgi memang sudah tidak bisa diharapkan untuk konsumsi anak-anak dan kaum muda pada saat ini, karena sudah sangat terlihat jelas bahwa sebagian besar remaja tidak hidup beriman. Masa remaja sekarang lebih menyukai menonton tayangan-tayangan TV yang semakin hebo, sibuk dengan pacaran, internet dan hiburan hiburan lain yang sebenarnya merusak moral generasi muda kedepan.
Dengan perkembangan kecanggihan-kecanggihan teknologi itu bisah akan berperang dalam kehidupan. Akan tetapi, tidak seharusnya melupakan hidup beriman. Hadirnya Buku Lebih Indah Lebih Berbuah …ini penulis dimaksutkan supaya dapat menjadi bantuan untuk siapa yang terlibat dalam pendidikan lituri bagi anak-anak dan orang muda, khususnya yang berkaitan dengan penyelengaraan perayaan ekaristi. Dalam buku ini juga penulis menyusun berdasarkan pengalaman belajar dan berliturgi bersama kaum muda.
Buku Yang Berjudul Lebih Indah Lebih Berbua .... Menguraikan dua bagian yakni bagian pertama membahas misa anak-anak dan bagian kedua membahas misa kaum muda. Pada kedua bagian ini lebih dikususkan lagi, bagian pertama menguraikan bagimana perang hubungan anak-anak dengan misanya?, mengapa misa dikhususkan untuk anak-anak?,unsur-unsur seni yang dipetik melalui misa, dan peluan-peluan untuk kreativitas.
Pada bagian kedua penulis membahas bagimana nilai-nilai ekaristi dalam hidup kaum muda?, mamfat-mamfat dan kaidah-kaidah yang bisa di miliki kaum muda, dan peluang kreatifitas kaum muda dengan ekaristi. Karena penulis merasa dua bagian belum lengkap jika ditambakan bagian ketiga, tentang perluhnya kelompok animasi sebagai kelompok khusus yang memikirkan kreativitas demi keindahan perayaan liturgi.
Ingin tahu bagimana mempersiapkan misa untuk anak-anak, kaum muda dan menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas ini, buku ini mungkin adalah jawaban yang anda cari. Membaca buku ini terasa membaca sikap anak-anak dan kaum muda terhadap keberadaan berbagai hal hidup sehari-hari. Palin tidak sudah mengetahui untuk mengembangkan hal-hal itu, karena itu merupakan persoalan tersendiri yang harus membekali pada saat usia dini, maka kunjungilah buku ini.
Oleh
Oleh ( Yulius Pekei, Mahasiswa PBSID, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta ).
No.HP. 081392549876 Atau E-mail: yykebadabi@yahoo.com.
Senin, 29 Maret 2010
MEMBELA JURNALIS PEMULA
MAHASISWA PAPUA IKUT DIKLAT JURNALISTIK LPJB
Sembilan mahasiswa asal papua yang sedang studi di yogyakarta dan salatiga ikut mengikuti pendidikan dan latihan (diklat) jurnalistik bersama lembaga pelatihan jurnalisti BERNAS Yogyakarta (LPJB) Harian bernas yogyakarta, sejak 4 januari hingga 18 februari 2010 ini merupakan kelompok khusus dari papua. Sebelumnya memang sudah ada mahasiswa papua di yogyakarta yang perna belajar di LPJB, Namun masih bersivat individual. Diharapkan kedepan akan ada kelompok lain dari papua yang belajar jurnalistik di lembaga ini.
Pelatihan klasikal teori jurnalistik dilaksanakan di ruang kuliah Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta, Tanggal 4 -9 Januari 2010. Selanjutnya mulai 11 Januari -18 February 2010 menjalani magang wartauwan di harian BERNAS Yogyakarta.
Pemrakarsa pelatian ini adalah Yulius Pekei ( mahasiswa prodi PBSID, FKIP,USD Yogyakarta) dan yanuarius you ( mahasiswa pascasarjana psikologi universitas gaja mada yogyakarta) yang menghubungi pimpinan LPJB untuk meminta pendampingan dalam belajar jurnalistik.
Mahasiswa S2 fakultas ekonomi UGM, A. Gerald Bidana misalnya, dia mengikuti program ini untuk mengembangkan potensi diri dan lebih jauh dapat menuliskan realitas kehidupan masyarakat papua yang perluh dipublikasikan agar orang lain mengetahui apa saja yang dimiliki dan dialami orang papua. Setelah menjalani pendidikan di jawa saya menyadari bahwa menulis akan suatu ide dapat membantu orang keluar dari kebodohan akan pengetahuan diri, lingkungan dan perkembangan iptek. Bahkan keluar dari tekanan mental atau menyehatkan jiwa diri. Jadi menulis itu membebaskan orang” kata beliau.
Menurut bidana, ada sejumlah hambatan pembangunan daerah yang semestinya menjadi perhatian serius pemerintah, lembaga suasta dan LSM di papua yakni ketidak siapan sumberdaya manusia ( SDM ) yang berkualitas baik lewat pendidikan formal yang baik; belum adanya keseriusan pemerintah daerah dalam mendorong lembaga-lembaga ilmiah atau lembaga keagamaan, lembaga kemasyarakatan yang selama ini secara serius menyelengarakan pendidikan kemanusiaan.
Kemudian belum terbangunya hubungan kerja sama dengan lembaga- lembaga yang relevan dan berpengalaman di Indonesia sehinga para pelaku pembangunan pun seringkali tidak mengalai tugas dan tanggung jawabnya itu kepada orang lain; belum adanya industri- industri kerajinan, industri-indusrti kecil lain yang dapat mengakses perekonomian rakyat; belom adanya pasar yang memberdayakan masyarakat; serta letak geografis dan sebagainya.
Beri dorongan
Para narasumber pelatian jurnalistik dalam menyajikan materi selalu memberikan dorongan kepada peserta pelatian agar tidak takut menulis di media massa. Menulis itu bagaikan berenan. Betapapun seringnya seseorang mendengarkan ceramah atau membaca buku tentang berenang, dia tetap tidak akan bisa berenang selama di tidak berani menceburkan diri kedalam renang.
Menulis itu pada dasarnya merupakan karunia tuhan kepada setiap orang. Tugas manusia adalah mempergunakan karunia itu dengan suatu komitmen dari pribadi masing-masing. Kiat semua juga sudah memperoleh karunia menulis dari tuhan asalkan kemudian dikembangkan dengan kemauan yang tinggi.
Di sisi lain, imformasi yang dapat kita peroleh darimana pun dan oleh siapa pun adalah kekuatan. Oaring tampa imformasi tidak dapat hidup sempurna, sehingga wartawan juga harus mengimformasikan hal itu kemedianya masin-masin sesuai fakta atau kenyataan. Artinya bukan pendapat atau kalangan kewartauan sendiri.
Sebuah imformasi dikatakan beriata apa bila memiliki sejumlah unsure didalamnya yang disebut “ nilai berita”, antara lain kebaruan, tepat waktu, kedekatan dengan khlayak, dampak pengaruh pada masyarakat, fantastik, pertentangan.
Pada dasarnya imformasi itu perluh dianalisis. Mengapa? Karena setiap imformasi yang di sampaikan ke masyarakat belum tentu benar. Banyak faktor yang mempengaruhinya, misalnya cara pandang dari berbagai sudut. Analisis berita antara lain dilakukan dengan membaca judul berita. dari judulnya saja kita bisa menduga kemana arah atau orientasi berita itu.
Dalam meliput berita wartauan harus memperatikan formula 5W, 1H yaitu : what, who,when, where,why dan how. Sehingga saat peliputan di lapangan, lima pertanyaan ini dapat di cari jawabanya dari sumber- sumber peristiwa yang mau diliput. Disamping itu wartauan harus melakukan beberapa tugas diaantaranya menemukan peristiwa dan jalan ceritanya; cek, ricek dan tripel cek jalan cerita; memastikan sudut berita dan menentukan lead/intro/pembuka berita.
Kemudian tentang menulis opini/ artikel di media massa cetak dapat dikatakan gampang-gampang susah, karena tergantung orangnya bagaimana dia menjalaninya. Sumber ide atau bahan tulisan bisa datang gampang saja, dimana saja dan situasi apapun. Bahkan dalam kondisi ruang, waktu dan sarana, sangat minim sekalipun. Kiat menulis yang dapat dapat dipertimbangkan antara lain, rajin membuat catatan harian, menulis sesuatu yang baru, mempelajari mkariya orang lain, dan menulis dengan karya yang spesifik.
Oleh ( Farnsiskus Kasipmabin, Ramces Ningamabin, Yanuarius You; Mahasiswa S1 Dan S2 Asal Papua Di Yaogyakarta; Sedan Belajar Jurnalistik Di LPJB)
catatan : Tulisan ini Pernah Dimuat Media Cetak Kolom Wacana BERNAS Yogyakarta Pada Tanggal 8 Januari 2010 (Sudah)
PENGEMUDI KENDARAAN BERMOTOR DIWAJIBKAN MENYALAKAN LAMPU DI SIANG HARI
Penganti Undang-Undang No.14 tahun 1992 tentang lalu lintas, pengemudi kendaraan bermor diwajibkan menyalakan lampu terutama pada siang hari.
Peraturan tersebut menuai pendapat berbeda dari masyarakat, namun ditetapkannya Undang-undang baru. No. 22 Tahun 2009 tentang angkutan jalan, tanggal 22 Juni 2009, maka segala ketentuan dalam Undang-Undang tersebut berlaku secara Nasional.
Dalam salah satu Pasal yakni, pasal 107 Undang-Undang tersebut, diatur tentang kewajiban pengemudi kendaraan bermotor menyalakan lampu pada siang hari, yang dikenal dengan program Safety Riding atau cara aman berkendaraan. Bagi mereka yang tidak menyalakan lampu, akan dikenakan pidana maksimal 15 hari kurungan atau denda 100 ribu rupiah. Hari ke hari semakin membingukan yang mana pendapat ahli / media tentang masalah menyalakan lampu hazard saat hujan lebat di Tabloid OTOMOTIF edisi 01/XIX.
Bukannya tamba jelas, yang ada malah memboroskan aki pada motor, Melanggar undang-undang, karena sudah menyalakan lampu utama sepanjang siang hari maka tidak bisa difungsikan pada malam hari. Selain itu, aturan tersebut hanya menguntungkan pihak-pihak tertentu saja, sedangkan pengendara akan membayar cost yang lebih tinggi untuk kendaraannya.
Antisipasi
Jadi solusi yang tepat adalah memberikan pembekalan dan pemahaman kepada masyarakat melalui sosialisasi dari polres setempat, Supaya masyarakat bisa memahami pengunaan lampu, baik lampu hazard,sein maupun lampu utama.
Oleh: Yulius Pekei (Mahasiswa, PBSID.FKIP, Universitas Sanata Dharama) Yogyakarta.
Catatan: Tulisan ini Pernah Muat di Media Massa Kolom Wacana BERNAS Yogyakarta, Pada Hari Selasa 12 Januari 2010. (Sudah)
PEMBELAJARAN KECERDASAN GANDA ANAK USIA DINI,
QUO VADIS ??
Anak usia dini belajar dengan caranya sendiri. Guru dan orang tua kerap mengajarkan anak sesuai dengan jalan pikiran orang dewasa. Akibatnya apa yang diajarkan orang tua sulit diterima anak. Gejala itu antara lain tampak dari banyaknya hal yang disukai oleh anak, tetapi dilarang oleh orang tua . Sebaliknya, banyak hal yang disukai oleh orang tua tapi tidak disukai anak. Fenomena tersebut membuktikan bahwa sebenarnya jalan pikiran anak berbeda dengan jalan pikiran orang dewasa. Untuk itu, orang tua dan guru perlu memahami hakikat perkembangan anak dan hakikat PAUD agar dapat memberikan pendidikan yang sesuai dengan jalan pikiran anak (suyanto, 2005).
Kendala lain bagi dunia pendidikan adalah masih banyaknya sekolah terlebih khusus PAUD atau prasekolah yang mempunyai pola pikir tradisional di dalam menjalankan proses belajarnya yaitu sekolah hanya menekankan pada kemampuan logika (matematika) dan bahasa. Kenyataan ini senada dengan yang diungkapkan oleh Seto Mulyadi (2003), seorang praktisi pendidikan anak, bahwa suatu kekeliruan yang besar jika setiap kenaikan kelas, prestasi anak didik hanya diukur dari kemampuan matematika dan bahasa. Dengan demikian sistem pendidikan nasional yang mengukur tingkat kecerdasan anak didik yang semata-mata hanya menekankan kemampuan logika dan bahasa perlu direvisi.
Kecerdasan intelektual tidak hanya mencakup dua parameter tersebut di atas, tetapi juga harus dilihat dari aspek kinetis, musiKal, visual-spatial, interpersonal, intrapersonal, dan naturalis . Jenis-jenis kecerdasan intelektual tersebut dikenal dengan sebutan kecerdasan ganda (Multiple Intelligences) yang diperkenalkan oleh Howard Gardner pada tahun 1983.
Gardner mengatakan bahwa kita cenderung hanya menghargai orangorang yang memang ahli di dalam kemampuan logika (matematika) dan bahasa. Kita harus memberikan perhatian yang seimbang terhadap orang-orang yang memiliki berbagai kecerdasan seperti artis, arsitek, musikus, ahli alam, designer, penari, terapis, dan lain-lain.
Sangat disayangkan bahwa saat ini banyak anak-anak yang memiliki talenta , tidak mendapatkan reinforcement di sekolahnya. Banyak sekali anak yang pada saat pola pemikiran mereka yang unik tidak dapat diakomodasi oleh guru-guru di sekolah.
Pihak sekolah hanya menekankan pada kemampuan logika (matematika) dan bahasa. Teori Multiple Intelligences yang menyatakan bahwa kecerdasan meliputi delapan (lebih) kemampuan intelektual. Teori tersebut didasarkan pada pemikiran bahwa kemampuan intelektual yang diukur melalui tes IQ sangatlah terbatas karena tes IQ hanya menekan pada kemampuan logika (matematika) dan bahasa (Gardner, 2003).
Padahal setiap orang mempunyai cara yang unik untuk menyelesaikan persoalan yang dihadapinya. Kecerdasan bukan hanya dilihat dari nilai yang diperoleh seseorang. Kecerdasan merupakan kemampuan yang dimiliki oleh seseorang untuk melihat suatu masalah, lalu menyelesaikan masalah tersebut atau membuat sesuatu yang dapat berguna bagi orang lain.
Pola pemikiran tradisional yang menekankan pada kemampuan logika (matematika) dan bahasa memang sudah mengakar dengan kuat pada diri setiap guru di dalam menjalankan proses belajar. Bahkan, dari hasil penelitian yang dilakukan oleh beberapa pihak, pendidikan Taman Kanak-Kanak saat ini cenderung mengambil porsi Sekolah Dasar. Sekitar 99 persen, Taman Kanak-Kanak mengajarkan membaca, menulis, dan berhitung. Artinya, pendidikan Taman Kanak-Kanak telah menekankan pada kecerdasan akademik, tanpa menyeimbanginya dengan kecerdasan lain. Hal ini berarti pula bahwa sistem pendidikan yang dilaksanakan oleh guru-guru masih tetap mementingkan akan kemampuan logika (matematika) dan bahasa.
Dalam melaksanakan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), guru dan orang tua hendaknya bersinergi guna mengembangkan berbagai jenis kecerdasan, terutama terhadap anak usia dini. Hal ini dimaksudkan agar siswa tidak gagap dalam melaksanakan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Pendidkan anak usia dini kiranya perlu diperkenalkan dengan kecerdasan ganda (Multiple Intelligences). Guru hendaknya tidak terjebak pada kecerdasan logika-matemika semata.
Multiple Intelligences yang mencakup delapan (lebih) kecerdasan itu pada dasarnya merupakan pengembangan dari kecerdasan otak (IQ), kecerdasan emosional (EQ), kecerdasan spiritual (SQ). Semua jenis kecerdasan perlu dirangsang pada diri anak sejak usia dini, mulai dari saat lahir hingga awal memasuki sekolah (7 – 8 tahun).
Kini yang menjadi pertanyaan terbesar, mampukah dan bersediakah setiap insan yang berkecimpung dalam dunia pendidikan mencoba untuk mengubah pola pengajaran tradisional yang hanya menekankan kemampuan logika (matematika) dan bahasa? Bersediakah segenap tenaga kependidikan bekerja sama dengan orang tua bersinergi untuk mengembangkan berbagai jenis kecerdasan pada anak didik mulai dari usia dini di dalam proses belajar yang dilaksanakan di lingkungan lembaga pendidikan formal, non formal dan informal? Yogyakarta, 16 Januari 2010 Oleh Yanuarius You ( UGM )
Catatan: Tulisan ini Pernah Muat di Media Massa Kolom Wacana/opini BERNAS Yogyakarta, Pada Hari Senin 25 Januari 2010. Sudah
Catatan : tulisan Ini Pernah Muat di Media Cetak Kolom wacana BERNAS Yogyakarta Pada Tanggal 9 Januari 2010.
MENGENAL SEJARAH YESUS
Judul Buku : Palungan (Menyingkap Kisah Kelahiran)
Pengarang : Joseph F. Kelly
Penerbit : Kanisius (Anggota IKAPI)
Tebal Buku : 159
Tahun Terbit : 2010
Buku Joseph F. Kelly memusatkan diri pada wilayah yang sanggat sempit dalam kitap suci yakni empat bab dari semua perjanjian baru, masing masing dua bab dari dua Injil (Matius 1-2 dan Lukas 1-2). Tetapi keempat bab yang sanggat berharga tersebut memuat satu-satunya kisah tentang kelahiran Yesus. Parah ahli menyebutnya sebagai kisa masa kanak-kanak.
Berkat pesta natal, kisa kanak-kanak menjadi bagian perjanjian baru yang paling dikenal secara luas, bahkan juga oleh mereka yang senjatanya tidak pernah membaca Injil. Selama masa Adven atau masa Natal, orang yang datang kegereja secara ruting berkali suatu hari mendengar bacaan Injil mengenai bagimana malaikat Gabriel menampakan diri kepada Maria yang tinggal di Nasaret di Wilayah Galilea.
Orang yang penuh peratian akan bertanya, apakah Yusuf dan maria tinggal di Galilea pada saat pemberitahuan tentang kelahiran Yesus ataukah mereka tinggal disana setelah mereka kembali dari mesir? Lebih dari itu orang seperti ini akan bertanya dengan sah mengapa injil tampaknya memuat kisah-kisah kontradiktif. Harapan penulis buku ini akan membantu pembaca yang berminat untuk mengerti kisah-kisa Injil tentang kelahirang Yesus dan menjawab pertanyaan seperti itu. Maka untuk menjawab pertanyaan diatas ini, Pengarang menggunakan penemuan-penemuan paling mustahil para ahli Kitab Suci dan berusaha untuk menampilkan penemuan-penemuan itu dalam sebuah cara yang muda dimengerti.
Buku Palungan ini juga sering mengutip kitab suci sehingga, Pembaca tidak perluh memerlukan Kitab suci, untuk membaca buku ini. Penulis mencantumkan pasal dan Ayat disertai dengan kutipan teks mengangkut sejarah kelahiran yesus. Ditampilkan beberapa hal yang terkandung dalam satu injil atau lebih yang dapat kita dapat histories. Lebih dari itu banyak hal dalam buku ini berasal dari studi pengarang. Jadi Fokus buku ini ada pada pertanyaan-pertanyaan histories dan teologis, dan refleksi pastoral singkat akan mengikuti setiap bagian bab tiga dan empat.
Setelah membaca buku ini, pembaca dapat mengubah cara memandan kelahiran Yesus, dan menemukan pemikiran yang berguna.
YULIUS PEKEI (Mahasiswa PBSID,FKIP,Universitas Sanata Dharma Yogyakarta)
Catatan: Resensi Ini Pernah Muat di Media Cetak Kolom pustaka, BERNAS Yogyakarta Pada Tanggal 26 Januari 2010.
PENAWARAN KESENGSARAAN
Judul Buku : Cinta Bukan Coklat
Penulis : Saras Dewi
Penerbit : Kanisius (Anggota IKPI)
Tebal : 127
Dewasa ini, banyak dijumpai hidupnya bahagia, entah itu dalam karir, relasi, maupun hidup sehari-hari hidup serba kecukupan. Namun, tidak jarang juga banyak orang yang hidupnya runtuh, kacau, tidak percaya diri dan merasa tidak bahagia. Orang merasa bahagia jika dia memahami kekuatan cinta yang terdapat dalam diri mereka. Melalui buku “cinta bukan coklat” penulis dengan bahasa yang mudah dimengerti, meluangkan waktu untuk mencari kembali arti cinta. Cinta memang apa yang diutarakan oleh para filosof dan pujangga.
Cinta adalah suatu suatu enigma atau teka-teki yang begitu pelik untuk dipecakan entah mengapa cinta dihubungkan dengan cokelat?apakah cokelat itu manis lalu disamakan dengan cinta juga manis? Entahlah, yang pasti cinta jauh lebih misterius dibandingkan dengan sebatang cokelat. Sebenarnya cinta itu berbeda dengan cokelat, karena cokelat dibuat denga resep yang tepat. Cinta adalah sesuatu yang kita alami setiap hari, sehingga tidak mudah merumuskannya dengan kata-kata sekalipun kita mempelajari semua teori tentang cinta belum tentu kiat pakar dalam prakteknya.
Pada hari velentine, tepatnya pada tanggal 14 februari setiap orang dari berbagai latar belakang etnis, suku maupun bangsa melakukan ritual yang sama, yaitu merayakan hari kasih sayang. Pada hari yang istimewa itu, setiap orang akan bertukar kado, pergi ketempat romantis dan menikmati candle ligt dinner. Tapi karena kebiasaan ini banyak orang yang sala arti, berpikir bahwa kita tahu tentang cinta dibandingkan dengan pengalaman cinta itu sendiri. Pada hal melalui pengalaman yang sebenarnya, kita baru benar-benar mengerti, apa itu cinta?. Cinta bukan semata-mata seperti sebaris puisi atau tayangan yang kita tontong dibioskop, tetapi arti kata itu sebenarnya adalah upaya, penantian, dan tantangan.
Melihat kehidupan era-globalisasi dan modrenisasi ini, maka Saras Dewi mempunyai visi agar semua orang dapat hidup bersemangat untuk mencari dan menyebarkan cinta dalam hidupnya, cinta juga dapat dikatakan jalan pintas untuk mewujudkan mimpi kita.
Buku ini berisi kearivan dari para guru masa kini yang telah menggunakan cinta untuk mencapai kebahagiaan dan kesejahtraan. Dengan menerapkan pengetahuan tentang cinta, anda akan mendapatkan sesuatu yang positif. Buku ini mengangkat kisah-kisah menarik tentang penyembuhan penyakit, perolehan kekayaan, mengatasi hambatan dan mencapi hal-hal yang mustahil dan dilampirkan denga bacaan inspirasional serta gambar-gambar. Dalam buku ini juga seorang guru besar Jaso Mras dalam lagunya berj berujar “ jangan pernah lupakan, hiduplah untuk cinta kasih. Jangan pernah menyerah dan patah semangat dalam mencintai hidupmu. Kalau ingin menemukan titik terang tentang cinta tengoklah buku ini.
YULIUS PEKEI (Mahasiswa PBSID,FKIP,Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.
Catatan : Resensi Ini pernah muat di Media Cetak PERS NATAS USD Yogyakarta edisi april – mei 2009.
KESIMPANGSIURAN EKONOMI KERAKYATAN
Judul Buku : Manifesto Ekonomi Kerakyatan
Penghimpun : Revrisond Baswir
Penerbit : Pustaka Pelajar,Yogyakarta.
Tahun terbit : 2009
Tebal Buku : 162
Perkembangan perekonomian Indonesia secara umum dan membandingkan dengan sistem ekonomi yang diletakan oleh para pendiri negara Republik Indonesia ternyata menampakan gejala-gejala yang berbeda. Sistem ekonomi Indonesia adalah sebagaimana dirumuskan oleh Bung Hatta dengan menyatakan bahwa “Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas kekeluargaan”, dengan menganggap koperasi sebagai soko guru perekonomian nasional. Rumusan tersebut telah damandemen kedalam undang-undang dasar 1945 pasal 33 dan pasal 27 ayat 2 sebagai dasar hukum peran negara dalam penyelenggaraan sistem ekonomi kerakyatan.
Situasi turbulensi seperti saat ini, Indonesia menghadapi tekanan dari berbagai agenda terutama program-program yang ditawarkan dari neolibral maupun perdagangan bebas. Sebagai bentuk perlawanannya, perlu memerdayakan perekonomian rakyat. Ekonomi rakyat saat ini dibincangkan dimana-manana baik itu media masa maupun bukan media masa. Namun perbincangan tersebut masih terjadi kesalahpahaman anatara pelaku dan para pengambil kebijakan.
Maka penerbitan buku ini, sebagai upaya nyata untuk memberikan penjelasan atau memberikan solusi bagi pihak yang berkepentingan untuk memahami dan meluruskan kembali kesalah pahaman yang terjadi dalam mengartikan ekonomi rakyat. Langkah konkrit seperti ini terus dilakukan. Penulis sendiri mengakui bahwa perbincangan ekonomi kerakyatan ternyata masih sering terjadi disalah pahami. Kesalahpahaman terjadi dalam tiga hal.
Pertama, ekonomi rakyat cenderung dipahami sebagai gagsan baru dalam pentas ekonomi-politik Indonesia,. Kedua, ekonomi kerakyatan diperbincangkan tanpa mengaitkan secara lansung dengan cita-cita proklamasi dan amanat konstitusi. Ketiga, ekonomi kerakyatan cenderung dimaknai secara tumpang tindih dengan ekonomi rakyat dan ekonomi pro rakyat.
Untuk memperjelas tumpang tindih yang terjadi. Melalui buku ini penulis meletakan dasar-dasar pengertian, substansi ekonomi kerakyatan, tantangan, dan urgensi dengan harapan kesimpangsiuran mengenai ekonomi kerakyatan dapat dihentikan. Kemudian ekonomi kerakyatan dapat maju selangkah memasuki tahap penyelenggaraannya.
Dalam kenyataannya para pengamat ekonomi. Khususnya pengamat ekonomi neoliberal sering meragukan. Dan meraka tidak yakin untuk menerapkannya dalam peluang yang ada. Sikap keraguan seperti ini ekonomi kerakyatan dianggap sebagai suatu pemikiran yang tidak realistis. Jika demikian apakah ekonomi kerakyatan bisa diselenggarakan di bangsa ini?. Lalu mengapa pula masih harus peduli dan membahas ekonomi kerakyatan?
Disisi lain, munculnya konsep ekonomi kerakyatan tidak lepas dari latar belakang kepentingan Kolonial pada saat itu. Upaya yang dilakukan oleh pelaku atau pendiri bangsa ini untuk mengamanatkan sistem ekonomi kerakyatan ke dalam konstitusi tidak mudah. Pihak kolonial telah mengagalkan berkali-kali untuk penyelenggarakan sistem ekonomi kerakyatan. Berdasarkan tindakan-tindakan kolonial tersebut dapat kita pahami bahwa telah terjadi sebuah transisi dari kolonialisasi menuju neokolonialisasi. Salah satu Dampak yang bisa dirasakan oleh masyarakat saat ini adalah utang luar negeri pemerintah semakin membesar.
Manifesto Ekonomi Kerakyatan sebuah buku yang menarik dan memberikan makna serta kontribusi lebih. Buku yang tentunya memberikan banyak inspirasi dan masukan untuk membuat terobosan-terobosan dalam penyelenggaraan ekonomi kerakyatan. Tinggal bagaiman bagi pelaku ekonomi atau pengambil kebijkan khususnya pemerintah secara nyata dan konsisten menjalankan kegiatan
perekonomian .
Kristianus Hiktaop, Fransiskus Kasipmabin (mahasiswa USD)
Catatan: Resensi Ini Pernah Muat di Media Massa Kolom Kolom Pustaka BERNAS Yogyakarta, pada hari Selasa 12 Januari 2010. ( sudah)
CERPEN
PANGGIL AKU PAK KUSUT
(Semacam Surat Buat Anak)
Malampun menjalang ketika kenanggan seperti dirimu seperti menyergap bersama hari yang kian menggelap, kenangan tentang sinar dari sepasan matamu yang membuatku berdebar. Kemudian tiap kali aku meneyendiri debaran-debaran itu seperti berbisik dan mendorongku untuk mendekatkan perasaan ini padamu. Betapa desiran itu seperti meyakinkan aku bahwa kamu sedang melambaikan tangan menantiku. Dan akhirnya aku berhasil membuatku menambatkan perasaanmu padaku. Sejak saat itu selalu ada rasa bahagia yang mengisi rongga perasaanku. Sampailah aku pada saat ini dimana hari-hari ku lalui tampa bisa menatap sinar matamu itu. Kita telah berjanji untuk saling merindukan lalu saling kita merelakan masin –masin dari kita untuk menuntaskan rasa penasaran kita akan hidup. Entalah kapan kita akan ketemu lagi. Sepertinya kamu telah berubah banyak .
O ya, pertemuan kita yang terakhir sangat membahagiakanku. Tapi sekaligus mengendapkan perasaan senang di benakku. Rongga perasaanku sama sekali tidak berkurang, tapi justru bertambah. Kini terdapat sebuah rongga kosong dalam perasaanku dan aku tidak mampu menjelaskannya dengan isi kepalaku yang koson ini. Waktu itu aku berhasil mengumpulkan uang dari hasil kerjaku sebagai pembela kayu bakar lalu dijual aku nekat mencari di kota yang engkau berada. Rupa-rupanya kamu tak pernah lagi memakai baju-baju lamamu lagi. Kini nyaris semua pakaianmu berwarna cerah. Ya, secara kehidupan yang kita harap-harapkan. Waktu itu kamu keliatan cukup bahagia keadaanmu dan benda-benda yang berasil kamu miliki sekarang. Syukurlah.
Tapi seingatku, dan menurut perasaanku ,tak ada yang berubah dari diriku. Mungkin karena aku keras kepala. Atau karena sifatku yang tidak supel ini . Tapi yakinlah perubahan itu sama sekali tidak menghapus perasaanku dan kenanggan tentang sinar matamu itu.
Tapi sudahlah, rasanya mengenangmu begitu saja tidak cukup. Aku inggin menuliskannya pada secarik kertas ini. Mungking suatu saat aku akan mengirimkanya padamu. Mungkin hanya akan ku simpan sebagai penghibur diri sendiri saja. Dan yang pasti sebagai pengobat kesediaanku padamu. Ketinggalan jaman.
Kini rasa-rasanya mereka memaksa kita untuk membeli benda berbentuk kotak dengan sebuah layar dan tombol,tombol dibawahnya, dan kebiasaan bersurat itu terpaksa kita lupakan dan kita gantikan dengan sms ( oh…ya, sebenarnya aku tahu kepanjangan dari sms tapi aku tak perna mau mengucapkanya. Lidaku ini yang selalu berat untuk mengucapkan. Aku rindu waktu lalu, ketika natal anak mengirimkan kartu ucapan selamat natal. Dari guratan tipis dan rapi tulisan anak, ayahmu susa baca tetapi,segera saja terbayang lentik jemari anak.
Kemudian ketika malam dengan perasaan bahagia yang membongkar rongga dada,aku tak bisa tidur. Anak aku akan kembali waktu-waktu lalu. Ketika rindu, kita akan mencuri waktu, lalu bertemu. Dan dengan posisi duduk berseberangan kita akan saling mencuri pandang. Kita sama-sama merasa di rongga dada pada saat mata kita saling beradu. Tapi kini rasa-rasanya mereka sepertinya memaksa kita untuk menumpakakan rindu itu melalui alat yang terhubung dengan kabel.
Aku agak lupa nama alat itu, tapi kalau tidak salah ujunya ada bunyi pon, pon atau apa itu (he…..he….anak aku jadi inggat cedepon. Perlu anak tahu , aku merasa lega ketika berbicara dengan anak mengunakan alat itu dari jauh. Aku jadi inggat ketika waktu kecil dulu, aku sering mengajari anak membut jerat, berburu, dan membuat musik tradisional dengan mengunakan kalen,kaleng bekas dengan seutas benang yang kami curi dari lacinya mamamu itu.
Anak aku seperti orang mono, menatap jam dindin yang tak perna berbutar terbalik itu belum lagi kebinggunganku perubahanku seperti selaput pemisah antara kini dan masa laluku yang indah, kini kita haru relah membiarkan mulut kita mengganga ketika kita di rayu oleh banting kerja dan berburu. Susah paya untuk mengingat istilah selamat,makan ,minum. Anak aku susah paya mengingat istilah makan ,selamat,minum, itu biar tidak salah tulis dan aku masih binggun membacanya.
Sebenarnya, aku lebih suka memasak dan melati warga sekitarnya, dengan masakan yang aroma dan sedap dirasa ( mungkin, kapan-kapan aku ajar anak untuk cara memasak yang enak rasanya itu……….). Anak, sebenarnya saya inggin tahu perasaanmu tentang semua ini. Apaka anak merasakan apa yang aku rasakan? Aku seperti terbanggun dari mimpi. Tiba-tiba saja semua berubah. Enta mulai dari kapan. Sepertinya ada kekuatan, entah apakah itu, ( tetapi aku yakin itu bukan kekuatan dari langit), yang memaksa kita untuk merubah kebiasaan kita. Kebiasaan yang kita membut kita bahagia dan dekat .
Kekuatan itu tidak datang tampa berkirim surat terlebih dulu. Tampa mengajak kita untuk bertemu dan rembulan agar kita mengubah kebiasaan kita secara ikhlas. Anak ketika aku menolak perubahan itu tiba-tiba saja mereka bilang aku mas kusut, tetapi sebenarnya aku bahagia mengingat kusuf dan tede itu. Tetapi aku tak tahu apakah mereka bahagia? Anak, jika perasaan anak sama dengan yang aku rasakan mungkin kita tidak usah ikut-ikutan. Kita lanjutkan kebiasaan yang dulu itu.
Anak, sebelum ungkapan perasaanku ini aku akhiri, dari jauh aku ingin mengajak anak mengingat masa lalu kita yang menyenangkan. Sebenarnya aku relah dipanggil kusuf dan tede. Dari pada melepaskan kebiasaan kita itu. Kebiasaan yang tidak hanya menghanggatkan dan membahagiakan kita dua, tetapi kebiasaan itu juga membuat kita berbahagia dengan kerabat dan tetangga- tetangga yang kita cintai. Oh ya, jika sewaktu-waktu anak meminta aku melupakan pikiranku yang tida membahagiakan ini. Perluh anak tahu, aku melakukanya hanya untuk anak. Bukan untuk mereka yang memaksa kita berubah dengan alat-alat yang mereka sebut modern dan dengan toko-toko yang harganya dibanting itu bukan kerabatku, bukan pulah tetanggaku. Aku yakin! Karena seperti anak tahu, tetanggaku seperti juga aku masih hidup apa adanya ini.
Oleh Yulius Pekei (Mahasiswa PBSID,FKIP, Universitas Sanata Dharma)
Catatan: ….
FABEL ( Cerita Binatang )
KUS – KUS DAN UDANG
Di sebuah telaga di daerah suku mee papua, hiduplah kuskus, karena mengingat kesunyianya sendiri maka kus-kus pun bersahabat dengan seekor udang. Persahabatan tersebut sangatlah kuat.
Pada suatu hari si udang jatuh sakit. Badannya sangat lemah. Dengan setianya si kus-kus menunggui temannya itu. Sudah beberapa hari si udang tidak enak makan. Maka si kus-kus berusaha mengajaknya. Namun si udang hanya mau makan kalau diberi makan hati kura-kura.
Mendengar permintaan si udang, Si kus-kus menjadi sangat sedih. Sulit sekali memenuhi permintaan sahabatnya itu. Kura-kura adalah hewan yang sangat ganas, kuat dan dibungkusi tubuhnya berupa batu, hanya hidup di tempat- tempat tertentu itu. Namun akhirnya ia memutuskan juga untuk mencarikannya.
Maka iapun meloncat-loncat dari pohon ke pohon hingga sampai ke sebuah pohon yang batangnya menjorok ke danau. Dengan perlahan si kus-kus melobangi sebutir biji jambu . Setelah itu, iapun masuk ke dalam biji tersebut itu. Dari dalam biji itu ia masih dapat menggerogoti tangkai buah jambu itu.
Tak lama kemudian buah jambu itu sudah terlepas dari tangkainya dan tercebur ke danau itu. Ombak danau itu sangat besar, sehingga dalam waktu tidak lama, buah jambuh itu sudah berada ditengah laut danau itu. Tiba-tiba datanglah seekor kura-kura besar. Dengan segera ia menelan buah jambu tersebut tampa mengunya langsung menyelang bulat-bulat. Setelah kus-kus itu berada di dalam perutnya kura-kura, si kus-kus itu memulai mengigit hatinya kura-kura itu. Kura-kura itu menggelepar-gelepar menuju pinggir danau. Sesampainya di pinggir danau, kura-kura tersebut itu sudah kehabisan tenaga dan akhirnya mati.
Dengan senang hati si kus-kus itu membawa hati kura-kura itu untuk sahabatnya. Dengan ajaibnya setelah memakan hati kura-kura, Si udang menjadi sembuh total. Ia meloncat-loncat dengan gembiranya. Ia pun berjanji akan menolong si kus-kus kalau ia sakit di hari kemudian.
Oleh Yulius Pekei Mahasiswa PBSID,FKIP, USD.
Catatan: .............
MELESTARIKAN NILAI POSITIP PERANG SUKU
Suku Dani yang berada di Wamena Papua sangat dikenal oleh mancanegara karena suku ini memiliki beberapa kebiasaan yang khas. Salah satu adalah kebiasaan mereka dengan perang suku. Mereka mengenal dua bentuk perang yaitu perang intern konfederasi dan perang antar konfederasi. Setiap kali ada perang suku antara 2 kelompok selalu saja mengakibatkan korban nyawa dan harta. Secara adat perang suku itu dapat dihentikan oleh Kepala Suku bila korban nyawa dari dua kelompok itu seimbang. Jikalau korban nyawa dari dua kelompok tidak seimbang maka perang terus berlanjut dalam waktu yang relatif lama.
Setelah adanya pengaruh luar dari Gereja dan Pemerintah mulai sejak tahun 1959, maka dari kedua pihak ini sangat membatasi bahkan melarang agar suku Dani memberhentikan kebiasaan perang suku . Larangan ini bertujuan untuk mengamankan daerah sehingga masyarakat hidup dalam damai dan pembangunan berlangsung dalam suasana kondusif.
Orang suku Dani lebih diarahkan untuk terlibat dalam kegiatan-kegiatan pembangunan baik dari pihak Gereja maupun dari Pemerintah. Keterlibatan mereka dalam pembangunan itu mau diarahkan agar mereka tidak ketinggalan dari daerah-daerah lainnya di Papua atau di Indonesia.
Beberapa saat belakangan ini Gereja maupun Pemerintah telah sukses menyadarkan masyarakat Suku Dani agar mereka semakin melihat dan memahami apa nilai positip dari perang suku. Melalui musyawarah yang diadakan oleh kedua pihak dengan tokoh-tokoh masyarakat ternyata diketemukan sejumlah hal positip dari kebiasaan perang suku ini.
Beberapa nilai positip antara lain:
Mereka sangat kreatif untuk membuat alat-alat perang (Busur, Anak Panah,Tombak) yang sangat variatif. Mereka dapat menciptakan hiasan-hiasan khusus yang dipakai pada saat perang, seperti hiasan di kepala, di dada, di muka, di tangan. Hiasan ini mengandung nilai seni maupun nilai religius dan keamanan.
Mereka dapat menciptakan strategi-strategi perang yang tepat dalam menghadapi musuh. Dari sisi positip mereka sudah terbiasa untuk menghadapi tantangan dan selalu ada solusi untuk menghadapi berbagai tantangan dari luar.
Mereka memiliki semangat juang yang tinggi terhadap berbagai tantangan sehingga mereka lebih aktip dalam pembangunan.
Mereka ditanamkan rasa keberanian , harga diri serta percaya diri dalam menghadapi berbagai tantangan pada zaman modern.Mereka dapat menciptakan lagu-lagu yang sesuai dengan suasana perasaan saat itu. Mereka membina semangat kebersamaan diantara kelompok.Mereka dapat menari-nari dengan gerakan-gerakan kombinasi kreatif yang memukau penonton terutama yang menyaksikan pada event-event tertentu lebih khusus saat perayaan HUT RI.
Tampilan permainan perang-perangan ini menjadi sumber income bagi mereka dan bagi devisa daerah/negara melalui para tourist mancanegara yang berkunjung ke Wamena sebagai salah satu kota tourist di Indonesia.
Mereka membina hubungan yang harmonis dengan roh-roh leluhur yang melindungi mereka dalam hidup sehari-hari termasuk ketika perang sebagaimana yang dilakonkan dalam permainan perang-perangan.
Mengingat ada sejumlah nilai positip di atas maka Pemerintah dan Gereja serta Masyarakat telah bersepakat untuk melestarikan kebiasaan nilai Perang Suku ini sebagai salah satu jenis Olahraga Tradisional Suku Dani. Tujuan utama melestarikan nilai-nilai budaya sekaligus olahraga yang memberikan kontribusi pada warga masyarakat terlebih khusus bagi generasi muda dan mendatangkan devisa negara melalui touristme ke Wamena Indonesia.
Oleh: Yanuarius You (Peserta Lembaga Pelatian Jurnalistik Bernas “LPJB”)
________________________________________________________________________
Catatan: Tulisan ini Pernah Muat di Media Massa Kolom Bebas Bicara BERNAS Yogyakarta, Pada Tanggal 13 Januari 2010. ( SUDAH)
JURNALIS MEMBELA KEADILAN DAN KEBENARAN
Karena Selama ini saya mengetahui tentang jurnalis adalah sosok yang memiliki kemampuan dalam menghargai waktu, memburu informasi, wetch dog, berjiwa umum, membela keadilan dan kebenaran. Selain itu, dalam mengunakan bahasa mudah dipahami dan tersruktur, menjadikan hal yang tida penting menjadi menarik dan sebagainya dengan latar belakan inilah maka saya tertarik menjadi jurnalis.
Yakni menghargai kemampuan waktu adalah
Bersama LPJB di harian BERNAS Yogyakarta saya belajar mengenai teknik menulis berita artikel dan fiksi dan juga pemakaian bahasa media.
Catatan: Tulisan ini Pernah Muat di Media Massa Kolom Bebas Bicara BERNAS Yogyakarta, Pada Hari Jumat 8 Januari 2010.
PEDAGANG KOLAM IKAN
Ibu Siti Mas Amah,54 tahun, Pengelola Kolam Ikan, dari 1998 hingga saat Ini, lembah Selokan mataram, alamat rumah Pugeran Maguoharjo Depok Sleman Yogyakarta.
Ibu yang bewajah ceriah suka senyum ini memiliki skill sebagai petani ikan. Usaha kolam ikan diberi nama Moro Kangen. Moro kangen (rindu datan lagi) adalah nama kolam yang terletak di lembah selokan mataram. Usaha ini dikelola sejak tahun 1998, secara bertahap dari satu kolam hingga kini menjadi sepuluh kolam. Banyak pengunjung ke tempat itu, baik secara pribadi, keluarga, atau kelompok untuk mengadakan rekreasi dengan memancing di kolam atau sekedar menikmati ikan bakar segar.
Penghasilan yang diperoleh Rp 1.000.000- Rp 1.5000/perhari, pada hari minggu pendapatan bisa meningkat sampai Rp 3.000.000;, bahkan lebih dari itu jika pada hari raya atau liburan. Jadi, banyak atau sedikitnya pemasukan sangat bergantung pada banyak-sedikitnya pengunjung. Dari pemasukan ini digunakan untuk biaya sekolah, biaya kuliah dari delapan anak kandung, gaji tujuh karyawan, pengembalian pinjaman dari Dinas Perikanan Kabupaten Sleman, biaya hidup harian serta ditabung dibank untuk pengembangan usaha maupun kepentingan lainnya.
Sebelumnya saya petani pengelola sawah, tetapi sejak itu saya melihat orang jarang menjual ikan tawar di pasaran maka ketika itu saya berinisiatif mengelola kolam ikan, untuk menjualkan kepada masyarakat. Proses pembuatanya Selama pemerataan tanah hingga pembuatan kolam saya tidak membutukan tenaga lain dengan prinsip kalau saya kerja, saya makan dan kalau tidak kerja saya tidak makan. Berdasarkan pemikiran itu maka saya membanting tulang demi mempertahankan kehidupan keluarga.
Kolam yang berjumlah sepuluh kolam, 5 kolam kecil untuk pesanan dan 5 kolam besar untuk pemancingan. Dulunya tangkap ikan-ikan kecil di got tetapi sekarang ikan biasa saya beli di petani ikan di kali sogo kelompok tani ikan. Kolam-kolam ini berisi beberapa jenis ikan yaitu ikan bawal, ikan gurame, ikan mas, ikan lele. Sekarang Tenaga pokok yang bekerja adalah 7 orang dan tenaga sampingangan adalah anaknya sendiri.
Saya pesan,umumnya kepada pengusaha kecil , khususnya kepada ibu-ibu, bahwa jangan takut berusaha, tanpa gelar bisa mendatangkan uang yang penting kita yang buat dengan jujur, tekun, taat pada pekerjaan.
Wawancara: Yulius Pekei dan Yanuaris You.
______________________________________________________________________________
Catatan: Hasil Wawancara dengan Ibu Pedagan Kolam Ikan Pada Tanggal 14 Januari 2010. Pernah Muat Di Media Massa BERNAS Yogyakarta Pada Hari Minggu Tanggal 17 January 2010, Kolom/ Rubrig …..
JAMASAN PUSAKA
Wali Kota H. Herry Zudianto Se, Akt, Mm. Menjamas Pusaka, Dihalaman Kantor Walikota Pada Tanggal 14 Januari 2010, Tepat Puku 09.30.
Tombak pusaka dari Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat Kiyai Wijoyo Mukti yang diserahkan Gubernur Sri Sultan Hamenku Buwono X Kepada Pemerintah Kota ( Wali Kota Yogyakarta R,Widagdo) merupakan senjata yang di buat pada tahun 1921 semasa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono V111. Suro ( Tahun Baru Jawa) tepat jatu pada hari kamis tanggal 14 januari 2010, disimbolkan oleh Wali Kota H. Herry Zudianto SE, AKT, MM. Dihalaman walikota yogyakarta. Jamasan pustaka (membersikan pustaka) terdiri dari 21 kris dan 2 tombak.
Keris diwarnai sebagai sprit keberanian pada pemiliknya lebih pede (sifat kandel), fisiknya adalah senjata untuk menjaga dari musu. Penyucian ini dilakukan oleh pegawai negeri tetapi orang yang apdi dalam kraton yang dianggap mengerti secara teknik menyiapkan diri. Proses pembersianya adalah pertama melihat kondisi karat atau tidak yang karat dibersikan diberi ( Warangan) unsur kimia beracun setelah itu dikirimi minyak lalu keringkan , masukan rongko (kaul) pengerin. Anti kimia fungsinya untuk mengeluarkan untuk anti karat. Ibaratnya adalah mohon kepada Tuhan agar berjalan lancar dalam pekerjaan pemerinta untuk mensejatrakan masyarakat.
Saya dijamas dengan filosofi supaya menghangatkan dan simbolisasi apa yang diharapkan pemerintah ikatan kultur mengingat kembali filosofi yang ada dan sekaligus merawat agar tidak karatan. Kita mengapdi untuk rakyat, kita layani bukan melayani supaya tidak lupa tugas. Secara fisik diawetkan, jd filosofi yang kramat. Saya sebagai pemimpin memberi karakter pondasi yang tumbuh kembangkan, pondasi nilai yang luhur untuk memperkaya anak bangsa agar memperkaya kalakter nasional, tutur wali kota (Drs. Hj. Herry Zudianto, SE; AKT; MM.)
Senjata yang waktu itu biasa dipergunakan oleh para perajurit tersebut, mempunyai panjang keseluruhan 3 meter. Tombak dengan pamor wos wutah wengkon dengan dhapur kudhuping gambir ini, landeanya sepanjang 2,5 meter tersebut dari kayu walikun, yaitu yenis kayu yang sudah lazim digunakan untuk gagan tombak dan sudah teruji baik kekerasannya maupun kelihatanya.
Tombak wijoyo mukti sebelumnya disimpan di bansal prasimosono, dan sebelum diserahkan kepada pemerintah kota yogyakarta, terlebih dahulu telah dijamasi oleh krt. Hastononegoro, diyudonegaran. Adapun pemberian nama “Wijoyo Mukti” baru dilakukan beberapa hari menjalan upaicara penyerahan berlangsung yaitu pada upaicara peringatan hut ke-53 pemerintah kota yogyakarta pada tanggal 7 Juni 2000 dihalaman balai kota dan diikuti oleh prajurit kraton yakni satu “Bregodo Projurit Mantrijero” lengkap dengan pakaian kebesaranya yang mengawal tombak pustaka yang diserahkan.
Kini, tombak pustaka (Kyai Wijoyo Mukti” yang merupakan pustaka kebesaran kota yogyakarta, disemayamkan di ruwang wali kota yogyakarta. Dengan keberadaan tombak pustaka di ruang kerja walikota tersebut, mengisiaratkan adanya pesan pesan luhur/ symbol kekuatan moral bagi pemimpin selalu berusaha memakmurkan rakyatnya yakni kemakmuran yang dinikmati oleh semua warga, seperti yang disiratkan dalam pamor wos wutah wengkon dan dhapur kudhupin gambir. Simbolisasi inis sesuai dengan amanat gubernur diy, bahwa dalam budaya jawa, pusaka adalah lambang budaya berpamor agama. Maknanya, pusaka bukanlah sekedar senajat, apalagi alat.
Pusaka adalah dwitunggal antara logam pilihan anti karat dengan unsur spiritual penciptanya, yang terpancar dari aura pamor-nya. Sehingga tegaknya pusaka Kyai Wijoyo mukti, mensiyaratkan luluhnya pamoring kaula-gusti. Dalam dimensi vertikal, bermakna pasrah diri dan tunduk patuh pada insan kamir ke haribaan sang khaliknya. Dalam dimensi horizontal, mensiaratkan sosok pemimpin yang tampa pamrih bersedia ngaulo, yang siap melayani rakyatnya dalam bentuk public services yang semakin baik yang menghargai harkat dan martabat warganya. Selain itu, tegaknya pusaka membawa pesan terpadu ditegakkan nilai-nilai kehidupan luhur, yakni kebenaran, keindahan dan kebaikan, dalam upaya kita bersama membangun suatu clean government dan good governance, serta masyarakat berbudaya yang sadar akan haknya, namun juga menghormati hak orang lain dan tahu pasti akan kewajibannya sebagai warga masyarakat kota yang baik dan berperadaban.
Keberadaan kyai wijoyo mukti juga melambankan kondisi wijoyo-wijayanti, yakni kemenangan sejati di masa depan, dimana seluruh lapisan rakyat dapat merasakan kamukten atau kesenangan lahir-batin, oleh sebab tercapainya tingkat kesejatraan yang benar- benar merata.
Tombak pusaka yang memiliki dhapur kudhuping gambir, berarti titik awal mulai mekarnya harapan yang membawa keharuman kota dengan segala predikatnya. Sebagai pustaka kebesaran wilaya dengan pamor wos wutah mengkon, sekali lagi merupakan lambang melimpahnya kemakmuran bagi seluruh rakyat dalam wewenkon wilayah kota yogyakarta, mudah-mudahan pusaka merupakan tombak yang melambangkan keperajuritan serta semangat ksatria ini, dapat menjadi inspirasi dalam menata pembangunan lahiriah dan patiniah kota yogyakarta tercinta. Tutur Kabak Humas Dan Imformasi “Herman Edi Sulistiyo, SH.”
Liputan: Yulius Pekei, Yanuarius You Magan LPJB Yogyakart.
Catatan : Liputan Ini Pernah Muat Di Kolom Berita Harian Jogja, Selasa Tanggal 9 Januari 2010/.
GKR HEMAS: TARAKANITA AGAR LEBIH AKTIF CERDASKAN ANAK-ANAK BANGSA ( COMPASSION BASED CREATIVITY )
Yayasan Tarakanita menyelenggarakan Tarakanita Edufair 2010 di Yogyakarta Expo Centre (JEC) pada tanggal 22-24 januari 2010 dan dihadiri dua ribuan siswa/i, ratusan guru-guru serta karyawan dan undangan. Event ini dibuka resmi oleh Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hemas.
Dalam sambutannya, GKR Hemas mengimbau agar Yayasan Tarakanita lebih berperan aktif untuk mncerdaskan anak-anak bangsa sambil mengucapkan terima kasih atas pengabdian Yayasan tarakanita selama ini yang berkarya sebagai mitra pemerintah.
Ketua Penyelenggara Drs. Ant. Ngudisantosa mengemukakan, tujuan kegiatan bertajuk Compassion Based Creativity, ini untuk memperkenalkan kepada masyarakat luas tentang perkembangan Tarakanita, Memacu peningkatan mutu pendidikan Tarakanita dan pendidikan di DIY dan Jateng, Menjalin kerja sama antar lembaga pendidikan dan masyarakat umum yang terkait dengan dunia pendidikan, Memberikan apresiasi kepada siswa berprestasi dengan menampilkan kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa.
kegiatan Tarakanita Edufair selama tiga hari berturut-turut adalah Kegiatan yang diadakan Lomba sains dan Matematika, Lomba kreativitas Daur Ulang, Lomba Chearleadance, Lomba Lukis dan Mewarnai, Lomba Drumband, Lomba Gerak dan lagu, Lomba Family fun Cooking, Lomba Kreativitas Komputer, Lomba Band.
Peserta yang terlibat, sebanyak sembilan sekolah di bawah Yayasan Tarakanita dari tingkat TK sampai SMU, dan hadir pula undang dari sekolah-sekolah setingkat DIY. Ada jenis lomba diikuti oleh perorang/individual tapi ada yang diikuti dalam group. Pemenang diumumkan setelah diadakan lomba. Kepada pemenang diberikan hadiah berupa piala tropi, sertifikat dan uang pembinaan.
Gembira jadi pemenang
Agatha dan dua temannya (Synthia dan Novi) dari SMP Stella Duce/II, mengungkapkan kegembiraan kepada Bernas. ” Kami, bertiga merasa gembira bisa mendapat juara biar juara harapan I dari hasil lomba daur ulang”. ”Ya pak, tadi saya merasa gugup sampai gementaran”, sahut seorang peserta. ”Tapi, pekerjaan membuat tas dari kain sisa bisa selesai dan kamu bisa juara. Ternyata kamu bertiga bisa kan!”, tegas Bernas meneguhkan. ” Ya, kami bisa, sahut Agatha sementara pegang piala trofi.
Valerie, keas V SD Budi Wacana Yogyakarta. dengan dua teman lainnya juga mengikuti Lomba Daur Ulang dari barang pecah belah dan mendapat juara harapan I. Dia mengakui sangat gembira atas kemenangan ini dan anak putri ini mengakui dengan polos dia tidak gugup saat bertanding. ” Biasa aja pak waktu ikut lomba”ujarnya, sahutnya. Ibu Guru Magdalena yang mendampingi anak tersebet mengangguk-angguk sambil tersenyum, dengan mengatakan: ”dia bisa ko pak”.
Ketua II Bapak Haryono , Kepala SMP Stella Duce I. Beliau membenarkan kalau masyarakat di DIY maupun luar DIY sangat berantusias menyekolahkan anak-anak di sekolah-sekolah Tarakanita. ”Tarakanita SMP mendapat. Liputan Yulius Pekei & Yanuarius You
Catatan: Liputan ini Pernah Muat di Rubrik Wacana, BERNAS Yogyakarta Pada Hari Kamis 28 Januari 2010.
- NHN NATAS USD JOGJA Tanggal 16 Maret 20O9
- Harian BERNAS JOGJA Tanggal 8 Januari 2010.
- Harian BERNAS JOGJA Tanggal 12 Januari 2010.
- Harian BERNAS JOGJA Tanggal 14 Januari 2010.
- Harian BERNAS JOGJA Tanggal 15 Januari 2010.
- Harian BERNAS JOGJA Tanggal 17 Januari 2010.
- Harian BERNAS JOGJA Tanggal 25 Januari 2010
- Harian BERNAS JOGJA Tanggal 26 Januari 2010
Sembilan mahasiswa asal papua yang sedang studi di yogyakarta dan salatiga ikut mengikuti pendidikan dan latihan (diklat) jurnalistik bersama lembaga pelatihan jurnalisti BERNAS Yogyakarta (LPJB) Harian bernas yogyakarta, sejak 4 januari hingga 18 februari 2010 ini merupakan kelompok khusus dari papua. Sebelumnya memang sudah ada mahasiswa papua di yogyakarta yang perna belajar di LPJB, Namun masih bersivat individual. Diharapkan kedepan akan ada kelompok lain dari papua yang belajar jurnalistik di lembaga ini.
Pelatihan klasikal teori jurnalistik dilaksanakan di ruang kuliah Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta, Tanggal 4 -9 Januari 2010. Selanjutnya mulai 11 Januari -18 February 2010 menjalani magang wartauwan di harian BERNAS Yogyakarta.
Pemrakarsa pelatian ini adalah Yulius Pekei ( mahasiswa prodi PBSID, FKIP,USD Yogyakarta) dan yanuarius you ( mahasiswa pascasarjana psikologi universitas gaja mada yogyakarta) yang menghubungi pimpinan LPJB untuk meminta pendampingan dalam belajar jurnalistik.
Mahasiswa S2 fakultas ekonomi UGM, A. Gerald Bidana misalnya, dia mengikuti program ini untuk mengembangkan potensi diri dan lebih jauh dapat menuliskan realitas kehidupan masyarakat papua yang perluh dipublikasikan agar orang lain mengetahui apa saja yang dimiliki dan dialami orang papua. Setelah menjalani pendidikan di jawa saya menyadari bahwa menulis akan suatu ide dapat membantu orang keluar dari kebodohan akan pengetahuan diri, lingkungan dan perkembangan iptek. Bahkan keluar dari tekanan mental atau menyehatkan jiwa diri. Jadi menulis itu membebaskan orang” kata beliau.
Menurut bidana, ada sejumlah hambatan pembangunan daerah yang semestinya menjadi perhatian serius pemerintah, lembaga suasta dan LSM di papua yakni ketidak siapan sumberdaya manusia ( SDM ) yang berkualitas baik lewat pendidikan formal yang baik; belum adanya keseriusan pemerintah daerah dalam mendorong lembaga-lembaga ilmiah atau lembaga keagamaan, lembaga kemasyarakatan yang selama ini secara serius menyelengarakan pendidikan kemanusiaan.
Kemudian belum terbangunya hubungan kerja sama dengan lembaga- lembaga yang relevan dan berpengalaman di Indonesia sehinga para pelaku pembangunan pun seringkali tidak mengalai tugas dan tanggung jawabnya itu kepada orang lain; belum adanya industri- industri kerajinan, industri-indusrti kecil lain yang dapat mengakses perekonomian rakyat; belom adanya pasar yang memberdayakan masyarakat; serta letak geografis dan sebagainya.
Beri dorongan
Para narasumber pelatian jurnalistik dalam menyajikan materi selalu memberikan dorongan kepada peserta pelatian agar tidak takut menulis di media massa. Menulis itu bagaikan berenan. Betapapun seringnya seseorang mendengarkan ceramah atau membaca buku tentang berenang, dia tetap tidak akan bisa berenang selama di tidak berani menceburkan diri kedalam renang.
Menulis itu pada dasarnya merupakan karunia tuhan kepada setiap orang. Tugas manusia adalah mempergunakan karunia itu dengan suatu komitmen dari pribadi masing-masing. Kiat semua juga sudah memperoleh karunia menulis dari tuhan asalkan kemudian dikembangkan dengan kemauan yang tinggi.
Di sisi lain, imformasi yang dapat kita peroleh darimana pun dan oleh siapa pun adalah kekuatan. Oaring tampa imformasi tidak dapat hidup sempurna, sehingga wartawan juga harus mengimformasikan hal itu kemedianya masin-masin sesuai fakta atau kenyataan. Artinya bukan pendapat atau kalangan kewartauan sendiri.
Sebuah imformasi dikatakan beriata apa bila memiliki sejumlah unsure didalamnya yang disebut “ nilai berita”, antara lain kebaruan, tepat waktu, kedekatan dengan khlayak, dampak pengaruh pada masyarakat, fantastik, pertentangan.
Pada dasarnya imformasi itu perluh dianalisis. Mengapa? Karena setiap imformasi yang di sampaikan ke masyarakat belum tentu benar. Banyak faktor yang mempengaruhinya, misalnya cara pandang dari berbagai sudut. Analisis berita antara lain dilakukan dengan membaca judul berita. dari judulnya saja kita bisa menduga kemana arah atau orientasi berita itu.
Dalam meliput berita wartauan harus memperatikan formula 5W, 1H yaitu : what, who,when, where,why dan how. Sehingga saat peliputan di lapangan, lima pertanyaan ini dapat di cari jawabanya dari sumber- sumber peristiwa yang mau diliput. Disamping itu wartauan harus melakukan beberapa tugas diaantaranya menemukan peristiwa dan jalan ceritanya; cek, ricek dan tripel cek jalan cerita; memastikan sudut berita dan menentukan lead/intro/pembuka berita.
Kemudian tentang menulis opini/ artikel di media massa cetak dapat dikatakan gampang-gampang susah, karena tergantung orangnya bagaimana dia menjalaninya. Sumber ide atau bahan tulisan bisa datang gampang saja, dimana saja dan situasi apapun. Bahkan dalam kondisi ruang, waktu dan sarana, sangat minim sekalipun. Kiat menulis yang dapat dapat dipertimbangkan antara lain, rajin membuat catatan harian, menulis sesuatu yang baru, mempelajari mkariya orang lain, dan menulis dengan karya yang spesifik.
Oleh ( Farnsiskus Kasipmabin, Ramces Ningamabin, Yanuarius You; Mahasiswa S1 Dan S2 Asal Papua Di Yaogyakarta; Sedan Belajar Jurnalistik Di LPJB)
catatan : Tulisan ini Pernah Dimuat Media Cetak Kolom Wacana BERNAS Yogyakarta Pada Tanggal 8 Januari 2010 (Sudah)
PENGEMUDI KENDARAAN BERMOTOR DIWAJIBKAN MENYALAKAN LAMPU DI SIANG HARI
Penganti Undang-Undang No.14 tahun 1992 tentang lalu lintas, pengemudi kendaraan bermor diwajibkan menyalakan lampu terutama pada siang hari.
Peraturan tersebut menuai pendapat berbeda dari masyarakat, namun ditetapkannya Undang-undang baru. No. 22 Tahun 2009 tentang angkutan jalan, tanggal 22 Juni 2009, maka segala ketentuan dalam Undang-Undang tersebut berlaku secara Nasional.
Dalam salah satu Pasal yakni, pasal 107 Undang-Undang tersebut, diatur tentang kewajiban pengemudi kendaraan bermotor menyalakan lampu pada siang hari, yang dikenal dengan program Safety Riding atau cara aman berkendaraan. Bagi mereka yang tidak menyalakan lampu, akan dikenakan pidana maksimal 15 hari kurungan atau denda 100 ribu rupiah. Hari ke hari semakin membingukan yang mana pendapat ahli / media tentang masalah menyalakan lampu hazard saat hujan lebat di Tabloid OTOMOTIF edisi 01/XIX.
Bukannya tamba jelas, yang ada malah memboroskan aki pada motor, Melanggar undang-undang, karena sudah menyalakan lampu utama sepanjang siang hari maka tidak bisa difungsikan pada malam hari. Selain itu, aturan tersebut hanya menguntungkan pihak-pihak tertentu saja, sedangkan pengendara akan membayar cost yang lebih tinggi untuk kendaraannya.
Antisipasi
Jadi solusi yang tepat adalah memberikan pembekalan dan pemahaman kepada masyarakat melalui sosialisasi dari polres setempat, Supaya masyarakat bisa memahami pengunaan lampu, baik lampu hazard,sein maupun lampu utama.
Oleh: Yulius Pekei (Mahasiswa, PBSID.FKIP, Universitas Sanata Dharama) Yogyakarta.
Catatan: Tulisan ini Pernah Muat di Media Massa Kolom Wacana BERNAS Yogyakarta, Pada Hari Selasa 12 Januari 2010. (Sudah)
PEMBELAJARAN KECERDASAN GANDA ANAK USIA DINI,
QUO VADIS ??
Anak usia dini belajar dengan caranya sendiri. Guru dan orang tua kerap mengajarkan anak sesuai dengan jalan pikiran orang dewasa. Akibatnya apa yang diajarkan orang tua sulit diterima anak. Gejala itu antara lain tampak dari banyaknya hal yang disukai oleh anak, tetapi dilarang oleh orang tua . Sebaliknya, banyak hal yang disukai oleh orang tua tapi tidak disukai anak. Fenomena tersebut membuktikan bahwa sebenarnya jalan pikiran anak berbeda dengan jalan pikiran orang dewasa. Untuk itu, orang tua dan guru perlu memahami hakikat perkembangan anak dan hakikat PAUD agar dapat memberikan pendidikan yang sesuai dengan jalan pikiran anak (suyanto, 2005).
Kendala lain bagi dunia pendidikan adalah masih banyaknya sekolah terlebih khusus PAUD atau prasekolah yang mempunyai pola pikir tradisional di dalam menjalankan proses belajarnya yaitu sekolah hanya menekankan pada kemampuan logika (matematika) dan bahasa. Kenyataan ini senada dengan yang diungkapkan oleh Seto Mulyadi (2003), seorang praktisi pendidikan anak, bahwa suatu kekeliruan yang besar jika setiap kenaikan kelas, prestasi anak didik hanya diukur dari kemampuan matematika dan bahasa. Dengan demikian sistem pendidikan nasional yang mengukur tingkat kecerdasan anak didik yang semata-mata hanya menekankan kemampuan logika dan bahasa perlu direvisi.
Kecerdasan intelektual tidak hanya mencakup dua parameter tersebut di atas, tetapi juga harus dilihat dari aspek kinetis, musiKal, visual-spatial, interpersonal, intrapersonal, dan naturalis . Jenis-jenis kecerdasan intelektual tersebut dikenal dengan sebutan kecerdasan ganda (Multiple Intelligences) yang diperkenalkan oleh Howard Gardner pada tahun 1983.
Gardner mengatakan bahwa kita cenderung hanya menghargai orangorang yang memang ahli di dalam kemampuan logika (matematika) dan bahasa. Kita harus memberikan perhatian yang seimbang terhadap orang-orang yang memiliki berbagai kecerdasan seperti artis, arsitek, musikus, ahli alam, designer, penari, terapis, dan lain-lain.
Sangat disayangkan bahwa saat ini banyak anak-anak yang memiliki talenta , tidak mendapatkan reinforcement di sekolahnya. Banyak sekali anak yang pada saat pola pemikiran mereka yang unik tidak dapat diakomodasi oleh guru-guru di sekolah.
Pihak sekolah hanya menekankan pada kemampuan logika (matematika) dan bahasa. Teori Multiple Intelligences yang menyatakan bahwa kecerdasan meliputi delapan (lebih) kemampuan intelektual. Teori tersebut didasarkan pada pemikiran bahwa kemampuan intelektual yang diukur melalui tes IQ sangatlah terbatas karena tes IQ hanya menekan pada kemampuan logika (matematika) dan bahasa (Gardner, 2003).
Padahal setiap orang mempunyai cara yang unik untuk menyelesaikan persoalan yang dihadapinya. Kecerdasan bukan hanya dilihat dari nilai yang diperoleh seseorang. Kecerdasan merupakan kemampuan yang dimiliki oleh seseorang untuk melihat suatu masalah, lalu menyelesaikan masalah tersebut atau membuat sesuatu yang dapat berguna bagi orang lain.
Pola pemikiran tradisional yang menekankan pada kemampuan logika (matematika) dan bahasa memang sudah mengakar dengan kuat pada diri setiap guru di dalam menjalankan proses belajar. Bahkan, dari hasil penelitian yang dilakukan oleh beberapa pihak, pendidikan Taman Kanak-Kanak saat ini cenderung mengambil porsi Sekolah Dasar. Sekitar 99 persen, Taman Kanak-Kanak mengajarkan membaca, menulis, dan berhitung. Artinya, pendidikan Taman Kanak-Kanak telah menekankan pada kecerdasan akademik, tanpa menyeimbanginya dengan kecerdasan lain. Hal ini berarti pula bahwa sistem pendidikan yang dilaksanakan oleh guru-guru masih tetap mementingkan akan kemampuan logika (matematika) dan bahasa.
Dalam melaksanakan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), guru dan orang tua hendaknya bersinergi guna mengembangkan berbagai jenis kecerdasan, terutama terhadap anak usia dini. Hal ini dimaksudkan agar siswa tidak gagap dalam melaksanakan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Pendidkan anak usia dini kiranya perlu diperkenalkan dengan kecerdasan ganda (Multiple Intelligences). Guru hendaknya tidak terjebak pada kecerdasan logika-matemika semata.
Multiple Intelligences yang mencakup delapan (lebih) kecerdasan itu pada dasarnya merupakan pengembangan dari kecerdasan otak (IQ), kecerdasan emosional (EQ), kecerdasan spiritual (SQ). Semua jenis kecerdasan perlu dirangsang pada diri anak sejak usia dini, mulai dari saat lahir hingga awal memasuki sekolah (7 – 8 tahun).
Kini yang menjadi pertanyaan terbesar, mampukah dan bersediakah setiap insan yang berkecimpung dalam dunia pendidikan mencoba untuk mengubah pola pengajaran tradisional yang hanya menekankan kemampuan logika (matematika) dan bahasa? Bersediakah segenap tenaga kependidikan bekerja sama dengan orang tua bersinergi untuk mengembangkan berbagai jenis kecerdasan pada anak didik mulai dari usia dini di dalam proses belajar yang dilaksanakan di lingkungan lembaga pendidikan formal, non formal dan informal? Yogyakarta, 16 Januari 2010 Oleh Yanuarius You ( UGM )
Catatan: Tulisan ini Pernah Muat di Media Massa Kolom Wacana/opini BERNAS Yogyakarta, Pada Hari Senin 25 Januari 2010. Sudah
Catatan : tulisan Ini Pernah Muat di Media Cetak Kolom wacana BERNAS Yogyakarta Pada Tanggal 9 Januari 2010.
MENGENAL SEJARAH YESUS
Judul Buku : Palungan (Menyingkap Kisah Kelahiran)
Pengarang : Joseph F. Kelly
Penerbit : Kanisius (Anggota IKAPI)
Tebal Buku : 159
Tahun Terbit : 2010
Buku Joseph F. Kelly memusatkan diri pada wilayah yang sanggat sempit dalam kitap suci yakni empat bab dari semua perjanjian baru, masing masing dua bab dari dua Injil (Matius 1-2 dan Lukas 1-2). Tetapi keempat bab yang sanggat berharga tersebut memuat satu-satunya kisah tentang kelahiran Yesus. Parah ahli menyebutnya sebagai kisa masa kanak-kanak.
Berkat pesta natal, kisa kanak-kanak menjadi bagian perjanjian baru yang paling dikenal secara luas, bahkan juga oleh mereka yang senjatanya tidak pernah membaca Injil. Selama masa Adven atau masa Natal, orang yang datang kegereja secara ruting berkali suatu hari mendengar bacaan Injil mengenai bagimana malaikat Gabriel menampakan diri kepada Maria yang tinggal di Nasaret di Wilayah Galilea.
Orang yang penuh peratian akan bertanya, apakah Yusuf dan maria tinggal di Galilea pada saat pemberitahuan tentang kelahiran Yesus ataukah mereka tinggal disana setelah mereka kembali dari mesir? Lebih dari itu orang seperti ini akan bertanya dengan sah mengapa injil tampaknya memuat kisah-kisah kontradiktif. Harapan penulis buku ini akan membantu pembaca yang berminat untuk mengerti kisah-kisa Injil tentang kelahirang Yesus dan menjawab pertanyaan seperti itu. Maka untuk menjawab pertanyaan diatas ini, Pengarang menggunakan penemuan-penemuan paling mustahil para ahli Kitab Suci dan berusaha untuk menampilkan penemuan-penemuan itu dalam sebuah cara yang muda dimengerti.
Buku Palungan ini juga sering mengutip kitab suci sehingga, Pembaca tidak perluh memerlukan Kitab suci, untuk membaca buku ini. Penulis mencantumkan pasal dan Ayat disertai dengan kutipan teks mengangkut sejarah kelahiran yesus. Ditampilkan beberapa hal yang terkandung dalam satu injil atau lebih yang dapat kita dapat histories. Lebih dari itu banyak hal dalam buku ini berasal dari studi pengarang. Jadi Fokus buku ini ada pada pertanyaan-pertanyaan histories dan teologis, dan refleksi pastoral singkat akan mengikuti setiap bagian bab tiga dan empat.
Setelah membaca buku ini, pembaca dapat mengubah cara memandan kelahiran Yesus, dan menemukan pemikiran yang berguna.
YULIUS PEKEI (Mahasiswa PBSID,FKIP,Universitas Sanata Dharma Yogyakarta)
Catatan: Resensi Ini Pernah Muat di Media Cetak Kolom pustaka, BERNAS Yogyakarta Pada Tanggal 26 Januari 2010.
PENAWARAN KESENGSARAAN
Judul Buku : Cinta Bukan Coklat
Penulis : Saras Dewi
Penerbit : Kanisius (Anggota IKPI)
Tebal : 127
Dewasa ini, banyak dijumpai hidupnya bahagia, entah itu dalam karir, relasi, maupun hidup sehari-hari hidup serba kecukupan. Namun, tidak jarang juga banyak orang yang hidupnya runtuh, kacau, tidak percaya diri dan merasa tidak bahagia. Orang merasa bahagia jika dia memahami kekuatan cinta yang terdapat dalam diri mereka. Melalui buku “cinta bukan coklat” penulis dengan bahasa yang mudah dimengerti, meluangkan waktu untuk mencari kembali arti cinta. Cinta memang apa yang diutarakan oleh para filosof dan pujangga.
Cinta adalah suatu suatu enigma atau teka-teki yang begitu pelik untuk dipecakan entah mengapa cinta dihubungkan dengan cokelat?apakah cokelat itu manis lalu disamakan dengan cinta juga manis? Entahlah, yang pasti cinta jauh lebih misterius dibandingkan dengan sebatang cokelat. Sebenarnya cinta itu berbeda dengan cokelat, karena cokelat dibuat denga resep yang tepat. Cinta adalah sesuatu yang kita alami setiap hari, sehingga tidak mudah merumuskannya dengan kata-kata sekalipun kita mempelajari semua teori tentang cinta belum tentu kiat pakar dalam prakteknya.
Pada hari velentine, tepatnya pada tanggal 14 februari setiap orang dari berbagai latar belakang etnis, suku maupun bangsa melakukan ritual yang sama, yaitu merayakan hari kasih sayang. Pada hari yang istimewa itu, setiap orang akan bertukar kado, pergi ketempat romantis dan menikmati candle ligt dinner. Tapi karena kebiasaan ini banyak orang yang sala arti, berpikir bahwa kita tahu tentang cinta dibandingkan dengan pengalaman cinta itu sendiri. Pada hal melalui pengalaman yang sebenarnya, kita baru benar-benar mengerti, apa itu cinta?. Cinta bukan semata-mata seperti sebaris puisi atau tayangan yang kita tontong dibioskop, tetapi arti kata itu sebenarnya adalah upaya, penantian, dan tantangan.
Melihat kehidupan era-globalisasi dan modrenisasi ini, maka Saras Dewi mempunyai visi agar semua orang dapat hidup bersemangat untuk mencari dan menyebarkan cinta dalam hidupnya, cinta juga dapat dikatakan jalan pintas untuk mewujudkan mimpi kita.
Buku ini berisi kearivan dari para guru masa kini yang telah menggunakan cinta untuk mencapai kebahagiaan dan kesejahtraan. Dengan menerapkan pengetahuan tentang cinta, anda akan mendapatkan sesuatu yang positif. Buku ini mengangkat kisah-kisah menarik tentang penyembuhan penyakit, perolehan kekayaan, mengatasi hambatan dan mencapi hal-hal yang mustahil dan dilampirkan denga bacaan inspirasional serta gambar-gambar. Dalam buku ini juga seorang guru besar Jaso Mras dalam lagunya berj berujar “ jangan pernah lupakan, hiduplah untuk cinta kasih. Jangan pernah menyerah dan patah semangat dalam mencintai hidupmu. Kalau ingin menemukan titik terang tentang cinta tengoklah buku ini.
YULIUS PEKEI (Mahasiswa PBSID,FKIP,Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.
Catatan : Resensi Ini pernah muat di Media Cetak PERS NATAS USD Yogyakarta edisi april – mei 2009.
KESIMPANGSIURAN EKONOMI KERAKYATAN
Judul Buku : Manifesto Ekonomi Kerakyatan
Penghimpun : Revrisond Baswir
Penerbit : Pustaka Pelajar,Yogyakarta.
Tahun terbit : 2009
Tebal Buku : 162
Perkembangan perekonomian Indonesia secara umum dan membandingkan dengan sistem ekonomi yang diletakan oleh para pendiri negara Republik Indonesia ternyata menampakan gejala-gejala yang berbeda. Sistem ekonomi Indonesia adalah sebagaimana dirumuskan oleh Bung Hatta dengan menyatakan bahwa “Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas kekeluargaan”, dengan menganggap koperasi sebagai soko guru perekonomian nasional. Rumusan tersebut telah damandemen kedalam undang-undang dasar 1945 pasal 33 dan pasal 27 ayat 2 sebagai dasar hukum peran negara dalam penyelenggaraan sistem ekonomi kerakyatan.
Situasi turbulensi seperti saat ini, Indonesia menghadapi tekanan dari berbagai agenda terutama program-program yang ditawarkan dari neolibral maupun perdagangan bebas. Sebagai bentuk perlawanannya, perlu memerdayakan perekonomian rakyat. Ekonomi rakyat saat ini dibincangkan dimana-manana baik itu media masa maupun bukan media masa. Namun perbincangan tersebut masih terjadi kesalahpahaman anatara pelaku dan para pengambil kebijakan.
Maka penerbitan buku ini, sebagai upaya nyata untuk memberikan penjelasan atau memberikan solusi bagi pihak yang berkepentingan untuk memahami dan meluruskan kembali kesalah pahaman yang terjadi dalam mengartikan ekonomi rakyat. Langkah konkrit seperti ini terus dilakukan. Penulis sendiri mengakui bahwa perbincangan ekonomi kerakyatan ternyata masih sering terjadi disalah pahami. Kesalahpahaman terjadi dalam tiga hal.
Pertama, ekonomi rakyat cenderung dipahami sebagai gagsan baru dalam pentas ekonomi-politik Indonesia,. Kedua, ekonomi kerakyatan diperbincangkan tanpa mengaitkan secara lansung dengan cita-cita proklamasi dan amanat konstitusi. Ketiga, ekonomi kerakyatan cenderung dimaknai secara tumpang tindih dengan ekonomi rakyat dan ekonomi pro rakyat.
Untuk memperjelas tumpang tindih yang terjadi. Melalui buku ini penulis meletakan dasar-dasar pengertian, substansi ekonomi kerakyatan, tantangan, dan urgensi dengan harapan kesimpangsiuran mengenai ekonomi kerakyatan dapat dihentikan. Kemudian ekonomi kerakyatan dapat maju selangkah memasuki tahap penyelenggaraannya.
Dalam kenyataannya para pengamat ekonomi. Khususnya pengamat ekonomi neoliberal sering meragukan. Dan meraka tidak yakin untuk menerapkannya dalam peluang yang ada. Sikap keraguan seperti ini ekonomi kerakyatan dianggap sebagai suatu pemikiran yang tidak realistis. Jika demikian apakah ekonomi kerakyatan bisa diselenggarakan di bangsa ini?. Lalu mengapa pula masih harus peduli dan membahas ekonomi kerakyatan?
Disisi lain, munculnya konsep ekonomi kerakyatan tidak lepas dari latar belakang kepentingan Kolonial pada saat itu. Upaya yang dilakukan oleh pelaku atau pendiri bangsa ini untuk mengamanatkan sistem ekonomi kerakyatan ke dalam konstitusi tidak mudah. Pihak kolonial telah mengagalkan berkali-kali untuk penyelenggarakan sistem ekonomi kerakyatan. Berdasarkan tindakan-tindakan kolonial tersebut dapat kita pahami bahwa telah terjadi sebuah transisi dari kolonialisasi menuju neokolonialisasi. Salah satu Dampak yang bisa dirasakan oleh masyarakat saat ini adalah utang luar negeri pemerintah semakin membesar.
Manifesto Ekonomi Kerakyatan sebuah buku yang menarik dan memberikan makna serta kontribusi lebih. Buku yang tentunya memberikan banyak inspirasi dan masukan untuk membuat terobosan-terobosan dalam penyelenggaraan ekonomi kerakyatan. Tinggal bagaiman bagi pelaku ekonomi atau pengambil kebijkan khususnya pemerintah secara nyata dan konsisten menjalankan kegiatan
perekonomian .
Kristianus Hiktaop, Fransiskus Kasipmabin (mahasiswa USD)
Catatan: Resensi Ini Pernah Muat di Media Massa Kolom Kolom Pustaka BERNAS Yogyakarta, pada hari Selasa 12 Januari 2010. ( sudah)
CERPEN
PANGGIL AKU PAK KUSUT
(Semacam Surat Buat Anak)
Malampun menjalang ketika kenanggan seperti dirimu seperti menyergap bersama hari yang kian menggelap, kenangan tentang sinar dari sepasan matamu yang membuatku berdebar. Kemudian tiap kali aku meneyendiri debaran-debaran itu seperti berbisik dan mendorongku untuk mendekatkan perasaan ini padamu. Betapa desiran itu seperti meyakinkan aku bahwa kamu sedang melambaikan tangan menantiku. Dan akhirnya aku berhasil membuatku menambatkan perasaanmu padaku. Sejak saat itu selalu ada rasa bahagia yang mengisi rongga perasaanku. Sampailah aku pada saat ini dimana hari-hari ku lalui tampa bisa menatap sinar matamu itu. Kita telah berjanji untuk saling merindukan lalu saling kita merelakan masin –masin dari kita untuk menuntaskan rasa penasaran kita akan hidup. Entalah kapan kita akan ketemu lagi. Sepertinya kamu telah berubah banyak .
O ya, pertemuan kita yang terakhir sangat membahagiakanku. Tapi sekaligus mengendapkan perasaan senang di benakku. Rongga perasaanku sama sekali tidak berkurang, tapi justru bertambah. Kini terdapat sebuah rongga kosong dalam perasaanku dan aku tidak mampu menjelaskannya dengan isi kepalaku yang koson ini. Waktu itu aku berhasil mengumpulkan uang dari hasil kerjaku sebagai pembela kayu bakar lalu dijual aku nekat mencari di kota yang engkau berada. Rupa-rupanya kamu tak pernah lagi memakai baju-baju lamamu lagi. Kini nyaris semua pakaianmu berwarna cerah. Ya, secara kehidupan yang kita harap-harapkan. Waktu itu kamu keliatan cukup bahagia keadaanmu dan benda-benda yang berasil kamu miliki sekarang. Syukurlah.
Tapi seingatku, dan menurut perasaanku ,tak ada yang berubah dari diriku. Mungkin karena aku keras kepala. Atau karena sifatku yang tidak supel ini . Tapi yakinlah perubahan itu sama sekali tidak menghapus perasaanku dan kenanggan tentang sinar matamu itu.
Tapi sudahlah, rasanya mengenangmu begitu saja tidak cukup. Aku inggin menuliskannya pada secarik kertas ini. Mungking suatu saat aku akan mengirimkanya padamu. Mungkin hanya akan ku simpan sebagai penghibur diri sendiri saja. Dan yang pasti sebagai pengobat kesediaanku padamu. Ketinggalan jaman.
Kini rasa-rasanya mereka memaksa kita untuk membeli benda berbentuk kotak dengan sebuah layar dan tombol,tombol dibawahnya, dan kebiasaan bersurat itu terpaksa kita lupakan dan kita gantikan dengan sms ( oh…ya, sebenarnya aku tahu kepanjangan dari sms tapi aku tak perna mau mengucapkanya. Lidaku ini yang selalu berat untuk mengucapkan. Aku rindu waktu lalu, ketika natal anak mengirimkan kartu ucapan selamat natal. Dari guratan tipis dan rapi tulisan anak, ayahmu susa baca tetapi,segera saja terbayang lentik jemari anak.
Kemudian ketika malam dengan perasaan bahagia yang membongkar rongga dada,aku tak bisa tidur. Anak aku akan kembali waktu-waktu lalu. Ketika rindu, kita akan mencuri waktu, lalu bertemu. Dan dengan posisi duduk berseberangan kita akan saling mencuri pandang. Kita sama-sama merasa di rongga dada pada saat mata kita saling beradu. Tapi kini rasa-rasanya mereka sepertinya memaksa kita untuk menumpakakan rindu itu melalui alat yang terhubung dengan kabel.
Aku agak lupa nama alat itu, tapi kalau tidak salah ujunya ada bunyi pon, pon atau apa itu (he…..he….anak aku jadi inggat cedepon. Perlu anak tahu , aku merasa lega ketika berbicara dengan anak mengunakan alat itu dari jauh. Aku jadi inggat ketika waktu kecil dulu, aku sering mengajari anak membut jerat, berburu, dan membuat musik tradisional dengan mengunakan kalen,kaleng bekas dengan seutas benang yang kami curi dari lacinya mamamu itu.
Anak aku seperti orang mono, menatap jam dindin yang tak perna berbutar terbalik itu belum lagi kebinggunganku perubahanku seperti selaput pemisah antara kini dan masa laluku yang indah, kini kita haru relah membiarkan mulut kita mengganga ketika kita di rayu oleh banting kerja dan berburu. Susah paya untuk mengingat istilah selamat,makan ,minum. Anak aku susah paya mengingat istilah makan ,selamat,minum, itu biar tidak salah tulis dan aku masih binggun membacanya.
Sebenarnya, aku lebih suka memasak dan melati warga sekitarnya, dengan masakan yang aroma dan sedap dirasa ( mungkin, kapan-kapan aku ajar anak untuk cara memasak yang enak rasanya itu……….). Anak, sebenarnya saya inggin tahu perasaanmu tentang semua ini. Apaka anak merasakan apa yang aku rasakan? Aku seperti terbanggun dari mimpi. Tiba-tiba saja semua berubah. Enta mulai dari kapan. Sepertinya ada kekuatan, entah apakah itu, ( tetapi aku yakin itu bukan kekuatan dari langit), yang memaksa kita untuk merubah kebiasaan kita. Kebiasaan yang kita membut kita bahagia dan dekat .
Kekuatan itu tidak datang tampa berkirim surat terlebih dulu. Tampa mengajak kita untuk bertemu dan rembulan agar kita mengubah kebiasaan kita secara ikhlas. Anak ketika aku menolak perubahan itu tiba-tiba saja mereka bilang aku mas kusut, tetapi sebenarnya aku bahagia mengingat kusuf dan tede itu. Tetapi aku tak tahu apakah mereka bahagia? Anak, jika perasaan anak sama dengan yang aku rasakan mungkin kita tidak usah ikut-ikutan. Kita lanjutkan kebiasaan yang dulu itu.
Anak, sebelum ungkapan perasaanku ini aku akhiri, dari jauh aku ingin mengajak anak mengingat masa lalu kita yang menyenangkan. Sebenarnya aku relah dipanggil kusuf dan tede. Dari pada melepaskan kebiasaan kita itu. Kebiasaan yang tidak hanya menghanggatkan dan membahagiakan kita dua, tetapi kebiasaan itu juga membuat kita berbahagia dengan kerabat dan tetangga- tetangga yang kita cintai. Oh ya, jika sewaktu-waktu anak meminta aku melupakan pikiranku yang tida membahagiakan ini. Perluh anak tahu, aku melakukanya hanya untuk anak. Bukan untuk mereka yang memaksa kita berubah dengan alat-alat yang mereka sebut modern dan dengan toko-toko yang harganya dibanting itu bukan kerabatku, bukan pulah tetanggaku. Aku yakin! Karena seperti anak tahu, tetanggaku seperti juga aku masih hidup apa adanya ini.
Oleh Yulius Pekei (Mahasiswa PBSID,FKIP, Universitas Sanata Dharma)
Catatan: ….
FABEL ( Cerita Binatang )
KUS – KUS DAN UDANG
Di sebuah telaga di daerah suku mee papua, hiduplah kuskus, karena mengingat kesunyianya sendiri maka kus-kus pun bersahabat dengan seekor udang. Persahabatan tersebut sangatlah kuat.
Pada suatu hari si udang jatuh sakit. Badannya sangat lemah. Dengan setianya si kus-kus menunggui temannya itu. Sudah beberapa hari si udang tidak enak makan. Maka si kus-kus berusaha mengajaknya. Namun si udang hanya mau makan kalau diberi makan hati kura-kura.
Mendengar permintaan si udang, Si kus-kus menjadi sangat sedih. Sulit sekali memenuhi permintaan sahabatnya itu. Kura-kura adalah hewan yang sangat ganas, kuat dan dibungkusi tubuhnya berupa batu, hanya hidup di tempat- tempat tertentu itu. Namun akhirnya ia memutuskan juga untuk mencarikannya.
Maka iapun meloncat-loncat dari pohon ke pohon hingga sampai ke sebuah pohon yang batangnya menjorok ke danau. Dengan perlahan si kus-kus melobangi sebutir biji jambu . Setelah itu, iapun masuk ke dalam biji tersebut itu. Dari dalam biji itu ia masih dapat menggerogoti tangkai buah jambu itu.
Tak lama kemudian buah jambu itu sudah terlepas dari tangkainya dan tercebur ke danau itu. Ombak danau itu sangat besar, sehingga dalam waktu tidak lama, buah jambuh itu sudah berada ditengah laut danau itu. Tiba-tiba datanglah seekor kura-kura besar. Dengan segera ia menelan buah jambu tersebut tampa mengunya langsung menyelang bulat-bulat. Setelah kus-kus itu berada di dalam perutnya kura-kura, si kus-kus itu memulai mengigit hatinya kura-kura itu. Kura-kura itu menggelepar-gelepar menuju pinggir danau. Sesampainya di pinggir danau, kura-kura tersebut itu sudah kehabisan tenaga dan akhirnya mati.
Dengan senang hati si kus-kus itu membawa hati kura-kura itu untuk sahabatnya. Dengan ajaibnya setelah memakan hati kura-kura, Si udang menjadi sembuh total. Ia meloncat-loncat dengan gembiranya. Ia pun berjanji akan menolong si kus-kus kalau ia sakit di hari kemudian.
Oleh Yulius Pekei Mahasiswa PBSID,FKIP, USD.
Catatan: .............
MELESTARIKAN NILAI POSITIP PERANG SUKU
Suku Dani yang berada di Wamena Papua sangat dikenal oleh mancanegara karena suku ini memiliki beberapa kebiasaan yang khas. Salah satu adalah kebiasaan mereka dengan perang suku. Mereka mengenal dua bentuk perang yaitu perang intern konfederasi dan perang antar konfederasi. Setiap kali ada perang suku antara 2 kelompok selalu saja mengakibatkan korban nyawa dan harta. Secara adat perang suku itu dapat dihentikan oleh Kepala Suku bila korban nyawa dari dua kelompok itu seimbang. Jikalau korban nyawa dari dua kelompok tidak seimbang maka perang terus berlanjut dalam waktu yang relatif lama.
Setelah adanya pengaruh luar dari Gereja dan Pemerintah mulai sejak tahun 1959, maka dari kedua pihak ini sangat membatasi bahkan melarang agar suku Dani memberhentikan kebiasaan perang suku . Larangan ini bertujuan untuk mengamankan daerah sehingga masyarakat hidup dalam damai dan pembangunan berlangsung dalam suasana kondusif.
Orang suku Dani lebih diarahkan untuk terlibat dalam kegiatan-kegiatan pembangunan baik dari pihak Gereja maupun dari Pemerintah. Keterlibatan mereka dalam pembangunan itu mau diarahkan agar mereka tidak ketinggalan dari daerah-daerah lainnya di Papua atau di Indonesia.
Beberapa saat belakangan ini Gereja maupun Pemerintah telah sukses menyadarkan masyarakat Suku Dani agar mereka semakin melihat dan memahami apa nilai positip dari perang suku. Melalui musyawarah yang diadakan oleh kedua pihak dengan tokoh-tokoh masyarakat ternyata diketemukan sejumlah hal positip dari kebiasaan perang suku ini.
Beberapa nilai positip antara lain:
Mereka sangat kreatif untuk membuat alat-alat perang (Busur, Anak Panah,Tombak) yang sangat variatif. Mereka dapat menciptakan hiasan-hiasan khusus yang dipakai pada saat perang, seperti hiasan di kepala, di dada, di muka, di tangan. Hiasan ini mengandung nilai seni maupun nilai religius dan keamanan.
Mereka dapat menciptakan strategi-strategi perang yang tepat dalam menghadapi musuh. Dari sisi positip mereka sudah terbiasa untuk menghadapi tantangan dan selalu ada solusi untuk menghadapi berbagai tantangan dari luar.
Mereka memiliki semangat juang yang tinggi terhadap berbagai tantangan sehingga mereka lebih aktip dalam pembangunan.
Mereka ditanamkan rasa keberanian , harga diri serta percaya diri dalam menghadapi berbagai tantangan pada zaman modern.Mereka dapat menciptakan lagu-lagu yang sesuai dengan suasana perasaan saat itu. Mereka membina semangat kebersamaan diantara kelompok.Mereka dapat menari-nari dengan gerakan-gerakan kombinasi kreatif yang memukau penonton terutama yang menyaksikan pada event-event tertentu lebih khusus saat perayaan HUT RI.
Tampilan permainan perang-perangan ini menjadi sumber income bagi mereka dan bagi devisa daerah/negara melalui para tourist mancanegara yang berkunjung ke Wamena sebagai salah satu kota tourist di Indonesia.
Mereka membina hubungan yang harmonis dengan roh-roh leluhur yang melindungi mereka dalam hidup sehari-hari termasuk ketika perang sebagaimana yang dilakonkan dalam permainan perang-perangan.
Mengingat ada sejumlah nilai positip di atas maka Pemerintah dan Gereja serta Masyarakat telah bersepakat untuk melestarikan kebiasaan nilai Perang Suku ini sebagai salah satu jenis Olahraga Tradisional Suku Dani. Tujuan utama melestarikan nilai-nilai budaya sekaligus olahraga yang memberikan kontribusi pada warga masyarakat terlebih khusus bagi generasi muda dan mendatangkan devisa negara melalui touristme ke Wamena Indonesia.
Oleh: Yanuarius You (Peserta Lembaga Pelatian Jurnalistik Bernas “LPJB”)
________________________________________________________________________
Catatan: Tulisan ini Pernah Muat di Media Massa Kolom Bebas Bicara BERNAS Yogyakarta, Pada Tanggal 13 Januari 2010. ( SUDAH)
JURNALIS MEMBELA KEADILAN DAN KEBENARAN
Karena Selama ini saya mengetahui tentang jurnalis adalah sosok yang memiliki kemampuan dalam menghargai waktu, memburu informasi, wetch dog, berjiwa umum, membela keadilan dan kebenaran. Selain itu, dalam mengunakan bahasa mudah dipahami dan tersruktur, menjadikan hal yang tida penting menjadi menarik dan sebagainya dengan latar belakan inilah maka saya tertarik menjadi jurnalis.
Yakni menghargai kemampuan waktu adalah
Bersama LPJB di harian BERNAS Yogyakarta saya belajar mengenai teknik menulis berita artikel dan fiksi dan juga pemakaian bahasa media.
Catatan: Tulisan ini Pernah Muat di Media Massa Kolom Bebas Bicara BERNAS Yogyakarta, Pada Hari Jumat 8 Januari 2010.
PEDAGANG KOLAM IKAN
Ibu Siti Mas Amah,54 tahun, Pengelola Kolam Ikan, dari 1998 hingga saat Ini, lembah Selokan mataram, alamat rumah Pugeran Maguoharjo Depok Sleman Yogyakarta.
Ibu yang bewajah ceriah suka senyum ini memiliki skill sebagai petani ikan. Usaha kolam ikan diberi nama Moro Kangen. Moro kangen (rindu datan lagi) adalah nama kolam yang terletak di lembah selokan mataram. Usaha ini dikelola sejak tahun 1998, secara bertahap dari satu kolam hingga kini menjadi sepuluh kolam. Banyak pengunjung ke tempat itu, baik secara pribadi, keluarga, atau kelompok untuk mengadakan rekreasi dengan memancing di kolam atau sekedar menikmati ikan bakar segar.
Penghasilan yang diperoleh Rp 1.000.000- Rp 1.5000/perhari, pada hari minggu pendapatan bisa meningkat sampai Rp 3.000.000;, bahkan lebih dari itu jika pada hari raya atau liburan. Jadi, banyak atau sedikitnya pemasukan sangat bergantung pada banyak-sedikitnya pengunjung. Dari pemasukan ini digunakan untuk biaya sekolah, biaya kuliah dari delapan anak kandung, gaji tujuh karyawan, pengembalian pinjaman dari Dinas Perikanan Kabupaten Sleman, biaya hidup harian serta ditabung dibank untuk pengembangan usaha maupun kepentingan lainnya.
Sebelumnya saya petani pengelola sawah, tetapi sejak itu saya melihat orang jarang menjual ikan tawar di pasaran maka ketika itu saya berinisiatif mengelola kolam ikan, untuk menjualkan kepada masyarakat. Proses pembuatanya Selama pemerataan tanah hingga pembuatan kolam saya tidak membutukan tenaga lain dengan prinsip kalau saya kerja, saya makan dan kalau tidak kerja saya tidak makan. Berdasarkan pemikiran itu maka saya membanting tulang demi mempertahankan kehidupan keluarga.
Kolam yang berjumlah sepuluh kolam, 5 kolam kecil untuk pesanan dan 5 kolam besar untuk pemancingan. Dulunya tangkap ikan-ikan kecil di got tetapi sekarang ikan biasa saya beli di petani ikan di kali sogo kelompok tani ikan. Kolam-kolam ini berisi beberapa jenis ikan yaitu ikan bawal, ikan gurame, ikan mas, ikan lele. Sekarang Tenaga pokok yang bekerja adalah 7 orang dan tenaga sampingangan adalah anaknya sendiri.
Saya pesan,umumnya kepada pengusaha kecil , khususnya kepada ibu-ibu, bahwa jangan takut berusaha, tanpa gelar bisa mendatangkan uang yang penting kita yang buat dengan jujur, tekun, taat pada pekerjaan.
Wawancara: Yulius Pekei dan Yanuaris You.
______________________________________________________________________________
Catatan: Hasil Wawancara dengan Ibu Pedagan Kolam Ikan Pada Tanggal 14 Januari 2010. Pernah Muat Di Media Massa BERNAS Yogyakarta Pada Hari Minggu Tanggal 17 January 2010, Kolom/ Rubrig …..
JAMASAN PUSAKA
Wali Kota H. Herry Zudianto Se, Akt, Mm. Menjamas Pusaka, Dihalaman Kantor Walikota Pada Tanggal 14 Januari 2010, Tepat Puku 09.30.
Tombak pusaka dari Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat Kiyai Wijoyo Mukti yang diserahkan Gubernur Sri Sultan Hamenku Buwono X Kepada Pemerintah Kota ( Wali Kota Yogyakarta R,Widagdo) merupakan senjata yang di buat pada tahun 1921 semasa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono V111. Suro ( Tahun Baru Jawa) tepat jatu pada hari kamis tanggal 14 januari 2010, disimbolkan oleh Wali Kota H. Herry Zudianto SE, AKT, MM. Dihalaman walikota yogyakarta. Jamasan pustaka (membersikan pustaka) terdiri dari 21 kris dan 2 tombak.
Keris diwarnai sebagai sprit keberanian pada pemiliknya lebih pede (sifat kandel), fisiknya adalah senjata untuk menjaga dari musu. Penyucian ini dilakukan oleh pegawai negeri tetapi orang yang apdi dalam kraton yang dianggap mengerti secara teknik menyiapkan diri. Proses pembersianya adalah pertama melihat kondisi karat atau tidak yang karat dibersikan diberi ( Warangan) unsur kimia beracun setelah itu dikirimi minyak lalu keringkan , masukan rongko (kaul) pengerin. Anti kimia fungsinya untuk mengeluarkan untuk anti karat. Ibaratnya adalah mohon kepada Tuhan agar berjalan lancar dalam pekerjaan pemerinta untuk mensejatrakan masyarakat.
Saya dijamas dengan filosofi supaya menghangatkan dan simbolisasi apa yang diharapkan pemerintah ikatan kultur mengingat kembali filosofi yang ada dan sekaligus merawat agar tidak karatan. Kita mengapdi untuk rakyat, kita layani bukan melayani supaya tidak lupa tugas. Secara fisik diawetkan, jd filosofi yang kramat. Saya sebagai pemimpin memberi karakter pondasi yang tumbuh kembangkan, pondasi nilai yang luhur untuk memperkaya anak bangsa agar memperkaya kalakter nasional, tutur wali kota (Drs. Hj. Herry Zudianto, SE; AKT; MM.)
Senjata yang waktu itu biasa dipergunakan oleh para perajurit tersebut, mempunyai panjang keseluruhan 3 meter. Tombak dengan pamor wos wutah wengkon dengan dhapur kudhuping gambir ini, landeanya sepanjang 2,5 meter tersebut dari kayu walikun, yaitu yenis kayu yang sudah lazim digunakan untuk gagan tombak dan sudah teruji baik kekerasannya maupun kelihatanya.
Tombak wijoyo mukti sebelumnya disimpan di bansal prasimosono, dan sebelum diserahkan kepada pemerintah kota yogyakarta, terlebih dahulu telah dijamasi oleh krt. Hastononegoro, diyudonegaran. Adapun pemberian nama “Wijoyo Mukti” baru dilakukan beberapa hari menjalan upaicara penyerahan berlangsung yaitu pada upaicara peringatan hut ke-53 pemerintah kota yogyakarta pada tanggal 7 Juni 2000 dihalaman balai kota dan diikuti oleh prajurit kraton yakni satu “Bregodo Projurit Mantrijero” lengkap dengan pakaian kebesaranya yang mengawal tombak pustaka yang diserahkan.
Kini, tombak pustaka (Kyai Wijoyo Mukti” yang merupakan pustaka kebesaran kota yogyakarta, disemayamkan di ruwang wali kota yogyakarta. Dengan keberadaan tombak pustaka di ruang kerja walikota tersebut, mengisiaratkan adanya pesan pesan luhur/ symbol kekuatan moral bagi pemimpin selalu berusaha memakmurkan rakyatnya yakni kemakmuran yang dinikmati oleh semua warga, seperti yang disiratkan dalam pamor wos wutah wengkon dan dhapur kudhupin gambir. Simbolisasi inis sesuai dengan amanat gubernur diy, bahwa dalam budaya jawa, pusaka adalah lambang budaya berpamor agama. Maknanya, pusaka bukanlah sekedar senajat, apalagi alat.
Pusaka adalah dwitunggal antara logam pilihan anti karat dengan unsur spiritual penciptanya, yang terpancar dari aura pamor-nya. Sehingga tegaknya pusaka Kyai Wijoyo mukti, mensiyaratkan luluhnya pamoring kaula-gusti. Dalam dimensi vertikal, bermakna pasrah diri dan tunduk patuh pada insan kamir ke haribaan sang khaliknya. Dalam dimensi horizontal, mensiaratkan sosok pemimpin yang tampa pamrih bersedia ngaulo, yang siap melayani rakyatnya dalam bentuk public services yang semakin baik yang menghargai harkat dan martabat warganya. Selain itu, tegaknya pusaka membawa pesan terpadu ditegakkan nilai-nilai kehidupan luhur, yakni kebenaran, keindahan dan kebaikan, dalam upaya kita bersama membangun suatu clean government dan good governance, serta masyarakat berbudaya yang sadar akan haknya, namun juga menghormati hak orang lain dan tahu pasti akan kewajibannya sebagai warga masyarakat kota yang baik dan berperadaban.
Keberadaan kyai wijoyo mukti juga melambankan kondisi wijoyo-wijayanti, yakni kemenangan sejati di masa depan, dimana seluruh lapisan rakyat dapat merasakan kamukten atau kesenangan lahir-batin, oleh sebab tercapainya tingkat kesejatraan yang benar- benar merata.
Tombak pusaka yang memiliki dhapur kudhuping gambir, berarti titik awal mulai mekarnya harapan yang membawa keharuman kota dengan segala predikatnya. Sebagai pustaka kebesaran wilaya dengan pamor wos wutah mengkon, sekali lagi merupakan lambang melimpahnya kemakmuran bagi seluruh rakyat dalam wewenkon wilayah kota yogyakarta, mudah-mudahan pusaka merupakan tombak yang melambangkan keperajuritan serta semangat ksatria ini, dapat menjadi inspirasi dalam menata pembangunan lahiriah dan patiniah kota yogyakarta tercinta. Tutur Kabak Humas Dan Imformasi “Herman Edi Sulistiyo, SH.”
Liputan: Yulius Pekei, Yanuarius You Magan LPJB Yogyakart.
Catatan : Liputan Ini Pernah Muat Di Kolom Berita Harian Jogja, Selasa Tanggal 9 Januari 2010/.
GKR HEMAS: TARAKANITA AGAR LEBIH AKTIF CERDASKAN ANAK-ANAK BANGSA ( COMPASSION BASED CREATIVITY )
Yayasan Tarakanita menyelenggarakan Tarakanita Edufair 2010 di Yogyakarta Expo Centre (JEC) pada tanggal 22-24 januari 2010 dan dihadiri dua ribuan siswa/i, ratusan guru-guru serta karyawan dan undangan. Event ini dibuka resmi oleh Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hemas.
Dalam sambutannya, GKR Hemas mengimbau agar Yayasan Tarakanita lebih berperan aktif untuk mncerdaskan anak-anak bangsa sambil mengucapkan terima kasih atas pengabdian Yayasan tarakanita selama ini yang berkarya sebagai mitra pemerintah.
Ketua Penyelenggara Drs. Ant. Ngudisantosa mengemukakan, tujuan kegiatan bertajuk Compassion Based Creativity, ini untuk memperkenalkan kepada masyarakat luas tentang perkembangan Tarakanita, Memacu peningkatan mutu pendidikan Tarakanita dan pendidikan di DIY dan Jateng, Menjalin kerja sama antar lembaga pendidikan dan masyarakat umum yang terkait dengan dunia pendidikan, Memberikan apresiasi kepada siswa berprestasi dengan menampilkan kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa.
kegiatan Tarakanita Edufair selama tiga hari berturut-turut adalah Kegiatan yang diadakan Lomba sains dan Matematika, Lomba kreativitas Daur Ulang, Lomba Chearleadance, Lomba Lukis dan Mewarnai, Lomba Drumband, Lomba Gerak dan lagu, Lomba Family fun Cooking, Lomba Kreativitas Komputer, Lomba Band.
Peserta yang terlibat, sebanyak sembilan sekolah di bawah Yayasan Tarakanita dari tingkat TK sampai SMU, dan hadir pula undang dari sekolah-sekolah setingkat DIY. Ada jenis lomba diikuti oleh perorang/individual tapi ada yang diikuti dalam group. Pemenang diumumkan setelah diadakan lomba. Kepada pemenang diberikan hadiah berupa piala tropi, sertifikat dan uang pembinaan.
Gembira jadi pemenang
Agatha dan dua temannya (Synthia dan Novi) dari SMP Stella Duce/II, mengungkapkan kegembiraan kepada Bernas. ” Kami, bertiga merasa gembira bisa mendapat juara biar juara harapan I dari hasil lomba daur ulang”. ”Ya pak, tadi saya merasa gugup sampai gementaran”, sahut seorang peserta. ”Tapi, pekerjaan membuat tas dari kain sisa bisa selesai dan kamu bisa juara. Ternyata kamu bertiga bisa kan!”, tegas Bernas meneguhkan. ” Ya, kami bisa, sahut Agatha sementara pegang piala trofi.
Valerie, keas V SD Budi Wacana Yogyakarta. dengan dua teman lainnya juga mengikuti Lomba Daur Ulang dari barang pecah belah dan mendapat juara harapan I. Dia mengakui sangat gembira atas kemenangan ini dan anak putri ini mengakui dengan polos dia tidak gugup saat bertanding. ” Biasa aja pak waktu ikut lomba”ujarnya, sahutnya. Ibu Guru Magdalena yang mendampingi anak tersebet mengangguk-angguk sambil tersenyum, dengan mengatakan: ”dia bisa ko pak”.
Ketua II Bapak Haryono , Kepala SMP Stella Duce I. Beliau membenarkan kalau masyarakat di DIY maupun luar DIY sangat berantusias menyekolahkan anak-anak di sekolah-sekolah Tarakanita. ”Tarakanita SMP mendapat. Liputan Yulius Pekei & Yanuarius You
Catatan: Liputan ini Pernah Muat di Rubrik Wacana, BERNAS Yogyakarta Pada Hari Kamis 28 Januari 2010.
- NHN NATAS USD JOGJA Tanggal 16 Maret 20O9
- Harian BERNAS JOGJA Tanggal 8 Januari 2010.
- Harian BERNAS JOGJA Tanggal 12 Januari 2010.
- Harian BERNAS JOGJA Tanggal 14 Januari 2010.
- Harian BERNAS JOGJA Tanggal 15 Januari 2010.
- Harian BERNAS JOGJA Tanggal 17 Januari 2010.
- Harian BERNAS JOGJA Tanggal 25 Januari 2010
- Harian BERNAS JOGJA Tanggal 26 Januari 2010
Langganan:
Postingan (Atom)