Minggu, 05 Desember 2010

“SENDIRIKAH KITA DALAM PENDERITAAN?”

Kini seolah-olah kita kembali ke sejara Simbol-simbol kebudayaan ekonomi dan militer Amerika di hancurkan para pejuan bunu diri yang menunjukan bahwa pada saat ini peradaban dapat di jadikan sasaran terror yang tak terbayangkan. Di sini, nampak manusia yang bertujuan menciptakan penderitaan manusia, menyimbulkan luka-luka yang mematikan terhadap diri sendiri dan terhadap musu yang lain.
Banyak orang memiliki akses yang baik pada perawatan kesehatan dan konsekuensinya, untuk hidupnya lebih panjang, tetapi keadaan seperti ini telah membentuk suatu sikap didalam lingkaran yang memiliki hak istimewa. Rasa sakit dan penderitaan setiap manusia selalu menghantuhi bahkan kematian sendiri dari pandangan sebagai suatu siklus alamiah, dibicarakan nada yang sunyi. Kematian merupakan suatu musuh rahasia yang telah mengambil seseorang secara tiba-tiba. Sekali pun begitu pengalaman kematian sama seringnya dengan pegalaman manusia dilahirkan.
Kini tahun 2010/2011 semakin melonjak menyelang korban di PAPUA mencapai ribuan nyawa, begitu saja mengilang. Andaikan alam ini bernyawa, kita katakan biarkan kami, kami mau hidup kedua kali lagi. Kini, kita bertanya, kemanakah kita pergi dan sandari?. Tanahku tercinta Wasior, Leren Merapi, Mentawai, kini engkau Tidak menyapa seperti yang semula melainkan engkau datang sekejap membawah seribu Harta dan Nyawa begitu sekejap pula hilang.
Penderitaan berada dalam struktur kehidupan kita. Tiada kehidupan rasa sakit emtal, fisik, emosional, enta spritual, begitulah cara kita berada. Kesulitan yang menggangu kita siap dan bertahan mengadapi masalah-masalah yang akan datang kedalam hidup kita tanpa bisa di hindari lagi. Meskipun lebih realitis dan lebih sehat masih meninggalkan pertanyaan bagi kita, mengapa ada penderitaan?, di tempat pertama, bagaimana bisa Allah yang penuh cinta itu membiarkan dunia penderitaan yang tetap ada?. Ada suatu kesepian dalam penderitaan, terasa seperti seolah-olah kitalah yang satu-satunya menderita. Kita merasa orang lain baik-baik saja dan pulah mereka tampak utuh hanya dunia kita sendirilah yang hancur hidup terus berjalan bagi orang lain, hidup kita berhenti.
James Jones penulis buku berjudul Why Do People Suffer?, tampaknya ingin mendedikasikan dirinya untuk membantu kita mengurai fakta dari tiap sakit dan derita kita, setelah itu, kita diajak untuk menemukan makna terdalam dibaliknya, dengan menyertakan pengalang-pegalan ayat dalam alkitab. Dengan inspirasi ini, menyatakan bahwa sakit dan derita adalah jalan agar kita lebih mensyukuri saat-saat bahagia.

Oleh ( Yulius Pekei, Mahasiswa PBSID, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta ).

Loading...

Web_Cams_Travel